tugu-malam-postingYogyakarta (31/08) Kelegaan dan kegembiraan telah mengakhiri pergulatan panjang RUUK Yogyakarta. Ada dua hasil kongkrit yang paling mudah diingat.Pertama, siapapun yang menduduki tahta kasultanan pasti menjadi gubernur; demikian pula yang menduduki tahta pura otomatis menjadi wakil gubernur.Kedua, keniscayaan anggaran dana keistimewaan sekitar 1 trilyun tiap tahun.

Kedua hasil nyata tersebut meneguhkan tantangan besar yang harus terwujud. Pertama, naiknya pendapatan rakyat produktif dari sekitar 3 USD/hari menjadi paling sedikit 20 USD/hari. Kenyataan sesungguhnya masih ada yang berpenghasilan Rp 150.000/bulan. Mengapa ini tantangan pertama? Karena Sri Sultan HB X mengapresiasikan kemenangan penetapan sebagai buah perjuangan rakyat. Cara paling mudah rakyat bisa menikmati buah perjuangan adalah peningkatan daya tabung dan investasi yang mirasa. Jika pendapatan riil meningkat, dengan sendirinya pendapatan perkapita dan PAD tidak lagi pada urutan nomor 2 dari paling bawah, di atas NTT.

Kedua, lebih tingginya kecerdasan, kepandaian, kepribadian dan budipekerti luhur anak-anak dan orang muda dibanding orang-orang dewasa yang telah mengasuhnya. Mengapa bekal sosial dan kultural ini menjadi tagihan nyata?  Karena, Yogyakarta telah mendapatkan kepercayaan untuk mengembangkan dua ranah kebudayaan. Kasultanan dipercaya mengembangkan kesatrian dan Pakualaman mengembangkan pendidikan. Untuk mewujudkan kedua amanat tersebut, bekal sebelumnya masing-masing hanya 1 milyar rupiah. Sedangkan sekarang anggarannya 1 trilyun rupiah.

Ketiga, beban risiko gagalnya mewujudkan kedua hal tersebut di atas, tak ada cara lain kecuali digotong oleh keluarga besar pura dan kasultanan. Tanggung jawab moral, politik dan keuangan di hadapan rakyat DIY dan Pemerintah Pusat tidak akan terhindarkan. Oleh karenanya adalah tantangan tersendiri bagi kedua keluarga besar keraton untuk menyiapkan mutu para calon pewaris tahta: tahta kerajaan dan tahta kegubernuran.

Setelah Kasultanan Yogyakarta lepas dari ikatan perjanjian Giyanti 13 Februari 1755 dan Pasal 1 ayat (1) perjanjian Yogyakarta 18 Maret 1940 serta bergabung dengan Indonesia yang baru lahir, Yogyakarta terbukti mampu menyelamatkan Republik. Jika seluruh pemimpin dan rakyat teguh menghayati dan kreatif mewujudkan nilai-nilai dan semangat hidup yang diperjuangkan dan diteladankan Pendiri Yogyakarta, PASTI BISA! Meskpun ada tantangan kecil. Bagaimana manusia Yogyakarta tuntas mengenali nilai-nilai dan semangat hidup yang diperjuangkan dan diteladankan pepundhennya? Yaitu, Pangeran Mangkubumi, yang sebelum dilantik Belanda menjadi Sultan telah dinobatkan oleh rakyat pejuang  (1749) menjadi Susuhunan ing Kabanaran bergelar Susuhunan Paku Alam itu?***