UNPP 1Yogyakarta (1/03) Tahun ini penetapan kelulusan Ujian Nasional Kejar Paket C masih sama dengan tahun lalu, yaitu rata-rata nilai akhir minimal 5,5 dan tidak ada nilai akhir mata pelajaran yang di bawah 4,00. Tapi tingkat kelulusan diprediksi akan merosot tajam. Kenapa?

Penyebabnya tak lain adalah adanya kebijakan setiap peserta ujian dalam satu ruang mendapat soal yang berbeda dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Karena tiap ruang ujian maksimal peserta berjumlah 20 orang, kemudian sering disebut dengan 20 paket soal yang berbeda. Aturan ini membuat keder sebagian penyelenggara Paket C yang tahun ini mengikutsertakan peserta didiknya pada ujian nasional pendidikan kesetaraan.

Walaupun Program Kejar Paket merupakan layanan pendidikan nonformal pengganti ujian persamaan yang telah dihapus, namun motivasi sebagian besar peserta didik program ini adalah hanya untuk mendapatkan ijazah setara sekolah. Melihat permintaan yang tinggi terhadap perilaku menginginkan ijazah secara instan kemudian ditangkap menjadi peluang pasar untuk menjadikan ujian nasional Paket C menjadi lahan bisnis.

Terlebih persyaratan untuk menjadi caleg, kepala desa, dan bupati/walikota harus memiliki ijazah SMA atau yang sederajat, maka permintaan program Paket C, dan pemerolehan ijazah kesetaraan secara instan menjadi tinggi. Ada penyelenggara program yang menawarkan program jaminan lulus.

Ada juga sebagian penyelenggara yang memberikan pertolongan tanpa didasari kesepakatan bisnis, murni pertolongan sosial untuk meluluskan peserta didiknya agar memperoleh ijazah Paket C. Masuk pada kategori ini saya kira juga tidak sedikit, hal mana didasari untuk mengentaskan warga masyarakat agar memiliki ijazah setara SMA. Tidak ada permainan uang di sini. Lebih cenderung unsur belas kasihan dan menolong warga masyarakat yang termarjinalkan.

Dari kedua kategori dalam membantu memuluskan agar peserta ujian nasional Paket C dapat lulus (berbiaya dan murni pertolongan), ada tiga modus yang bisa ditengarai.

Pertama, sebelum ujian berlangsung peserta diberitahu kunci jawaban. Pada ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) tahun 2013 ini sulit untuk dilakukan. Di samping karena soal dikemas dalam 20 paket, dimana butuh waktu yang panjang untuk membuat kunci jawaban. Lebih dari itu, tahun ini pelaksanaan UNPK bersamaan dengan UN sekolah di mana distribusi soal menggunakan jalur distribusi UN sekolah yang terkenal ketat. Bahkan menggunakan pengawalan kepolisian, hal yang tidak pernah terjadi pada pelaksanaan UNPK tahun sebelumnya. Jadi soal sulit bocor sebelum pelaksanaan UNPK.

Modus kedua, memberikan kunci jawaban pada saat pelaksanaan UNPK. Hal mana juga sulit dilakukan, karena pemberi bantuan harus menyelesaikan keduapuluh paket soal, sebab satu ruang ujian menerima soal yang berbeda. Pemberian bantuan tidak bisa dilakukan kepada seluruh peserta ujian dalam satu ruangan.

Modus ketiga, yaitu melakukan perbaikan lembar jawaban sesuai dengan kunci jawaban yang sudah disiapkan sebelum lembar jawaban diserahkan ke panitia kabupaten/kota. Modus terakhir ini juga sudah sulit dilakukan karena berarti harus menyiapkan 20 paket kunci jawaban untuk dua mata pelajaran yang diujikan pada hari itu. Hal yang sulit dilakukan, kecuali menyiapkan banyak tutor untuk menyelesaikan kunci jawaban.

Memang ketiga modus tersebut sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Ibarat kentut, baunya terasa tapi tidak bisa dibuktikan dari mana asalnya.

Kini dengan pelaksanaan UNPK yang bersamaan harinya dengan UN sekolah, maka suasana UN juga akan menghampiri UNPK. Dimana biasanya UNPK jauh dari liputan media pers dan pengawasan tim pemantau independen, boleh jadi besok dalam pelaksanaan UNPK akan banyak pihak yang menyoroti. Sehingga permainan ketiga modus itu, jika memang benar pernah ada, akan sulit untuk dilaksanakan.

Karena itulah, ketika penyelenggara Paket C tidak menyiapkan peserta didik dengan baik maka boleh jadi pada tingkat kelulusan UNPK pada tahun ini akan terjun bebas. Jika UNPK tahun ini dilaksanakan secara bersih, diprediksi tingkat kelulusan tidak akan mencapai angka 60%.

Lalu, bagaimana kita harus menyiapkan peserta didik menghadapi UNPK tahun 2013 dengan bermartabat? Ikuti postingan berikutnya.