Macet di Daendles (1)Kebumen (21/12) Jalur lintas selatan Jawa terputus akibat banjir akibat jebolnya tanggul sungai di sebelah timur Prembun sehingga menyebabkan genangan air sampai setinggi satu meter. Karena itu sejak semalam arus lalu lintas dialihkan melalui jalur Daendles selatan. Namun demikian pengalihan jalur ini menimbulkan persoalan baru, kemacetan panjang terjadi sampai sepuluh kilometer lebih.

Macet di Daendles (3)Jalur Daendles selatan setelah menjelang masuk wilayah Kebumen lebar jalan hanya cukup dilalui dua kendaraan sedang. Untuk kendaraan besar, seperti bus dan truk jika berpapasan harus pelan-pelan karena sempitnya jalan. Tanah samping kiri kanan jalan (bahu jalan) sebagian besar tidak rata dengan badan jalan atau aspal. Karena sempitnya jalan, tidak sedikit bis dan truk yang terperosok sehingga menyebabkan kemacetan.

Sejak masuk jalur Daendles selatan jam 23.00 sampai berita ini diturunkan pukul 14 kemacetan belum terurai. Berarti ratusan kendaraan sudah terjebak kemacetan selama 15 jam.

Celakanya daerah Mirit dan sekitarnya jarang dijumpai warung makan atau warung kelontong sepanjang jalan. Jalur Daendles ini memang terkenal sepi, jarang rumah penduduk dan warung makan.

Macet di DaendlesDi antara bus-bus yang terjebak kemacetan tidak sedikit bus pariwisata anak-anak sekolah, dalam bus umum ada bayi dan orang tua. Bisa dibayangkan bagaimana menahan lapar selama 15 jam. Jika ada warung pasti sudah diserbu habis oleh penumpang bus yang terjebak kemacetan.

Ada di antara penumpang yang tidak sabar dan selalu menggeretu menumpahkan amarahnya kepada aparat yang dianggap tidak sigap mengatasi masalah kemacetan di jalur Daendles ini. Penumpang yang emosional ini bisa memicu kerawanan sosial jika pihak berwenang atau aparat pemerintah setempat tidak turun tangan secepatnya.

Berbeda dengan kultur masyarakat pantura yang lebih sigap mencium peluang bisnis dalam kemacetan, pada kemacetan di jalur Daendles ini jarang boleh dikata tidak ada penduduk yang berinisiatif jualan makanan atau minuman. Padahal kemacetan sudah lebih dari 15 jam. Penduduk justru lebih banyak memandang dan menikmati deretan bus yang jarang terjadi di daerahnya.

Paling tidak gerakan sigap aparat desa adalah mendorong warganya untuk jualan makanan dan minuman kepada penumpang kendaraan yang terjebak kemacetan. Penumpang tidak ingin mendapatkan belas kasihan makanan gratis, ada yang jualan sudah sangat berterima kasih.

Tapi ketika suplai makanan dan minuman sangat kurang, dan penanganan kemacetan sangat lama, bukan tidak mungkin bisa memicu kerawanan sosial.