UNPK Taiwan 3Taipe (26/04/2016) Berbeda dengan jadwal ujian nasional SMA sederjat di dalam negeri, ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) Paket C baru berlangsung kemarin 23 dan 24 April 2016. Hal ini karena sebagian peserta adalah para buruh migran yang tidak mungkin mengikuti jadwal reguler seperti jadwal di dalam negeri, sehingga pelaksanaan pada hari Sabtu dan Minggu.

Pelaksanaan UNPK di Taiwan yang pertama kalinya ini dilaksanakan di Ruang 611 Gedung Isoho, No. 10, Section 1, Chongzheng S Rd., Chingzen Distric, Taipe City.  Panitia memutuskan pelaksanaan UNPK diselenggaran di gedung Isoho karena mempertimbangkan posisi tempat agar mudah dijangkau oleh peserta ujian.

“Pada umumnya ujian nasional Paket C dilaksanakan selama 4 hari, namun dengan pertimbangan berbagai hal khususnya masalah ijin majikan, maka UNPK Paket C hanya diselenggarakan selama dua hari,” demikian ungkan Hasan Ismail selaku Ketua Panitia UNPK di Taiwan. Selanjutnya pria yang juga mahasiswa program magister di Mechanical Engineering National Chiao Tung University ini menjelaskan bahwa mata pelajaran yang diujikan tetap sama dengan di dalam negeri yaitu 7 mata pelajaran. Empat mata pelajaran di hari pertama, 23 April 2016 dan tiga mata pelajaran di hari kedua 24 April 2016.

Pada bagian lain Sri Sumartiningsih, Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Persatuan Pelajar Indonesia (PKBM PPI) menjelaskan hampir semua peserta didik pendidikan kesetaraan di Taiwan adalah para buruh migran Indonesia di Taiwan. Ibu dua anak yang sedang menyelesaikan Program Doktoral Sport Coaching Science di Chinese Culture University itu kemudian memberikan keterangan bahwa hal itulah yang menyebabkan ada peserta ujian yang tidak bisa hadir.

UNPK Paket C pada tanggal 23 April 2016 diikuti oleh 26 orang dari PKBM Persatuan Pelajar Indonesia dan sembilan orang dari PKBM Bakti Jaya Indonesia. Terdapat sembilan orang  peserta didik dari PKBM Persatuan Pelajar Indonesia dan dua orang dari PKBM Bhakti Jaya Indonesia tidak hadir. Sebagian besar alasan ketidakhadiran karena tidak mendapat ijin dari majikan tempat bekerja. Ada dua orang peserta dari PKBM Persatuan Pelajar Indonesia melanjutkan dan mengikuti ujian nasional di dalam negeri.

“Alhamdulillah Pelaksanaan UN Kejar Paket C di Taiwan pada tanggal 23 dan 24 April 2016 dapat berjalan dengan lancar, sukses dan tidak ada satu kekurangan apapun,” ungkap Bambang Nurfauzi Ketua PKBM Bhakti Jaya Indonesia. “Semoga ke depan semakin sukses dan bisa melanjutkan ke Jenjang yang lebih tinggi,” kata Bambang Nurfauzi.

“Kini terbuka kesempatan bagi buruh migran yang belum.menyelesaikan pendidikan menengah sudah bisa diikuti di Taiwan, dua profesi mereka akan didapat selain sebagai pekerja juga sebagai pelajar, membekali diri dengan ilmu Pengetahuan sebagai bekal kelak kembali ke tanah air,” tambah Bambang Nurfauzi.

Para peserta UNPK terlihat sangat antusias dan tidak banyak mengalami kebingungan selama mengikuti ujian, khususnya di hari dan jam pertama ujian. Hal ini menurut peserta didik dikarenakan mereka sangat terbantu dengan adanya tryout UNPK yang diselenggarakan sebelumnya dimana mereka sudah cukup paham mengenai petunjuk cara mengisi lembar jawaban ujian nasional, sehingga mereka hanya fokus terhadap isi dari setiap soal yang diujikan.

UNPK Taiwan 2Pelaksanaan UNPK di Taiwan dikoordinasikan oleh Kantor Dagang Ekonomi Indonesia Taiwan (KDEI Taiwan) karena tidak terdapat Kedutaan Besar di negara tersebut. Arif Fadilah, Kepala KDEI Taiwan sangat mendukung dan memperhatikan penuh program pendidikan kesetaraan yang bertujuan untuk memberdayakan buruh migran Indonesia di Taiwan. Karena itulah penyelenggaraan UNPK difasilitasi penuh oleh KDEI Taiwan di Taipe.

“Penyelenggara harus bisa dan mampu menunjukan Kredibilitas sebagai Penyelenggara Pendidikan dan selalu Bekerja dengan Hati, dengan bekerja dengan hati kami sebagai penyelenggaran akan bisa mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dengan tenang dan siap selalu melayani program pendidikan untuk TKI dengan baik,” pesan Arif Fadilah kepada panitia pelaksana UNPK.

Hadir dua orang utusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memantau kegiatan tersebut, yaitu Suprananto (Puspendik Balitbangdikbud) dan Bambang Windoko (Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan). Kehadiran petugas dari Kemendikbud untuk melihat secara langsung dan memastikan kelancaran pelaksanaan UNPK.

“Kementerian sangat mengapresiasi semangat dan perjuangan para peserta didik untuk belajar mengingat tuntutan dan profesi mereka sebagai buruh migran di Taiwan. Hal ini membuktikan bahwa situasi dan kondisi serta tuntutan pekerjaan bukanlah penghalang bagi mereka yang mau berjuang untuk mendapatkan pendidikan,” ungkap Suprananto. Selanjutnya Bambang Windoko berpesan agar sebagai penyelenggara pendidikan kesetaraan, PKBM di Taiwan diharapkan untuk terus menjaga kualitas pendidikan agar para siswa yang pada umumnya BMI agar benar-benar bisa mendapatkan manfaat yang terbaik dari pendidikan yang mereka dapatkan, khususnya dalam menghadapi persaingan setelah diberlakukannya MEA ataupun AFTA.  [fep/tw/bn/]