Wajib Melaksanakan Kelompok Khusus Karena Ciri Khas Pendidikan Kesetaraan

Yogyakarta (12/08/2019) Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan kesetaraan, PKBM atau SKB, sering melupakan muatan kelompok khusus secara matang, padahal ini merupakan salah satu ciri khas pendidikan kesetaraan. Pendididikan kesetaran bukanlah semata-mata pendidikan persamaan, namun bertujuan agar lulusan pendidikan kesetaraan memiliki keberdayaan dan keterampilan sehingga mampu menyesuaikan dengan kehidupan masyarakat dan masuk dunia kerja dunia industri. Karena itulah disamping memberikan materi muatan kurikulum yang bersifat akademik berupa mata pelajaran umum, juga diberikan materi muatan khusus.

Muatan kelompok khusus dalam kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan terdiri dari muatan pemberdayaan dan muatan keterampilan. Kedua muatan tersebut menjadi mata pelajaran pemberdayaan serta mata pelajaran keterampilan wajib dan mata pelajaran keterampilan pilihan. Muatan kelompok khusus memiliki bobot beban belajar 30% SKK dari keseluruhan SKK tiap tingkatan.

Program Kelompok Khusus Pendidikan Kesetaraan

Program muatan pemberdayaan memuat kompetensi untuk menumbuhkan keberdayaan, harga diri, percaya diri, sehingga peserta didik mampu mandiri dan berkreasi dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan keterampilan merupakan memuat pengembangan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik dalam memasuki dunia kerja atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ditinjau dari konsep kecakapan hidup (life skills) muatan pemberdayaan berorientasi mengembangkan soft skills, sedangkan muatan keterampilan berorientasi mengembangkan hard skills atau vocational skills.

Muatan kelompok khusus ini menggantikan mata pelajaran muatan lokal, keterampilan fungsional, pengembangan kepribadian profesional pada kurikulum lama pendidikan kesetaraan. Bahkan memasukkan mata pelajaran kurikulum lama Olahraga, Seni Budaya dan Prakarya menjadi muatan kelompok keterampilan wajib yang masuk kelompok khusus. Jadi jika ditanyakan, “Bagaimana dengan mata pelajaran muatan lokal, misalnya Bahasa Jawa?” Jawabannya adalah dimasukkan dalam muatan kelompok khusus, bisa menjadi muatan Seni Budaya atau pemberdayaan, bergantung dari bentuk muatan kurikulum atau bentuk kegiatannya.

Program Muatan Pemberdayaan

Pemberdayaan berarti memiliki daya atau kuasa untuk bertindak. Adapun maksudnya seseorang yang berdaya adalah memiliki kapasitas untuk bertindak dalam berhubungan dengan orang lain, menjalankan kelembagaan dan atau bekerjasama untuk mencapai sesuatu tujuan.

Program pemberdayaan memiliki dua arti strategis, yaitu sebagai kepemilikan kuasa atau kapasitas bertindak dalam diri subjek, atau sebagai subjek yang mandiri, berdaulat, dengan segala potensi dan kekuatan dimiliki dalam bertindak yang menentukan nasih hidup. Keberdayaan juga bisa diartikan secara strategis sebagai kemampuan atau kapasitas bertindak secara kolektif yang bersifat relasional dalam hubungan dan kerjasama dengan pihak atau orang lain.

Strategi penyelenggaraan program pemberdayaan yang mengedepankan keberdayaan peserta didik atau warga belajar dalam mengatasi masalah dan menjawab tantangan hidup, memasuki dunia kerja dan menumbuhkan kreativitas dan produktivitas kehidupan publik. Kapasitas pemberdayaan akan dikembangkan melalui proses pembelajaran dengan cara diskusi, merumuskan masalah, mengatasi masalah, menyampaikan pendapat dan juga pandangan yang bersifat menggerakkan dalam praktek mengatasi masalah dan menjawab tantangan dalam hidup.

Bentuk pemberdayaan pada pendidikan kesetaraan terdapat tiga bentuk yaitu pemberdayaan individual, pemberdayaan relasional dan pemberdayaan kolektif.

  1. Keberdayaan individual, dalam arti kapasitas individual dalam bertindak diperlukan agar peserta didik mampu dan berdaya mengembangkan diri sejalan dengan tngkat perkembangannya dan kemajuan berlangsung di masyarakat. Muatan pemberdayaan ini diberikan baik dalam bentuk penguatan kapasitas diri maupun kemampuan mengenali struktur sekitar yang menghambat pengembangan diri dan sekaligus yang memberi peluang bagaimana menggunakannya, khususnya menggunakan kelembagaan yang ada, bagi penguatan-penguatan kapasitas dalam pengembangan diri.
  2. Keberdayaan relasional, diperlukan untuk berkontribusi pada masyarakat sekitar dan dunia kerja. Keberdayaan dalam arti kapasitas bertindak secara relasional ini ditentukan bukan hanya oleh pribadi atau individu peserta didik, tetapi secara kontigen atau terbuka ditentukan oleh momentum berlangsungnya relasi atau hubungan sosial sebagai hasil dari tindakan kolektif.
  3. Keberdayaan kolektif, bisa diartikan sebagai kemampuan membentuk keduanya, baik mengembangkan diri maupun secara kolektif dalam artinya yang progresif. Dalam praktek pemberdayaan ini ditekankan pembentukan diri sekaligus struktur atau kelembagaan melalui proses emansipasi dalam kepemimpinan kelompok.

