wuriyanto 1Yogyakarta (16/09) Pernah pada suatu kesempatan salah satu petinggi PGRI mengatakan bahwa guru yang menjadi penilik adalah guru yang bermasalah. Kontan saja pernyataan itu mendapat komentar pedas dari para kalangan penilik. Dan ternyata memang pernyataan tersebut tidak benar, tengok saja Wuriyanto, S.Pd., MM yang pernah menjadi guru berprestasi di Kabupaten Jepara tahun 2006 memilih menjadi penilik. Sertifikasi dan tunjangan profesi satu kali gaji yang diterima sebagai guru tidak menyurutkan niatnya untuk menjadi penilik PAUDNI, dan akhirnya pada tahun 2012 berhasil menghantarkan dirinya menjadi Juara I Penilik Berprestasi pada Apresiasi PTK PAUDNI Tingkat Nasional.

Wuriyanto yang memiliki filosofi hidup ikhlas tanpa batas, mengawali karier sebagai guru SD Negeri 3 Tempur Keling Jepara tahun (1996-1999), SD Negeri 3 Kelet Keling Jepara  (1999-2005) dan terakhir sebelum menjadi penilik bapak dua anak ini adalah guru SD Negeri 1 Panggang Jepara. Di SD Negeri 1 Panggang Jepara ini pula ia pernah mengantarkan salah satu muridnya Juara pertama tingkat provinsi untuk lomba pembuatan teknologi sederhana dan masuk 10 besar tingkat Nasional pada tahun 2007.

Kemampuan menulis nampaknya sudah ditunjukkan sejak lama, hal ini ditunjukkan dengan pernah menyabet Juara Harapan I Sayembara Penulisan Buku Cerita Bergambar SD-MI Kelas Rendah Tahun 2004 Tingkat Nasional, dengan karya berjudul ” Si Bledug Penyelamat Hutan”.  Prestasi lain yang dapat dibanggakan sebagai insan pendidikan adalah sebagai nominator Education Award Jepara oleh Dewan Pendidikan Jepara Tahun 2008 untuk kategori Perekayasa Pendidikan.

Di tengah gempita penilik teriak menuntut sertifikasi alias tunjangan profesi, justru ada guru berprestasi yang sudah menikmati tunjangan profesi mutasi menjadi penilik. Padahal sudah diketahui bahwa jabatan penilik belum dikenai kebijakan sertifikasi dan tunjangan profesi seperti guru. ”Saya ingin suasana dan tantangan baru” demikian alasan kuat Wuriyanto pindah menjadi penilik. Hal ini sejalan dengan motonya bahwa tugas kita bukan untuk berhasil tetapi tugas kita adalah untuk mencoba dan berupaya karena itulah keberhasilan yang sesungguhnya.

Wuriyanto, suami dari Siti Fatimah seorang pegawai Dinas Cipta Karya Kabupaten Jepara, saat ini sebagai Penilik PAUDNI dan sehari-hari berkantor di UPT Dikpora Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Semasa bertugas sebagai guru ia juga menjadi guru pemandu di KKG (Kelompok Kerja Guru) sejak tahun 2006-2010. Pengalaman lain yang dimiliki adalah sebagai Tim Trainer Pelatihan Sekolah dan Madrasah (SD/MI, SMP/MTs) dalam peningkatan manajemen melalui penguatan tata kelola dan akuntabilitas di sekolah/madrasah tahun 2011untuk 5 kecamatan di Kabupaten Jepara.

Sayang pengurus PGRI tidak melihat kenyataan ini. Dianggapnya jabatan penilik adalah jabatan buangan untuk menampung guru-guru yang bermasalah. Pada saat menjadi penilik pun, Wuriyanto yang menyelesaikan pascasarjana program studi Magister Manajemen tahun 2010 ini terus mengukir prestasi. Prestasi terakhirnya adalah karya tulis berjudul ”PULIR sebuah Metode Pemberdayaan Gugus untuk Meningkatkan Kompetensi PTK PAUD”.

Wuriyanto memandang bahwa salah satu strategi peningkatan mutu PTK PAUD yang telah diberlakukan pemerintah adalah melalui pengembangan Gugus PAUD sebagai wadah untuk meningkatkan profesionalisme PTK PAUD harus diberdayakan. Dan penerapan metode PULIR (terpusat dan bergulir) salah satu solusinya.

Salah satu resep dari Wuriyanto yang dapat dirujuk bagi teman-teman penilik lainnya adalah ”Bekerjalah dengan cara biasa tapi kesungguhannya yang luar biasa”. Luar biasa, memang luar biasa Pak Wuriyanto! Pertanyaannya: ”Adakah pamong belajar yang berprestasi yang siap pindah menjadi penilik?”