Yogyakarta adalahYka 12a sebutan populer masa kini. Yogyakarta juga merupakan nama resmi untuk kota maupun daerah istimewa sejak memasuki masa Indonesia merdeka. Pada waktu itu masa perang kemerdekaan RI. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengabaikan perjanjian politik yang baru saja diperbarui tanggal 13 Maret 1940. Sri Sultan Hamengku Buwana IX bersama Sri Paku Alam VIII dengan sepenuh hati menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sesaat sesudah kumandang proklamasi.

Segera Presiden Soekarno membalas dengan Piagam 19 Agustus 1945. Kebulatan tekad itu dituangkan dalam amanat  Sri Sultan dan Sri Paduka tanggal 5 September dan 30 Oktober 1945. Amanat ini disebar luaskan hingga ke pelosok-pelosok desa di wilayah Kasultanan Ngayogyakarta. Lebih dari itu, Yogyakarta berani mengambil risiko menjadi ibukota Republik Indonesia dari 4 Januari 1946 sampai 17 Desember 1949.

Yka 12bBegitu selesai dilantik menjadi raja, Sultan Hamengku Buwana I terus hijrah ke negerinya sendiri, Ngayogyakarta Hadiningrat. Mula-mula Sultan beserta seluruh kerabat dan pejabat istana singgah di taman Garjitawati atau taman Ayodya yang sedang dibangun kembali sejak setahun sebelumnya. Sambil menanti penyelesaian, Sultan mesanggrah Ambarketawang, sebelah barat tidak jauh dari istana yang sedang dibangun. Di sana Sultan tinggal di tengah-tengah rakyat pendukungnya. Setelah 20 bulan, pembangunan selesai. Sultan memasuki keratonnya sendiri yang baru. Peristiwa itu terjadi pada hari Kamis Pahing, tanggal 13 Sura, wuku Julung wangi, tahun Jawa Jimakir 1682 atau 7 Oktober 1756.

Bangunan keraton Yogyakarta yang sekarang merupakan pembaruan Sultan Hamengku Buwana VII. Awalnya, benteng istana terbuat dari kayu yang diruncingkan ujungnya atau disebut sujen. Di sekelilinginya hutan kecil yang ditumbuhi banyak pohon beringin. Orang menyebutnya alas Pabringan atau Beringan. Di situ juga banyak sumber air, salah satunya adalah Umbul Pacethokan. Diduga sendhang itu cikal bakal  Taman Sari, yaitu salah satu sudut taman keputren keraton yang sisa-sisa keindahannya masih tampak hari ini. Legenda menceritakan sumber air itu awalnya digali dengan cethok sebagai tanda dimulainya pembangunan.

Pohon-pohon yang rindang dan banyaknya air menunjukkan suatu tempat subur untuk tanaman pangan dan tanaman-tanaman penghias lingkungan. Sebuah babad menceritakan pembelokan sungai Winanga untuk keperluan pengairan kota. Kotaraja membutuhkan banyak air, baik untuk kolam-kolam taman segaran  dalam benteng maupun kolam-kolam bagian luar tembok benteng sebagai penguat pertahanan.

Yka 12cKotaraja terdiri dari kawasan di luar benteng keraton dan di dalam benteng istana sebagai pusatnya. Tataruang  kawasan dan bangunan lingkungan luar maupun dalam istana keraton mewujudkan cerminan nyata pemikiran utuh sebuah kerajaan. Rancangan itu lahir dari kedalaman lubuk hati pemrakarsanya yaitu Sultan. Dua kilo meter dari istana di ujung utara jalan protokol didirikan tugu golong-gilig. Tugu setinggi 25 meter ini tegakannya bulat panjang (gilig) dan ujungnya berbentuk bola (golong). Sebutan tugu golong-gilig merupakan lambang pengingat menyatunya tekad rakyat dan raja sejak perjuangan di Sukawati. Apakah bangunan lainnya juga menyimpan makna? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan