Luru Ilmu 2Oleh Havissah Dyah Alaini

Sebuah dusun di wilayah Kabupaten Bantul menjadi miniatur kehidupan masyarakat yang memiliki budaya literasi melalui kegiatan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Semangat untuk membangun desanya paska gempa bumi tahun 2006, menjadi energi bagi Sugiyono Saiful Hadi (45) untuk mendirikan sanggar kegiatan bagi masyarakat.

Tidak ingin melihat dampak buruk gempa bumi yang dapat menimpa anak-anak di dusun, maka didirikanlah sanggar belajar yang diberi nama Sanggar Zeny Zulfy yang menjadi cikal bakal terbentuknya  TBM Luru Ilmu. Berawal dari sebuah dusun kecil yang kemudian berkembang hingga ke daerah lain, jadi tahapan berdirinya TBM Luru Ilmu dalam melayani kebutuhan literasi bagi masyarakat. Berlokasi di Dusun Gresik, Kelurahan Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Ka-bupaten Bantul, TBM Luru Ilmu berkembang pesat hingga mampu mengukir prestasi hingga tingkat nasional.

Tujuh tahun bersama masyarakat Dusun Gresik, TBM Luru Ilmu telah mampu memberikan warna baru dalam kehidupan warga sekitar. Adanya penyediaan buku bacaan ringan maupun buku pela-jaran untuk anak-anak usia sekolah dasar, menjadi daya tarik untuk mengunjungi TBM Luru Ilmu.

Anak-anak yang biasanya bermain, setelah mereka pulang dari sekolah, lebih memilih untuk berkunjung ke TBM untuk membaca buku. Setiap harinya tidak kurang dari dua puluh orang datang ke TBM Luru Ilmu untuk meminjam dan membaca buku di perpustakaan. Layanan peminjaman buku sangatlah mudah untuk diakses oleh masyarakat mulai dari anak-anak hingga orangtua. Upaya pengelola memberikan kesempatan masyarakat agar lebih dekat dengan lingkungan perpustakaan terus dilakukan. Salah satunya dengan pelayanan peminjaman buku mandiri. Dimana peminjam langsung dapat memilih hingga mencatat buku yang dipinjam, sebutlah di antaranya Ane, Keke, Tami dan Andika yang datang untuk meminjam buku sekaligus mencatatkan dirinya sebagai peminjam.

TBM Luru Ilmu menjadi salah satu forum bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan bersama berupa pelatihan dan kegiatan perkumpulan lainnya. Adanya TBM tidak hanya tempat untuk membaca dan meminjam buku, namun menjadi wadah pemersatu masyarakat dalam pembelajaran.

Model integrasi antara perpustakaan dan pendidikan anak usia dini (PAUD) juga terlihat berbeda di Luru Ilmu ini. Adanya perpustakaan yang terpadu dengan KB Zeny Zulfy mampu memberikan pembelajaran kepada anak tentang cinta baca. Dimulai dari anak usia dini, pengenalan budaya cinta baca dapat dilakukan guru maupun orangtua.

Respon positif masyarakat terhadap adanya TBM Luru Ilmu, tak menghentikan langkah Pakdhe Saiful, sapaan akrab Saiful Hadi dan pengelola lainnya untuk mengembangkan model layanan yang lebih menarik. “Motor Pintar” menjadi media yang kreatif untuk mengenalkan budaya baca.

Luru Ilmu 1Adanya motor pintar juga mempermudah pengelola TBM Luru Ilmu untuk menjangkau masyarakat yang jauh dari Dusun Gresik. Luasnya daerah yang telah dijangkau oleh layanan perpustakaan keliling ini memberikan timbal balik bagi lembaga yakni dikenalnya TBM Luru Ilmu oleh masyarakat luas.

Keberadaan lembaga pelayanan literasi menjadi penting di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang kian dinamis. Pengenalan budaya cinta baca menjadi contoh yang inspiratif mengurangi dampak negatif perubahan zaman. Perubahan pola belajar dan komunikasi yang praktis menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola perpustakaan untuk terus menciptakan inovasi dalam melayani  masyarakat.

Sumber: Hamemayu Edisi 4 September 2013, edisi lengkap versi digital dapat diunduh di sini.

IchaHavissah Dyah Alaini adalah reporter Buletin Hamemayu, majalah dwibulanan yang diterbitkan oleh Balai Pengembangan Kegiatan Belajar DIY.