Adapun tujuan pemberdayaan adalah:

  1. Memiliki keberdayaan untuk mengatasi masalah
  2. Peserta didik memiliki kemandirian dalam pengembangan diri untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi yang dihadapi dalam kehidupannya.
  3. Memiliki keberdayaan untuk pengembangan kreativitas
  4. Peserta didik mampu menumbuhkan keberdayaan kreativitas dalam mencipta solusi yang mendorong kemajuan masyarakat. Memulihkan integritas kepribadian, mengembangkan identitas kewargaan dan kewarganegaraan, dan menumbuhkan nasionalisme sebagai warga negara Indonesia.

Program Muatan Keterampilan

Seperti sudah dijelaskan di awal tulisan, bahwa muatan keterampilan memuat pengembangan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik dalam memasuki dunia kerja atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Program muatan keterampilan terdiri dari keterampilan wajib dan keterampilan pilihan. Muatan keterampilan wajib berisi Seni dan Budaya, Pendidikan Olah Raga dan Rekreasi, Prakarya. Sedangkan muatan keterampilan pilihan berisi keterampilan vokasional yang dipilih peserta didik sesuai potensi, kebutuhan, kearifan lokal dan karakteristik peserta didik.

Keterampilan wajib dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan umum (generic skills) dan membentuk karakter peserta didik memiliki rasa seni dan budaya, sehat jasmani dan rohani, sportif, serta memiliki kecakapan okupasional dan vokasional dalam memenuhi kebutuhan dan kemandirian, serta untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan keterampilan pilihan merupakan pendalaman kompetensi yang menuntut kemampuan intelektual dan keahlian (generic skills dan vokasional) dengan persyaratan prosedur, standar dan kriteria tertentu atau spesifik dalam melaksanakan suatu tugas, pekerjaan, atau profesi dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai modal dasar memasuki dunia usaha dan dunia industri.

Muatan keterampilan pada pendidikan kesetaraan merupakan upaya dalam memberikan keterampilan vokasi, terutama pada keterampilan pilihan. Oleh karena itulah pemilihan muatan keterampilan memperhatikan variasi potensi sumber daya daerah yang ada, kebutuhan peserta didik dan peluang kesempatan kerja yang tersedia.

Pendidikan kesetaraan program Paket A dan Paket B, jenis keterampilan pilihan yang dipilih diutamakan yang non sertifikasi atau tidak harus dilakukan uji kompetensi, dan dilaksanakan oleh penyelenggara secara mandiri untuk mendukung pekerjaan atau profesi peserta didik sehari-hari. Sedangkan pada program Paket C, peserta didik dapat memilih jenis keterampilan pilihan yang diuji kompetensi ataupun keterampilan yang tidak dilakukan uji kompetensi.

Tujuan program muatan keterampilan adalah agar peserta didik, terutama usia produktif, memiliki keterampilan atau kecakapan hidup untuk mandiri dan tampil sebagai warga yang aktif dan berkonstribusi bagi masyarakatnya. Muatan keterampilan berfungsi untuk menguatkan (reinforcement) kreativitas dan produktivitas yang telah menyatu dan berkembang pada diri peserta didik melalui pembelajaran kecakapan hidup. Lulusan pendidikan kesetaraan diharapkan setelah lulus di samping memiliki ijazah setara pendidikan formal juga memiliki keterampilan vokasi yang dapat digunakan untuk bekerja atau memenuhi kehidupan sehari-hari.

Membedakan Muatan Pemberdayaan dan Muatan Keterampilan

Seringkali dalam merancang muatan pemberdayaan ditemukan kerancuan dengan muatan keterampilan. Prinsipnya muatan pemberdayaan bersifat soft skills sedangkan keterampilan cenderung hard skills atau vocational skills. Namun demikian muatan pemberdayaan bisa melengkapi muatan keterampilan.

Misalnya pada keterampilan pilihan ditetapkan Tata Boga pada Paket C Tingkatan 5 Setara Kelas X, maka dapat dikembangkan materi kewirausahaan sebagai muatan pemberdayaan. Materi kewirausahaan diberikan untuk melengkapi keterampilan Tata Boga agar setelah menguasai keterampilan Tata Boga peserta didik dapat melakukan pengembangan usaha. Demikian pula pada jenis muatan keterampilan pilihan lainnya.

Muatan pemberdayaan bisa juga berdiri sendiri tidak terkait langsung dengan muatan keterampilan. Untuk mengembangkan muatan pemberdayaan, kata kunci yang harus dipegang adalah muatan ini ditujukan untuk penguatan kapasitas diri dan atau pengembangan diri agar mampu menyesuaikan dalam kehidupan di masyarakat. Oleh karena itu bisa dikembangkan muatan yang nampaknya sepele, namun sangat dibutuhkan. Misalnya pengembangan kompetensi berorganisasi di masyarakat (latihan dasar kepemimpinan), keterampilan berdiskusi (untuk rapat RT, dasa wisma dan lain-lain), out bond, outing class dan masih banyak lagi.

Jika muatan pemberdayaan yang dirancang cenderung pada keterampilan yang sifatnya vokasi maka dimasukkan dalam muatan keterampilan wajib atau keterampilan pilihan. Untuk mengetahui bagaimana cara merancang program mata pelajaran Pemberdayaan, Keterampilan Wajib dan Keterampilan Pilihan akan diulas pada tulisan berikutnya. [fauziep]

1 tanggapan pada “Wajib Melaksanakan Kelompok Khusus Karena Ciri Khas Pendidikan Kesetaraan”

Tinggalkan Balasan