Tantangan Penilaian Hasil Belajar Dimensi Keterampilan Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan

Yogyakarta (09/07/2019) Kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan dilaksanakan berbasis modul. Penilaian hasil belajar juga menyesuaikan basis pembelajaran modular. Di samping itu pendekatan pembelajaran saintifik pada kurikulum 2013 juga merubah pola penilaian hasil belajar pendidikan kesetaraan. Salah prinsip perbedaan antara kurikulum lama dan kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan adalah tidak adanya nilai semester di dalam laporan hasil belajar. Nilai dalam laporan hasil belajar (rapor) disajikan nilai modul. Perbedaan berikutnya adalah adanya rumusan capaian sikap spritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Pada buku laporan hasil belajar pada kurikulum sebelumnya lebih berorientasi pada penilaian pengetahuan, walaupun ada nilai sikap dan keterampilan namun tidak begitu menjadi fokus.

Pembelajaran saintifik sebagai roh kurikulum 2013 berimplikasi pada penilaian hasil belajar. Misalnya mata pelajaran Sejarah Indonesia pada kurikulum lama tidak memerlukan penilaian dimensi keterampilan, penilaian lebih fokus pada penilaian hasil belajar dimensi pengetahuan. Begitu pula pada sebagian besar mata pelajaran lainnya hanya disajikan nilai pengetahuan, tidak selalu mencantumkan nilai keterampilan. Pada kurikulum lama, dalam prakteknya tutor hanya melakukan penilaian hasil belajar dimensi pengetahuan dengan melakukan tes baik melalui ulangan harian dan ujian semester.

Konstruksi rumusan kompetensi dasar pada kurikulum 2013 selalu berpasangan antara kompetensi dasar dari komptensi inti 1 (sikap spiritual/KI1) dan kompetensi dasar dari komptensi inti 2 (sikap sosial/KI2) serta kompetensi dasar dari komptensi inti 3 (pengetahuan/KI3) dan kompetensi dasar dari komptensi inti 4 (keterampilan/KI4). Implikasi adanya rumusan kompetensi dasar pada setiap kompetensi inti memberikan arahan kepada pendidik (tutor) untuk melakukan penilaian hasil belajar guna mengukur apakah kompetensi dasar tercapai atau tidak. Untuk itulah setiap kompetensi dasar pada silabus diperinci menjadi indikator pencapaian kompetensi. Rumusan kata kerja operasional indikator pencapaian kompetensi inilah yang menjadi penanda atau kriteria penilaian hasil belajar.

Karena setiap mata pelajaran pendidikan kesetaraan (kurikulum 2013) memiliki rumusan kompetensi dasar pengetahuan dan kompetensi dasar keterampilan, maka wajib hukumnya tutor melakukan penilaian hasil belajar dimensi keterampilan di samping penilaian hasil belajar dimensi pengetahuan. Khusus mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ditambah dengan kompetensi dasar sikap spiritual dan kompetensi dasar sikap sosial. Artinya kedua tutor yang disebut terakhir disamping melakukan penilaian hasil belajar dimensi pengetahuan dan dimensi keterampilan juga melakukan penilaian hasil belajar dimensi sikap spiritual dan sikap sosial.

Inilah yang menjadi tantangan bagi tutor pendidikan kesetaraan dalam melakukan penilaian hasil belajar pada format kurikulum 2013. Pada kurikulum lama tutor lebih berorientasi melakukan penilaian hasil belajar dimensi pengetahuan. Kurikulum 2013 menuntut tutor untuk melaporkan capaian hasil belajar keterampilan. Kompetensi dasar keterampilan pada kurikulum 2013 sebagai bentuk aplikasi pembelajaran saintifik, ketika peserta didik diminta untuk memahami suatu obyek materi peserta didik juga diminta untuk bisa mengkomunikasikan pemahaman yang diterimanya. Pemahaman dinilai melalui bentuk tes untuk mengukur capaian hasil belajar pengetahuan, sedangkan kemampuan mengkomunikasikan atau melakukan dinilai melalui bentuk penugasan. Inilah bentuk pasangan antara kompetensi dasar pengetahuan dan kompetensi dasar keterampilan pada kurikulum 2013. Dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi tutor yang terlanjur terbiasa hanya melakukan penilaian hasil belajar pengetahuan. Juga tantangan bagi warga belajar yang mengira jika pendidikan kesetaraan hanya diuji dengan tes saja. Bahkan ada yang beranggapan dites langsung ujian akhir (USBN dan UN).

Sebagai contoh disajikan pasangan kompetensi dasar 3.9 dan 4.9 mata pelajaran Bahasa Indonesia Paket C Tingkatan 5 berikut ini.

