Anis Ilahi WOleh Anis Ilahi Wahdati

Pada awal tahun pelajaran ini pada 6000 lebih sekolah telah mulai “diujicobakan” kurikulum tahun 2013. Salah satu tema menarik dalam kurikulum baru ini adalah diwajibkannya pramuka sebagai salah satu kegiatan sekolah. Keputusan ini memang pro kontra dan bisa didiskusikan berpanjang-panjang manfaat dan mudaratnya. Namun demikian Karena keputusan sudah diambil, akan lebih bijak apabila pembicaraan mulai difokuskan pada upaya mencari jalan keluar agar keberadaan “wajib pramuka” di sekolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tulisan ini mencoba memberikan urun rembug tentang hal itu.

Kepramukaan Sebagai Pembentuk Lingkungan Belajar

Proses pembelajaran membutuhkan lingkungan pembelajaran ideal yang kurang lebih harus nyaman,  partisipatif dan edukatif agar setiap peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal baik potensi kognitif, afektif maupun psikomotorik. Sistem pendidikan Gerakan Pramuka atau kepramukaan sejatinya memiliki kekuatan untuk membentuk lingkungan belajar yang ideal tersebut.

Kekuatan pendidikan kepramukaan terletak pada cirinya sebagai pendidikan:  nonformal, berlangsung di alam terbuka, belajar sambil bermain, belajar dalam kelompok (sistem beregu), memfasilitasi perbedaan individual untuk menempuh kompetensi berdasar Syarat Kecakapan Umum dan Khusus (SKK dan TKK),  serta mengutamakan terbentuknya pola interaksi belajar antar kawan dan antar peserta didik dengan Pembina berdasar pada nilai-nilai kode kehormatan Pramuka (Satya dan Darma).

Pada tahap awal penerapan “wajib pramuka” di sekolah harus didahuli dengan melakukan exercises berbagai kekuatan di atas untuk menjamin terbentuknya lingkungan belajar yang khas pramuka. Jika ini mampu dilakukan maka aka dapat dirumuskan pembeda antara “pelajaran pramuka” dan “pelajaran  lain” di sekolah.

Lokalitas sebagai Fokus Materi

Setelah terbentuknya lingkungan belajar yang khas pramuka, maka tugas berikutnya adalah memberikan muatan materi apa yang akan diberikan pada kegiatan “wajib pramuka” di sekolah.  Pada tahap ini sebenarnya setiap sekolah berkesempatan untuk mengembangkan materi berdasar pada kebutuhan dan aspirasi berbasis kearifan lokal. Hal itu terkait dengan substansi pendidikan kepramukaan yang terbuka yang dengan sendirinya terbuka pula pilihan-pilihan materi pendidikan yang dapat dikembangkan.

Sebuah sekolah bisa memfokuskan diri untuk memilih dan mengembangkan materi “wajib pramuka” di sekolah atas dasar kebutuhan dan aspirasi lokal. Tema-tema materi seperti:  pengembangan kepemimpinan,  kewirausahaan, lingkungan hidup,  belanegara, keamanan dan ketertiban masyarakat, pertaninan dan kehutanan,  pendidikan keluarga,  teknologi sederhana, hingga pada materi seni budaya lokal sangat memungkinkan dipilih sebagai muatan belajar “wajib pramuka” di sekolah.

Penting diketahui secara umum Gerakan Pramuka juga telah menyusun panduan materi berbasis kompetensi untuk Pramuka seperti termaktub dalam Syarat Kecakapan Umum dan Syarakat Kecakapan Khusus. Materi ini juga bisa dijadikan referensi.

Keluar dari Kelas Menuju Pojok Sekolah

Pembentukan lingkungan belajar dan pilihan materi yang tepat belumlah lengkap untuk menjadikan “wajib pramuka di sekolah”  sebagaimana layaknya  “pendidikan kepramukaan”.   Pihak sekolah harus berani merancang bahwa seluruh proses belajar “wajib pramuka” tidak boleh dilaksanakan di dalam kelas melainkan harus keluar dari kelas. Konsekuensinya adalah perlunya penyediaan ruang terbuka khusus yang dapat dijadikan sebagai lokasi pendidikan “wajib pramuka”.

Moto keluar dari kelas menuju pojok sekolah harus menjadi semangat penerapan  “wajib pramuka” di sekolah.  Pojok sekolah harus didesan sedemikian rupa menjadi “kelas terbuka”  yang  memungkinkan dapat dilakukannya kegiatan upacara, bermain, bereksperimen, bernyanyi, bertepuktangan, berdiskusi, berdebat, mengolah cipta, rasa dan karya dan berbagai aktivitas khas kepramukaan lainnya dengan mengacu pada pilihan materi yang telah ditetapkan.

Penutup

Jika ketiga aspek di atas mampu terpenuhi maka “wajib pramuka” di sekolah akan memiliki nilai tambah. Para siswa akan memiliki kegembiraan “belajar pramuka” sehingga  yang tertarik untuk mengembangkan lebih lanjut dapat mendaftar menjadi anggota Gugusdepan.  Dengan ini yang terjadi adalah simbiosis mutalisme-interaksi saling menguntungkan dan memberdayakan antara pendidikan sekolah yang formal dan pendidikan kepramukaan yang nonformal. Keuntungan tertingginya adalah “anak-anak bangsa” memperoleh layanan pendidikan yang paripurna yang akan bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsanya. Amin.

Salam Pramuka

Anis Ilahi Wahdati, Direktur PT. Molino Pramuka – Kwarnas Gerakan Pramuka  (Tulisan ini pendapat pribadi).