Ini cerita lama yang tercecer, belum pernah diposting. Namun esensi cerita masih up to date.

Diksetara di Imogiri aSore itu, Jumat 9 Januari 2009, di sebuah warung angkringan di pinggir dusun Nogosari 2, Wukirsari Imogiri Bantul (kurang lebih 18 km selatan kota Yogyakarta) saya ditanya seseorang Pak kapan ada pendaftaran program Kejar Paket C?. Anak muda itu mengajukan pertanyaan itu karena tahu saya sedang ke desanya dengan mobil kelas berjalan pendidikan kesetaraan dalam rangka kegiatan Kejar Paket B. Kemudian, pemuda yang ternyata bernama Subarno itu, saya ketahui pernah duduk di bangku STM namun hanya sampai kelas 2 dan masih ingin menyelesaikan pendidikan. Sejurus kemudian saya mendapatkan informasi dari Subarno bahwa di desa ini banyak sekali anak muda seperti dia, putus sekolah menengah atau lulus SMP tetapi tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah.

Lantas saya terkesima, karena kesan pertama saya memasuki dusun ini adalah bahwa dusun ini merupakan daerah yang relatif makmur. Kemakmuran dusun yang terletak di sebelah timur laut makam Raja-Raja Mataram (termasuk makam Sri Sultan Hamengkubuwono IX) dapat dilihat dari bangunan rumah yang relatif baik untuk ukuran desa dan dengan gaya arsitektur modern, di samping itu banyak remaja yang sore itu nampak lalu lalang dengan menggunakan sepeda motor keluaran terbaru. Kondisi tersebut ditunjang karena wilayah itu merupakan sentra kerajinan wayang dan asesoris kerajinan sungging kulit lainnya.

Ketika saya kembali ke tempat kegiatan kelas berjalan, yang merupakan program diversifikasi pendidikan kesetaraan, saya menemui Bapak Walidi salah seorang tutor yang sehari-hari menjadi Kepala SD. Dari penjelasan Bapak Walidi diperoleh informasi bahwa memang betul masih banyak warga masyarakat yang belum mencapai pendidikan menengah, dan usianya di antara 20 sampai dengan 30-an tahun. Ada kurang lebih 200 orang. Bahkan sekarang beliau sedang mengupayakan untuk meraih alokasi dana untuk mereka melalui program Paket C.

Kemudian pandangan saya berpaling ke dalam kelas yang sedang berlangsung proses pembelajaran program diversifikasi kelas berjalan Paket B, dimana sebagian besar warga belajarnya adalah ibu-ibu. Menilik cara berpakaian dan gaya berbicara sebagian dari mereka itu, saya agak kurang percaya jika mereka hanya menyelesaikan pendidikan sampai SD. Lantas saya selidiki usia mereka dari identitas 20 orang warga belajar, sebagian besar kelahiran tahun 1960-an dan 1970-an. Hanya ada satu orang kelahiran tahun 1986 atau 1980-an. Artinya tidak ada satupun warga belajar yang masuk kategori usia wajib belajar. Rata-rata mereka sekarang ini berstatus sebagai orang tua dan memiliki anak usia sekolah.

Saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa para orang tua warga belajar yang sekarang mengikuti program Paket B memiliki aspirasi pendidikan yang rendah. Orang tua mereka berpandangan bahwa sekolah sampai SD sudah cukup kemudian anak mereka menjadi pengrajin wayang kulit atau dikenal juga dengan tatah sungging wayang. Pendapatan sebagai pengrajin dirasakan sudah cukup untuk menghidupi sehingga mereka merasa tidak perlu lagi meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun demikian, nampaknya anak-anak para warga belajar yang sudah menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, minimal SMP dan ada sebagian dari mereka yang menempuh pendidikan menengah.

Hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa faktor ekonomi bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Kenyataan di atas menunjukkan bahwa faktor aspirasi pendidikan orang tua merupakan faktor penentu tingkat pendidikan generasi berikutnya.

Karenanya, pada proses pembelajaran Paket B juga diberikan pemberian pemahaman tentang pendidikan sebagai kebutuhan dasar mereka. Minimal jenjang pendidikan dasar yang merupakan kewajiban bagi setiap warga negara. Upaya tersebut harus dilakukan secara terus menerus dan menggunakan berbagai forum.