kdp2-okeTahun 2012 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat memberikan bantuan kepada 25 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Ruang Publik masing-masing sebesar Rp. 150 juta. Bantuan TBM @Mall ini sudah dimulai sejak tahun 2010. Pada uraian petunjuk teknis TBM Ruang Publik lebih banyak menjelaskan TBM yang dilaksanakan di mall, plaza dan atau square, maka kemudian disebut juga dengan TBM@Mall. Ada sebagian pihak yang mempertanyakan efektifitas keberadaan TBM@Mall.

Sebenarnya penerima bantuan TBM Ruang Publik tidak hanya lembaga yang akan menyelenggarakan di mall, plaza dan atau square, tetapi bisa juga di ruang publik lainnya misalnya rumah sakit, stasiun kereta api, terminal bis, dan lain sebagainya. Namun demikian program ini lebih dikenal dengan TBM@Mall karena dalam uraian di dalam petunjuk teknis lebih banyak menjelaskan tentang jenis-jenis kegiatan yang dapat dilakukan oleh TBM di Mall (TBM@Mall).

Gagasan TBM@Mall memiliki tujuan untuk (1) menyediakan dan memberikan layanan di bidang bahan bacaan yang dapat membantu pengunjung ruang publik untuk dapat melakukan kegiatan membaca dalam rangka belajar, mencari informasi, mencari hiburan edukatif, atau hanya sekedar mengisi waktu luang, (2) menumbuhkembangkan kegemaran membaca dan menulis, (3) membina dan meningkatkan minat baca masyarakat melalui kegiatan literasi, dan (4) mendorong pembudayaan kegemaran membaca masyarakat.

Pihak yang mempertanyakan keberadaan TBM@Mall berasumsi bahwa orang berkunjung ke mall adalah sebagian besar untuk berbelanja sambil berekreasi. Persoalannya membaca belum dianggap sebagai aktivitas rekreasi oleh masyarakat kita. Bahkan membaca masih dianggap sebagai beban. Karenanya keberadaan TBM@Mall bisa jadi merupakan upaya yang sia-sia. Menumbuhkankembangkan kegemaran membaca tidak lepas dengan penguasaan teknik membaca yang efektif, di antaranya teknik membaca cepat (scanning dan skimming).

Sementara itu sejak dini, paling tidak sejak SD, anak-anak Indonesia kurang mendapatkan latihan menguasai teknik membaca cepat. Bahkan menghadapi ulangan pun anak-anak lebih suka latihan soal daripada menguasai materi pelajaran.

Maka jika TBM@Mall dikemas dan disajikan secara konvensional, dalam arti memindahkan format Taman Bacaan Masyarakat yang dikenal selama ini ke mall, sudah dipastikan TBM@Mall akan sepi pengunjung. Karena sepi pengunjung pihak manajemen mall pun dipastikan akan keberatan melanjutkan kontrak penyediaan lahan, karena tidak memiliki nilai ekonomis.

Setiap mall pasti mempunyai cara untuk menarik pengunjung, misalnya dengan menggelar berbagai even. Karena itulah TBM@Mall harus bisa melakukan terobosan kegiatan menarik misalnya (1) perlombaan yang melatih imajinasi dan kemampuan berbahasa anak baik lisan maupun tulisan, baik teks maupun visual seperti mendongeng, membaca lantang, membuat puisi, workshop menggambar; (2) diskusi tematik yang akan membahas suatu tren atau topik baru yang sedang berkembang di masyarakat saat itu.

Memperhatikan jumlah calon penerima bantan hanya 25 lembaga, sedangkan ruang publik sebagaimana didefinisikan dalam petunjuk teknis jumlah ribuan di seluruh Indonesia. Maka perlu ada kearifan dalam memberikan kuota kepada TBM@Mall. Pengunjung mall sudah jelas memiliki segmen tertentu, yaitu kelas menengah ke atas. Sementara itu masih ada segmen masyarakat lainnya yang menggunakan ruang publik jenis lain, misalnya di terminal bis, terminal kereta api, rumah sakit dan lain sebagainya.

Bantuan langsung pemerintah kepada lembaga biasanya tidak berlangsung terus menerus untuk tahun berikutnya. Pertanyaannya, siapa yang akan membiayai keberlangsungan TBM@Mall setelah dana bantuan langsung habis digunakan?