layanan-paud-keliling-10-juni-042Terdapat resiko psikologis akibat gempa bumi yang dialami oleh individu misalnya mengalami kehilangan sumber daya yang bernilai, seperti kehilangan orang yang dicintai, harta benda yang dimiliki, hubungan sosial dan komunitas atau ketika kehilangan pegangan hidupnya akan menyebabkan stress dan trauma. Kita dengan jelas dapat melihatnya secara langsung melalui media televisi. Oleh karena itulah, di samping aktivitas tanggap darurat hal yang perlu dipikirkan adalah penanganan resiko psikologis ini, apalagi sampai sekarang masih banyak ribuan orang yang masih tertimbun di reruntuhan gedung dan belum dapatdievakuasi.

Pada beberapa kejadian bencana di Indonesia kegiatan trauma healing sudah jamak dilakukan. Namun demikian barangkali perlu diingatkan kembali bahwa anak-anak perlu mendapatkan perhatian serius. Kita dapat memperhatikan tayangan televisi bahwa pada saat gempa bumi Sumatra Barat pada Kamis 30 September 2009 di dalam dekapan ibunya anak-anak sangat ketakutan bahkan sampai menangis. Kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai gangguan kecemasan pascatrauma (PTSD) yang merujuk pada gangguan psikologis dan luka emosional yang dialami oleh individu yang mengalami suatu peristiwa tragis dan luar biasa (Schiraldi, 2000). Gangguan kecemasan pascatrauma bagi anak yang mengalami bencana gempa bumi dapat dikategorikan sebagai suatu gangguan kecemasan dengan indikator dan ciri-ciri diagnostik tertentu yang berbeda dengan kecemasan biasa.

Gangguan kecemasan pascatrauma pada anak-anak jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan gangguan:

  • Aspek Fisik antara lain: suhu badan meninggi (tension), menggigil (trembling), badan terasa lesu (fatigue), mual-mual (tingling), pening (nausea), ketidakmampuan menyelesaikan masalah (digestive track problem), sesak napas (rapid breathing), panik (event panic attack).
  • Aspek Emosi, antara lain: hilangnya gairah hidup (moodiness), ketakutan (fear), dikendalikan emosi (exaggerated emotions), dan merasa rendah diri (loss of confidence).
  • Aspek Mental antara lain: kebingungan (confussion), tidak dapat berkonsentrasi (inability to concentrate), tidak mampu mengingat dengan baik (remember), tidak dapat menyelesaikan masalah (lack decision making).
  • Aspek Perilaku antara lain: sulit tidur, kehilangan selera makan, makan berlebihan, banyak merokok, minum alkohol, menghindar, sering menangis, tidak mampu berbicara, tidak bergerak, gelisah, terlalu banyak gerak, mudah marah, ingin bunuh diri, menggerakkan anggota tubuh secara berulang-ulang, rasa malu berlebihan, mengurung diri, menyalahkan orang lain.
  • Aspek Spiritual antara lain: putus asa (discouragement), hilang harapan (hopeless), menyalahkan Tuhan, berhenti ibadah, tidak berdaya (despair), meragukan keyakinan, dan tidak tulus, dll.

Oleh karenanya aktivitas trauma healing bagi anak-anak hendaknya segera dilakukan di daerah bencana agar anak-anak dapat segera melupakan pengalaman traumatik sehingga tidak menyebabkan gangguan psikologis di masa mendatang. Salah satu aktivitas yang dapat dilakukan yaitu melakukan kegiatan bermain bersama. Dengan melakukan aktivitas bermain anak berkurang kecemasan dan traumanya. Pada gempa Yogyakarta tahun 2006 saya bersama tim BPKB Provinsi DIY menumbuhkan 20 titik layanan PNF dengan fokus utama layanan pendidikan anak usia dini dengan mengajak sumber daya lokal untuk melakukan aktivitas bermain bagi anak-anak korban gempa bumi. Di samping itu dilakukan layanan PAUD keliling ke lokasi yang belum terjangkau dengan membawa serta pendongeng dan badut. Layanan PAUD ini kami lakukan pula pada bencana tsunami Pangandaran.

Barangkali bentuk layanan pembermainan ini sangat sederhana, namun memberikan manfaat yang luar biasa karena anak akan bergembira kembali, ceria kembali sehingga mampu melupakan pengalaman traumatiknya. Kegiatan ini pun dapat terus dilakukan pasca tanggap darurat atau pada saat masa recovery dan rekonstruksi, karena pada masaa itu para orang tua akan sibuk melakukan rekonstruksi bangunan sehingga anak-anak perlu mendapat perhatian melalui layanan PAUD. Untuk itulah saatnya lembaga PNF di sekitar lokasi bencana dapat segera bergerak untuk melakukan kegiatan layanan trauma healing bagi anak-anak.