TBM iboekoe 1Oleh Mochamad Fatchan Chasani

Hamemayu- Perkembangan zaman yang kian maju kadang menggerus nilai-nilai masa lampau yang dirasa kurang menarik bagi anak-anak dan orang muda sekarang. Mereka lebih senang menghabiskan sisa waktunya dengan nongkrong, bermain komputer dan game elektronik lainnya.

Melihat fenomena tersebut Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Iboekoe mencoba mengatasi persoalan dengan menularkan nilai-nilai luhur masa lalu kepada pemuda di sekitar kampung Patehan, Yogyakarta. Forum diskusi telah menjadi wadah setiap orang di dalamnya untuk terus mengasah, menambah dan mengembangkan ilmu serta pengetahuan.

Seringkali stereotip tidak berdaya yang melekat pada orang lanjut usia (lansia) menjadikan mereka termarjinalkan dari sistem sosial. Mereka terkesan dibiarkan sendiri dan terasing dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Sangat disayangkan para lansia ini melewatkan waktu tanpa ada penularan nilai-nilai luhur sejarah. Padahal kekayaan memori sejarah yang pernah mereka alami mampu menjadi bahan cerita dan diskusi dengan sesama lansia hingga anak-anak atau cucu-cucu mereka dan generasi penerusnya.

TBM Iboekoe (dibaca: iboekoe ) yang dulu bermula dari komunitas pecinta buku melihat kenyataan telah terjadi gap  antara lansia dengan generasi muda.Kondisi lingkungan sosial juga penambah persoalan. Akibatnya hubungan komunikasi masyarakat menjadi renggang dan terbagi dalam kelompok-kelompok usia. Pemuda merasa komunikasi dengan lansia tidak bisa menyatu. “Obrolan mereka ga nyambung,” tutur Faiz Ah-soul, pengurus TBM Iboekoe.

Usaha yang dilakukan Iboekoe salah satunya memberikan wadah bagi lansia untuk berdiskusi. Terletak di tengah perkampungan yang dikelilingi rumah-rumah warga menjadikan Iboekoe sebagai akses literasi warga sekitar. Faiz Ahsoul mengutarakan, dengan lokasi tersebut  membuat warga untuk mengakses TBM Iboekoe terasa mudah. “Bayangkan bila akses TBM berada di pinggir jalan, tentu warga atau masyarakat akan sangat terbatas mengakses karena crowded dengan lalu lalang jalan raya,” kata dia.

Disscusion group yang dicetus sebagai program literasi bagi lansia memiliki makna penting dalam gagasannya. Kelompok-kelompok diskusi menjadi wadah bagi orang-orang di dalamnya untuk mengasah, menambah dan mengem-bangkan ilmu serta pengetahuan mereka.  Jalinan kekeluargaan juga akan terbentuk dari adanya komunikasi dan interaksi.

Program-program menarik dan kreatif diciptakan di TBM Iboekoe seperti siaran radio dengan nama R Boekoe (dibaca: radio buku) yang digunakan sebagai media dalam menyiarkan berbagai kegiatan Iboekoe dan mengajak pendengar untuk “mendengar buku”. Hal itu merupakan slogan dari Radio Boekoe yang memiliki arti hasil suara-suara yang direkam kemudian disimpan dalam bentuk compact disk (CD). Selain Radio Boekoe ada juga Angkringan Buku, yang ditujukan bagi generasi muda yang suka nongkrong namun tetap bisa membaca buku.

TBM iboekoe 2Menyambut hari keaksaraaan, TBM Iboekoe mengadakan program kearsipan. Dengan tujuan merang-kum seluruh bahan bacaan yang ada di TBM Iboekoe. Lalu, diboekoekan dalam bentuk kliping dan juga ke dalam bentuk digital lewat alat yang disebut “meja arsip”. Dengan menggunakan meja arsip yang digagas GusMuh, maka akan lebih mempermudah pembukuan arsip-arsip penting.

Sumber: Hamemayu Edisi 4 September 2013, edisi lengkap versi digital dapat diunduh di sini.

FatchanMochamad Fatchan Chasani adalah reporter Buletin Hamemayu, majalah dwibulanan yang diterbitkan oleh Balai Pengembangan Kegiatan Belajar DIY.