lebaran-arbesdjYogyakarta (10/08) Sebelum tahun 2000-an kartu lebaran masih menjadi primadona untuk menyampaikan ungkapan selamat Idul Fitri dan mohon maaf. Lapak kartu lebaran penuh sesak di pertokoan, bahkan sampai di kaki lima Mailoboro ada yang menjual jasa membuat kartu lebaran hand made. Kantor Pos pun pada medio bulan Ramadan sudah dipenuhi antrian orang yang akan mengirim kartu lebaran. Kini seiring dengan perkembangan teknologi, kartu lebaran semakin ditinggalkan, namun masih saja ada sebagian kalangan yang mengirim kartu lebaran.

Tidak dipungkiri lagi, dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ucapan selamat idul fitri kepada sanak saudara dan kolega kini dapat disampaikan melalui media sms, serta jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Selain lebih hemat biaya dibandingkan pengiriman via pos, pengiriman ucapan melalui jejaring sosial dapat menggunakan ragam grafis ucapan yang menarik.

Menurut Atjep Djuanda, Humas PT Pos Indonesia Area IV Jakarta, sebagaimana dilansir TV One (09/08) pengiriman kartu lebaran turun 50% dibanding era sebelum tahun 2000-an. Artinya, pengiriman kartu lebaran melalui pos masih menjadi pilihan sebagian kalangan. Ternyata masih ada yang memanfaatkan kalangan yang mengirimkan kartu lebaran, yaitu perusahaan, lembaga, kantor dan korporasi lainnya.

“Bahkan kecenderungan tahun ini mengalami peningkatan 7% dibanding tahun lalu”, tambah Atjep Djuanda.

Apa yang menyebabkan sebagian kalangan masih menggunakan kartu lebaran? Paling tidak ada tiga alasan, yaitu etika, estetika dan lebih formal.

Pertama, mengirim kartu lebaran melalui pos dipandang lebih etis dibanding melalui sms atau email, dan juga melalui jejaring sosial. Kedua, penggunaan kartu lebaran dipandang lebih berestetika dibanding menggunakan sms yang cenderung bersifat teks. Ketiga, penggunaan kartu lebaran lebih formal dibanding menggunakan sms atau jejaring sosial. Berdasarkan tiga alasan itulah perusahaan, lembaga, kantor dan korporasi lainnya masih menggunaan kartu lebaran. Bahkan tidak sedikit perorangan yang masih mempertahankan penggunaan kartu lebaran dengan alasan lebih formal.