Anis IlahiOleh Anis Ilahi

“Wani ngalah luhur wekasane” merupakan pepatah jawa yang bermakna “berani mengalah, akan mulia di kemudian hari”. Sebagian besar anak-anak rakyat jelata yang berlatar masyarakat jawa sangat akrab dengan pepatah ini, karena si bapak dan si embok (ayah bundanya) senantiasa menyampaikan pepatah itu dengan takzim, bahkan sesekali sambil mengusap kepala penuh kasih setiap kali putra/putri tercintanya mengalami kekalahan demi kekalahan dalam hidup dan kehidupannya.

mijildhenokhastutiRealitas kehidupan anak-anak rakyat jelata di masyarakat jawa sangatlah akrab dengan “kekalahan demi kekalahan” baik karena faktor kemiskinan, peminggiran budaya, keterbatasan akses pendidikan, ketidakadilan relasi sosial antara tuan dan buruh, represi kekuasaan politik (relasi yang timpang antara penguasa dan kawulo alit) bahkan juga tafsir agama yang dominatif yang menempatkan “si lebih” di atas “si kurang”.

Namun pada kenyataannya pepatah “wani ngalah luhur wekasane” yang motivatif, relegius dan inspiratif itu ternyata justru memberikan “daya juang, daya dorong dan energi positip” bagi anak-anak rakyat jelata untuk “berjuang tiada lelah di jalan kekalahan demi kekalahan, waktu demi waktu, sambil meyakini bahwa pada saatnya kemenangan akan tiba”.

Pepatah itupun seperti setengah doa, karena “kemenangan” yang diraih oleh anak-anak rakyat jelata itu, pada akhinrya mampu menjadi kemenangan yang begitu kokoh baik dari aspek moralitas (tidak menghalakan segala cara), aspek etis (menjaga kemenangan dari sikap ingkar terhadap kebenaran), aspek relegiusitas (kemenangan adalah buah ikhtiar manusia yang diridloi Tuhan) maupun aspek sosial (kemenangan adalah jalan untuk memuliakan bukan mengeksploitasi sesama). Kemenangan yang indah.

Kenyataan juga menunjukan bahwa sejumlah tokoh dan pemimpin negeri ini dari berbagai bidang yang prestasinya membanggakan justru lebih banyak lahir dari kalangan rakyat jelata ini, lahir dari kultur “wani ngalah luhur wekasane”, kultur yang memberikan jalan pemaknaan bahwa kemenangan bagian tak terpisahkan dari kekalahan dan kekalahan bagian tak terpisahkan dari kemenangan, semua hanya soal waktu dan takdir. Simpel. Substantif.

Sebaliknya ada kecenderungan anak-anak kaum elit atau anak-anak kaum priyayi yang hidup dalam kemanjaan justru lebih banyak mengenal kata dan menemui suasana “menang”. Kalah tidak ada dalam kamus hidupnya. Apapun jalannya, bagaimanapun prosesnya yang penting adalah “menang”, sehingga ketika “kalah” mereka gagap menyikapinya. Kekalahan mereka maknai bukan karena kelemahan diri sendiri sehingga menjadi ruang introspeksi dan “berdialog” dengan Tuhan, namun kekalahan justru dimaknai sebagai sebuah akibat dari kenakalan, ketidakadilan serta keculasan orang lain dan mungkun juga kerena “kenakalan” Tuhan pada dirinya. Bagi anak-anak kaum elit kekalahan adalah media menuding langit, menghentak bumi, menyambar angin, mengutuk takdir karena baginya kemenangan adalah hak.

Ketika “kekalahan” dimaknai sebagai akibat “perbuatan orang lain” maka ruang-ruang fitnah akan terbuka lebar. Bisikan setan akan terus menggelora mengarahkan imajinasi, desas desus, syak wasyangka sebagai fakta yang diyakini kebenaran. Otak, tangan dan hati akan terus memproduksi kata, kalimat dan wacana untuk menyalahkan orang lain bahkan pada akhirnya juga menyalahkan Tuhan.

Tuhanku, bukankah kemenangan adalah hak ku. Kenapa aku kalah. Engkau tidak adil. Bukankah aku lebih beriman. Bukankah aku telah menjaga marwah agamamu, Bukankah aku telah membela agamamu. Agamamu sedang terancam di bumi ini dan hanya akulah yan bisa membela, dst …. Mungkin kalimat-kalimat menyalahkan Tuhan semacam itu akan segera bisa kita baca dalam wakti dekat ini. Dan saya yakin Tuhanpun akan tersenyum atas sejumlah tudingan itu. Semoga Tuhan juga memberikan kekuatan pada orang-orang yang telah melakoni kultur “wani ngalah luhur wekasane” untuk terus menebar senyum simpul ditengah badai fitnah. Salam [Anis Ilahi]

*) Anis Ilahi Wahdati adalah mantan Ketua Dewan Kerja Penegak dan Pandega Kwarda XII DIY masa bakti 1997-2001