100_3490Oleh Edi Basuki

Supriyono, guru besar pendidikan luar sekolah (PLS) kelahiran Blitar, dalam postingannya di group Chating PLS IKIP Malang, mengatakan bahwa, “direncanakan tanggal 31 Oktober sd 2 Nopember 2014. Kita gelar event besar. Lima Puluh Tahun (Milad Emas) Jurusan PLS UM/IKIP Malang (1964-2014) bertempat di Kota Malang dan kampus tercinta. Rincian acaranya kurang lebih: tanggal 31 Oktober konvensi dan workshop melibatan dosen jurusan PLS se Indonesia membahas tentang kurikulum, tanggal 1 Oktober Seminar Nasional PLS, dan tanggal 2 Nopember Reuni Akbar semua angkatan. Pasti Seru, ada acara khusus juga menghantar purna tugas dosen kita, tolong dijadwalkan yaaa”.

Wow, tidak menyangka usia jurusan PLS IKIP Malang sudah cukup  “senior”  dengan segala suka dukanya. Sepanjang usia itu, tentu banyak kisah perjalanan penghuninya dalam menapaki karier nasip yang indah untuk dikenang. Kisah cinta dan perjodohan penghuninya pun akan abadi dibenak pelakunya.

Senyatanyalah, diusia setengah abad ini, satu per satu tokohnya yang top markotop itu, mau tidak mau harus menyudahi pengabdiannya, harus menanggalkan jabatan dan status sosial  karena dimakan usia dan pensiun dari hidup dan penghidupannya. Ya, itulah sunatullah yang akan datang tanpa diundang.

Sementara, gedung PLS pun terus di dera gemuruh proyek pemugaran agar semakin cantik. Padahal, gedung lama masih tegar menyimpan nostalgia dengan keklasikannya. Gedungnya tetap kokoh berdiri tanpa diwarnai retak disana sini seperti lazimnya proyek bangunan masa kini. Mengapa bisa begitu?, apakah ini juga termasuk sunatullah?.

Kemudian, pengganti sang tokoh PLS pun kini sudah bermunculan, siap menerima estafet kepemimpinan, tentu dengan membawa ideologi dan metodologi kekinian yang wajib berkompromi dengan ”selera pasar”. Semua harus dilakukan, konon demi kelancaran mendapatkan bermacam bantuan dan aneka hibah. Ya, kampus memang harus tampil trendy dan pandai setor karya untuk mencuri perhatian agar konsumennya tertarik.

Di sisi lain, tak terasa jumlah alumni PLS semakin banyak dengan berbagai ragam profesi dan aktivitas hidup. Ada yang tetap istiqomah hidup di habitatnya sebagai dosen PLS maupun berkutat di lingkungan kemendikbud sebagai pegawai negeri sipil. Tidak sedikit yang sukses menjadi birokrat di instansi lain di luar kemendikbud. Begitu juga banyak yang mengukir keberhasilan di jalur ke-PLS-an, menekuni program-program yang ditebar oleh Ditjen Paudni serta nggarap proyek pemberdayaan masyarakat dari kementerian lain. Mereka ini juga semakin genit memperebutkan berbagai bantuan demi kesejahteraannya yang mengatasnamakan sasaran didiknya.  Apakah ‘kecerdikan’ pengelola PLS ini adalah hasil dari lima tahun kuliah di jurusan PLS?

Alhamdulillah, ilmu PLS ternyata bisa juga kemana-mana tergantung pendekatan individual. Termasuk untuk sekedar menjadi ibu rumah tangga sesuai jargon lama, masak macak lan manak bagi mahasiswi yang tidak memiliki jiwa sebagai wanita karier mengamalkan ilmunya.

Mahasiswanya pun kini terlihat smart dan gaul, ganteng-ganteng, cantik-cantik dan modis. Enak dipandang, bikin sang dosen kerasan di kampus manakala sedang galau lihat istri manyun di rumah.

Ya, tidak seperti dulu, waktu jamanku, dulu jaman itu, masih banyak mahasiswi bebas memamerkan keindahan rambutnya yang megar, hitam berkilau sebahu dan kemulusan betisnya. Ternyata masih kalah dengan mahasiswi sekarang. Walaupun bajunya sudah semakin tertutup semua sesuai ajaran yang syar’I, namun karena asupan gizinya berlebih, maka semuanya tampak lebih menonjol. Ini (mungkin) yang menyebabkan dosennya bergairah melahirkan metode baru dalam teori pembelajarannya.

Hal ini pertanda jurusan PLS sudah menjadi tolehan pelajar yang ingin melanjutkan pendidikannya. Walau, prospek dan proyeksi lapangan kerjanya masih buram seperti dulu. Biasanya, jika ada tanya tentang pekerjaan apa yang cocok setelah menyandang gelar sarjana nonformal, secara normatif akan dijawab bahwa PLS itu tidak mencetak pencari kerja sebagai PNS, tapi menyiapkan mahasiswanya sebagai pencipta lapangan kerja untuk membantu pemerintah memotong panjangnya barisan pengangguran berbasis entrepreuneurship untuk mengisi peluang dunia bisnis kreatif yang masih terbuka lebar.

Lima puluh tahun sudah pengabdianmu menginspirasi komunitas PLS untuk berbagi dan peduli kepada sesama melalui program PLS. sesuai gerak jamannya, PLS pun terus berbenah agar tidak tertinggal, termasuk upaya mengganti jurusan PLS dengan jurusan PNF.

Aturan penyelenggaraan yang luwes kini mulai meniru praktek pendidikan formal untuk distandarkan secara nasional agar sasaran didiknya benar-benar bisa setara dengan pendidikan formal. Untuk itu ada dana besar yang mendukungnya, saying di lapangan belumlah lancar. Praktek PLS di lapangan masih berjalan sesuai selera pengelolanya dalam melayani kebutuhan konsumennya.

Mungkin inilah yang bisa dijadikan salah satu bahasan saat dosen PLS se Indonesia kumpul bareng di kampus IKIP Malang (sekarang UM) mendiskusikan kurikulum sambil menikmati kudapan khas Kota Malang. Selamat bermilad, selamat ber workshop dan selamat reuni antar alumni, semoga jurusan PLS tetap on the track dalam menanamkan ideologi PLS tanpa harus disibukkan oleh kedatangan KPK. [edibasuki/humasipabi_online].

Edi Basuki, pamong belajar BPPAUDNI Regional 2 Surabaya dan Humas Pengurus Pusat IPABI.