AngkringanTengah malam itu (24/2/2012) saya baru tiba di Bandung dalam perjalanan melelahkan dari Yogyakarta via Jakarta. Setelah check in di hotel dan menaruh barang, bergegas keluar karena perut sudah keronconngan. Maklum malam itu saya belum sempat makan malam karena harus berburu dengan waktu dariBandara Soekarno Hatta menuju Bandung. Ditemani kawan saya, Dadang Subagja dan Idak Sudaksi, berjalan ke luar Garden Permata Hotel menyeruak dinginnya malam mencari warung makan. Berjalan kurang dari 100 meter dari timur hotel sontak hidung mencium bau khas, seduhan wedang jahe. Minuman yang saya sukai, apalagi diseduh menjadi teh jahe. Nikmat rasanya. Mak nyuslah!!

Angkringan 2Langkah kaki menuju ke arah warung dimana aroma seduhan wedang jahe berasal. Sampai di warung itu sontak saya kaget. Di depan saya nampak warung yang berkarakter sebagaimana layaknya angkringan di Yogyakarta. Begitu saya mendekat saya semakin yakin jika ini adalah angkringan karena saya melihat ada nasi kucing dengan vairan: nasi kucing telor, nasi kucing teri, nasi kucing tempe dan nasi kucing mie, kemudian layaknya angkringan biasanya ada juga sate bacem ayam, sate bacem telur gemak, sate bacem usus, gorengan tempe, tahu dan sebagainya. Juga tidak lupa tiga ceret yang dipanggang di atas anglo. Lengkap dengan gerobak angkringannya. Wow! Ada angkringan di kota Bandung?!? Sejurus saya mendengar pembicaraan dalam bahasa Jawa di antara pemuda yang jualan di warung itu.

Seduhan MinumLangsung saja kami bertiga semakin mendekat dan duduk di bangku sambil memesan minum teh jahe. Saya memesan dalam bahasa Jawa. Saya ambil dua bungkus nasi kucing dan minta dipanggangkan sate bacem ayam dan usus untuk teman nasi kucing. Kemudian kami pindah duduk di emperan ruko Pro Audio di jalan Surya Sumantri 105 Bandung. Di emperan yang tidak jauh dari gerobak angkringan itu disediakan tikar untuk makan lesehan.

Ternyata dua kawan saya ini belum pernah makan nasi kucing dan merasakan sensasi makan di angkringan. Wah, enak juga ya makan nasi kucing. Pengin lagi, kata Idak Sudaksi di tengah-tengah acara di hotel siang harinya. Akhirnya kami sepakat untuk mengulangi lagi di malam berikutnya.

Walaupun malam itu (25/2/2012) kami sudah makan malam di hotel, namun rasa ingin menikmati lagi suasana angkringan tidak surut. Akhirnya ditingkahi hujan rintik-rintik kami bertiga tengah malam itu keluar hotel kembali berjalan menuju Angkringan Koboi. Ya, Angkringan Koboi begitu tertulis dalam backdrop di latar belakang gerobak angkringan. Wah keren juga angkringan ini. Suasana temaram sebagaimana angkringan di Yogyakarta tetap terjaga, namun ada juga backdrop sebagai tanda identitas angkringan.

IMG0068AMalam itu kami mengulangi menu malam sebelumnya, hanya bedanya Idak Sudaksi memesan jahe susu. Saya dan Dadang Subagja tetap memesan teh jahe. Sambil menyeruput teh jahe ngomong ngalor ngidul dengan beberapa pemuda yang melayani kami. Sambil menunggu sate bacem ayam dipanggang. Sate bacem ayam ini sebenarnya bisa disantap langsung. Tinggal mak lep! kata Wahid salah satu penjaga angkringan ketika ditanya seorang pelanggan yang datang apakah bias langsung dimakan. Tapi saya lebih suka dipanggang kembali agar lebih hangat, sehingga lebih nendang ketika disantap dengan nasi kucing. Dan sudah lazim bahwa angkringan melayani panggang ulang sate yang dilakukan di atas anglo pemanas ceret.

Angkringan Koboi yang terletak di jalan Surya Sumantri 105 di bilangan Setrasari Bandung ini, tepatnya di depan ruko Pro Auido, buka mulai pukul 19.00 sampai 02.00 dinihari. Aneka makanan termasuk nasi kucing bukan merupakan barang titipan (konsinyasi). Berbeda dengan di Yogyakarta warung angkringan lebih banyak modal air alias hanya menyediakan berbagai minuman panas. Sedangkan aneka makanan yang dijajakan sudah ada suppliernya. Di Bandung Angkringan Koboi memasak atau bikin sendiri aneka makanan termasuk nasi kucingnya.

Ternyata Angkringan Koboi ini dikelola oleh seorang perantau dari Purwodadi bernama Bambang (32 tahun). Pria lajang ini siang harinya adalah konsultan pada biro teknik arsitek. Sejak tahun 2008 dia merintis usaha angkringan, dan saat ini memiliki dua counter. Sebenarnya saya punya tiga pak, tapi yang satu sudah saya jual. Ungkap lulusan Teknik Sipil UII ini. Untuk mengelola usaha angkringan ini Bambang dibantu oleh enam orang yang berasal dari Klaten, Kartosuro, dan Yogyakarta. Merekalah yang menyiapkan nasi kucing dan aneka makanan pada siang hari. Pada malam hari mereka menjadi penyeduh minuman, pencuci gelas dan piring dan kasir.

Wahid, yang nampaknya bertindak sebagai kasir, juga seorang karyawan kantoran pada siang harinya. Bahkan dia saat ini sedang melanjutkan studi S1 Teknik Informatika di salah satu peguruan tinggi swasta di Bandung. Lulusan Poltekpos ini juga sudah sejak 2008 merantau di Bandung dan kemudian bergabung dengan Angkringan Koboi.

Sebenarnya membuka usaha angkringan di Bandung ini penuh tantangan pak. Karena kondisi iklim yang beda dengan di Yogya, disini khan dingin. Malam hari tidak banyak orang yang keluar malam. Bandung di siang hari itu padatnya bukan main, begitu lepas malam sepi. ungkap Bambang. Pada awal merintis usaha memang berat menantang kondisi sosiologis ini. Namun seiring dengan berjalan waktu akhirnya Angkringan Koboi mendapatkan pelanggan yang rata-rata adalah kaum muda. Seperti malam ini ada tiga kelompok anak muda yang menikmati nasi kucing dan minuman hangat di teras ruko dan kami bertiga di gerobak angkringan. Omset penjualan, menurut Bambang, tiap malam tidak kurang dari Rp. 1,5 juta untuk satu konter saja. Angka yang cukup lumayan.

Nah, jika Anda sedang berkunjung di Bandung dan rindu dengan suasana angkringan ala Yogyakarta singgahlah ke Angkringan Koboi. Tidak perlu jauh-jauh ke Yogyakarta untuk menikmati suasana khas angkringan ditingkahi dinginnya udara malam kota Bandung.