ilc-ilustrasiYogyakarta (30/08) Indonesia Lawyer Club merupakan salah satu program acara TV One yang dipandang bisa mencerahkan masyarakat dalam membahas persoalan hukum terkini dan yang sifatnya kontroversial. Acara tersebut bisa memberikan pemahaman terhadap duduk persoalan hukum yang sedang dihadapi masyarakat atau sekelompok masyarakat. Namun di sisi lain, beberapa kali para narasumber yang diundang berbicara kebablasan dan melontarkan pernyataan yang terkadang tidak beretika sama sekali. Padahal dalam pandangan pemirsa, mereka adalah kaum terpelajar dan bahkan pakar hukum atau praktisi hukum.

Sangat disayangkan Karni Ilyas sebagai host tidak menghentikan hinaan yang dilakukan oleh Indra Sahnun Lubis dan Hotman Paris kepada Denny yang menyebutnya dengankata-kata “Pendek, kaya penjaga mesjid,  giginya ditengah-tengah ada item-ietm, dan  pake sendal”. Padahal acara tersebut ditayangkan secara langsung dan boleh jadi dilihat oleh jutaan pemirsa yang sebagian adalah anak dan usia remaja. Kata-kata tersebut tidak pantas didengar oleh anak bangsa yang masih dalam tahap pertumbuhan mental dan kepribadiannya.

Di tengah carut marutnya kondisi mental masyarakat Indonesia, pemerintah menggalakkan pembangunan karakter anak bangsa agar menjadi bangsa yang lebih santun, berbudi, dan beretika. Maka pernyataan para praktisi hukum pada tayangan ILC tersebut sangat tidak mendukung upaya tersebut.

Televisi sebagai media publik seharusnya bisa ikut membentuk karakter anak bangsa yang memiliki nilai-nilai khas (yang tahu nilai kebajikan, mau berbuat baik, berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terlihat dalam perilakunya. Lontaran hinaan dan cemoohan para praktisi dalam tayangan tersebut bisa jadi akan ditiru oleh anak bangsa sehingga kita akan semakin banyak menemui kelompok masyarakat yang cepat emosi dan tidak pandai menghargai orang lain. Suatu karakter jelek yang seharusnya dihindari, jika kita ingin tetap mampu bersaing dengan bangsa lain.

Membentuk karakter anak bangsa, tidak hanya menjadi kewajiban para guru dan orangtua. Media televisi di era modern telah menjelma menjadi guru yang sangat efektif bagi masyarakat. Apa yang dilihat di televisi akan mudah ditiru oleh masyarakat. Karena itulah televisi juga harus berperan dalam membentuk karakter anak bangsa dengan tidak menayangkan acara yang jauh dari norma dan nilai kepatutan.