UN sekolahMenjelang pelaksanaan ujian nasional (UN) bagi SMA/MA/SMK (20 – 24 April 2009) dan SMP/MTs (27 30 April 2009) serta UASBN SD (11-13 Mei 2009) siswa, guru dan orang tua mengalami tekanan yang luar biasa untuk mencapai batas minimal kelulusan (phasing grade) tiap mata pelajaran. Apalagi menurut Mendiknas batas minimal kelulusan tahun ini dinaikkan menjadi 5,50 untuk SMP dan SMA, sedangkan batas minimal kelulusan Sekolah Dasar ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan.

Batas minimal kelulusan itulah yang kemudian menjadikan momok para pendidik, orang tua dan siswa sehingga tidak jarang ada oknum sekolah yang melakukan tindakan tidak terpuji dengan membuat tim sukses untuk membantu siswa dengan berbagai cara agar dapat mengerjakan soal ujian. Di samping itu, berdasarkan pengalaman ujian nasional tahun-tahun sebelumnya, ada oknum siswa peserta ujian yang menggunakan berbagai modus operandi mencontek agar dapat lulus, misalnya meninggalkan hasil jawaban di WC, di balik poster, kusen kamar mandi, menggunakan alat komunikasi dan lain sebagainya.

Sebenarnya berbagai tindakan tidak terpuji tersebut dapat dieliminir manakala guru menyampaikan materi sesuai dengan kurikulum yang sudah ditetapkan. Adanya tim sukses dari oknum sekolah menunjukkan ketidakpercayaan sebagian guru dalam menghadapi ujian nasional. Oleh sementara kalangan fakta adanya tindakan terpuji itu digunakan untuk menghantam kebijakan ujian nasional. Di samping itu, dipandang ujian nasional terlalu berorientasi pada ranah kognisi dan target kuantitatif saja.
Di sisi lain, pemerintah mempunyai maksud bahwa hasil ujian nasional (UN) dan ujian akhir sekolah berstandar (UASBN – bagi SD/MI) dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk memetakan mutu satuan pendidikan. Dengan demikian daerah yang memiliki hasil ujian akhir yang relatif kurang dapat dirumuskan kebijakan dan tindakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Lalu apa yang harus dilakukan para orang tua dengan semakin mepetnya waktu pelaksanaan ujian nasional? Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah membantu anak untuk belajar dan melakukan pengayaan dengan menggunakan kisi-kisi soal ujian sebagai pedoman untuk mencari pokok materi yang hendak dipelajari lebih mendalam. Kisi-kisi ujian sebagaimana tertuang di dalam:
Permendiknas 82 Tahun 2008 untuk UASBN SD/MI
Permendiknas 78 Tahun 2008 untuk UN SMP/MTs
Permendiknas 77 Tahun 2008 untuk UN SMA/MA/SMK
Ketiga permendiknas tersebut merupakan dokumen publik sehingga bisa diakses masyarakat. Persoalannya dokumen ini jarang sampai ke tangan siswa dan orang tua, karena akses dan informasi yang masih sangat kurang. Ada anggapan bahwa dokumen ini dianggap dokumen yang sifatnya rahasia. Dokumen yang bersifat rahasia adalah soal-soal ujian nasional itu sendiri, bukan kisi-kisi soalnya.

Berdasarkan kisi-kisi ini, guru yang kreatif pada suatu sekolah akan membentuk tim kemudian membuat soal-soal latihan. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh penerbit menerbitkan buku-buku prediksi soal ujian nasional tahun 2009 yang disusun para guru. Nah, apabila hendak membeli buku prediksi soal ujian nasional, periksa terlebih dahulu bulan dan tahun terbit. Buku prediksi soal ujian nasional 2009 yang terbit sebelum Desember 2008 sudah pasti belum menggunakan kisi-kisi ujian nasional tahun ajaran 2008/2009. Mengapa? Karena ketiga permendiknas di atas ditandatangani pada tanggal 5 dan 11 Desember 2008. Pada buku terbitan bulan Januari 2009 rata-rata sudah menyebutkan bahwa prediksi soal disusun berdasarkan kisi-kisi sebagaimana diatur dalam permendiknas.

Begitu pula, bagaimana anak memanfaatkan waktu belajar yang tersisa tinggal beberapa minggu ini, arahkan anak untuk mempelajari pokok materi sebagaimana tercantum dalam kolom kemampuan yang diuji dan kolom indikator pada kisi-kisi soal ujian (kolom 3 dan 4). Kisi-kisi ujian nasional dapat didownload bebas di situs Depdiknas.

Berdasarkan kisi-kisi di atas, maka anak dapat diajak melakukan pengayaan dengan melatih diri sesuai kolom kemampuan yang diuji dan indikatornya. Cara ini dalam belajar akan lebih efektif, karena anak difokuskan belajar pada pokok materi yang akan keluar pada ujian nasional dengan berbagai bentuk soal yang bervariasi.

Bagi guru, kisi-kisi ini dapat juga dilakukan untuk melakukan pembelajaran pengayaan dan menyusun latihan soal berdasarkan kisi-kisi. Kemudian melakukan berbagai uji coba kepada siswanya. Saya pikir cara ini akan lebih bermartabat dibanding membentuk tim sukses yang bekerja pada saat ujian berlangsung. Tim sukses bisa dibentuk dalam artian positif, yaitu membentuk tim untuk membedah kisi-kisi dan disampaikan kepada siswanya. Saya kira ini lebih bermartabat! Akhirnya, bagi yang sekarang sedang menyiapkan ‘tim sukses’ dalam artian negatif, segeralah bertobatl!