Gambar 1. Rumusan Pasangan Kompetensi Dasar Pengetahuan dan Keterampilan serta Indikator Pencapaian Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Paket C Setara SMA

Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi dimensi pengetahuan peserta didik akan dinilai capaian hasil belajarnya dengan menggunakan tes, baik berbentuk pilihan ganda maupun uraian atau bentuk tes lainnya. Tes ini untuk mengukur apakah peserta didik mampu untuk menentukan butir-butir penting dari satu buku pengetahuan populer dan mengidentifikasi butir-butir penting dari sebuah novel. Sedangkan untuk mengukur capaian kompetensi dasar keterampilan peserta didik diminta untuk membuat ringkasan satu buku pengetahuan populer dan ringkasan sebuah novel. Peserta didik diminta untuk membaca satu buku pengetahuan dan sebuah buku novel, kemudian ia diminta untuk menyusun ringkasannya. Hasil ringkasan dikumpulkan untuk dinilai oleh tutor.

Semua rumusan kompetensi dasar keterampilan setiap mata pelajaran akan meminta tagihan serupa kepada peserta didik, sehingga hal ini akan menjadi tantangan baru bagi pendidikan kesetaraan. Karena jika tidak dilakukan praktek menyusun tagihan kompetensi dasar keterampilan akhirnya yang akan terjadi adalah pembuatan nilai abal-abal alias mengarang nilai karena ketiadaan obyek yang dinilai tapi nilai capaian hasil belajar keterampilan disajikan dalam laporan hasil belajar (rapor).

Untuk memberikan gambaran lebih lanjut tentang penilaian hasil belajar pasangan kompetensi dasar pengetahuan dan keterampilan dapat diperhatikan gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Rumusan Pasangan Kompetensi Dasar Pengetahuan dan Keterampilan serta Indikator Pencapaian Kompetensi Mata Pelajaran IPS Paket B Setara SMP

Informasi gambar di atas memberikan petunjuk pada tutor harus melakukan tagihan dalam bentuk paparan lisan atau tulisan oleh peserta didik terhadap hasil analisis dalam bentuk tabel tentang keunggulan dan keterbatasan negara-negara ASEAN secara ekonomi, sosial dan budaya. Begitu pula rumusan indikator pencapaian kompetensi berikutnya. Rumusan kata kerja operasional kedua indikator dan kompetensi dasar di atas merupakan penanda akhir rangkaian dari alur pembelajaran saintifik dalam mana peserta didik diminta untuk mengkomunikasikan hasil pemahaman dan identifikasi tentang muatan materi pelajaran. Jika tagihan dan penilaian kompetensi dasar keterampilan tidak dilakukan oleh tutor pendidikan kesetaraan maka sejatinya roh kurikulum 2013 tidak dilaksanakan.

Tantangan berikutnya adalah ketika melakukan penilaian. Penilaian hasil belajar dalam bentuk tes pilihan ganda untuk mendapatkan data hasil capaian pengetahuan dilakukan dengan mencocokkan respon jawaban dengan kunci jawaban yang sudah disiapkan. Bagaimana untuk melakukan penilaian kompetensi dasar keterampilan? Tutor membutuhkan rubrik penilaian kinerja atau rubrik penilaian produk/karya. Rubrik penilaian ini memberikan rambu-rambu bagi tutor untuk melakukan penilaian secara obyektif. Sebuah tantangan akan menjadi kelemahan jika tidak segera diantisipasi oleh tutor selaku pendidik pada pendidikan kesetaraan. Karena itulah tutor harus mampu melakukan kolaborasi dengan sesama tutor mata pelajaran untuk bersama menyusun rubrik penilaian kompetensi dasar keterampilan sesuai dengan jenis tagihannya. Hal ini bisa dilakukan oleh Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan di Kabupaten/Kota sehingga dalam melakukan penilaian hasil belajar tutor lebih profesional. Lebih dari itu sesama tutor harus melakukan berbagi pengalaman dan diskusi terkait dengan strategi dan kita membangkitkan motivasi peserta didik dalam mengerjakan tagihan atau tugas kompetensi dasar keterampilan. [fauziep]

Artikel ini sudah tayang di web BP PAUD dan Dikmas DIY pada tanggal 7 Juli 2019.

6 tanggapan pada “Tantangan Penilaian Hasil Belajar Dimensi Keterampilan Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan”

  1. amin smoga kesetaraan semakin jaya dan penuh pelayanan. sarana. dan dana peningkatan tepat guna oada dunia usaha dan industri

  2. Sebetulnya penerapan kurikulum 13 lebih cocok untuk program kesetaraan.Sebab pada kurikulum tersebut dituntut nilai keterampilan dan nilai sikap selain pengetahuan.Warga belajar program kesetaraan adalah WB yg dipersiapkan utk bekerja dan melanjutkan kuliah.Melalui kurikulum 13 WB melalui keterampilan dan sikap akan membekali dirinya utk menghadapi lapangan pekerjaan, tinggal tutornya saja mampu tidak menggiring WB dengan metode Scientifik ini.Perlu upaya lembaga untuk melaksanakan IHT bagi tutornya.Lembaga saya PKBM BINA BANGSA BERKARAKTER sdh terbiasa pengajaran dengan menggunakan metode ini.Ditambah upaya pemerintah utk membantu sarana prasarananya terutama bidang IT.

Komentar ditutup.