paket-c-di-salaman-1Pada tahun 2008 Gus Mansur pimpinan Pondok Pesantren Ushuluddin, Dusun Bawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, datang ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Salaman Kabupaten Magelang. Gus Mansur mengatakan bahwa beliau punya sebanyak 29 santri yang ingin belajar pendidikan umum melalui program Paket C. Namun Gus Mansur menyatakan bahwa tidak ada dana dan tidak tahu bagaimana menyelenggarakan program Paket C bagi santrinya. Intinya pasrah kepada SKB Salaman agar diprogramkan Paket C di pondok pesantrennya.

Akhirnya Drs. Sri Purnanto, Kepala SKB Salaman waktu itu, memutuskan untuk menyelenggarakan program Paket C di Pondok Pesantren Ushuluddin sebagai binaan SKB Salaman. Kemudian ditugaskan enam orang pamong belajar untuk melaksanakan tugas sebagai tutor. Keenam tutor ini menjalankan tugas tanpa diberikan honorarium sebagaimana lazimnya diterima oleh tutor yang melaksanakan pembelajaran di program Paket. Jadilah mereka ini menjadi sukarelawan tutor pada program Paket C di pondok pesantren. Benar-benar sebagai sukarelawan karena tanpa honorarium atau uang transport, dan harus menjangkau lokasi di kaki pegunungan Menoreh di pinggiran laguna kali Tangsi yang sejuk dan rimbun.

Ketika pamong belajar atau tutor di lain tempat bertugas mendapatkan honorarium atas tugasnya, enam orang pamong belajar di SKB Salaman secara bergantian menjalani tugas selama tiga tahun hingga 29 orang santri tuntas menyelesaikan program Paket C tanpa honorarium bahkan jatah uang transpot sekalipun.

Program Paket C berlangsung selama tiga tahun sejak tahun 2008 hingga 2011, sampai akhirnya ke-29 orang santri mengikuti Ujian Nasional Program Paket C (UNPP). Menariknya program Paket C dilaksanakan secara lesehan,tidak menggunakan kursi dan meja sebagaimana layaknya pembelajaran Paket C lainnya. Terlepas dari kesederhanaan penyelenggaraan Paket C di Pondok Pesantren Ushuludin ini, telah memberikan bekal ilmu pengetahuan umum santrinya. Dengan bekal ijazah kesetaraan Paket C memungkinkan santri untuk melanjutkan perguruan tinggi, misalnya ke Universitas Islam Negeri atau perguruan tinggi lainnya. Bahkan ada santri di wilayah Bantul yang mengikuti Paket C dan dapat dijadikan bekal untuk menembus kuliah di Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Menegasikan Stigma Paket C

Program Paket C di SKB Salaman ini dapat digunakan untuk menegasikan stigma yang terlanjur melekat pada Paket C pada umumnya, yaitu bahwa peserta didik cukup ikut UNPP tanpa harus mengikuti proses pembelajaran. Pelaksanaan Paket C di pondok pesantren hanya sebagian dari contoh pembelajaran yang dilaksanakan secara penuh tiga tahun dan diikuti oleh peserta didiknya, yang diselenggarakan oleh SKB Salaman. Paket C SKB Salaman lainnya dilaksanakan secara rutin dan diikuti penuh selama tiga tahun oleh peserta didiknya.

Saat ini ada sebanyak 248 orang peserta didik yang mengikuti program Paket C di SKB Salaman, dengan perincian setara kelas X 98 orang, setara kelas XI 87 orang, dan setara XII 63 orang. Masing-masing setiap tingkatan setara kelas terdiri dari dua rombongan belajar. Jumlah ini belum termasuk yang diselenggarakan di Kecamatan Kajoran Magelang sebanyak 42 orang setara kelas X. Pembelajaran diampu oleh 18 (delapan belas) orang tutor yang terdiri dari 10 orang tutor dari Pamong Belajar dan 8 tutor honorer.

Pelaksanaan pembelajaran Paket C yang diselenggarakan di SKB Salaman dilaksanakan pagi hari Senin, Rabu dan Jumat setiap pukul 08.00-12.30 bagi setara kelas X. Sore hari Selasa, Kamis, dan Sabtu setiap pukul 13.00-17.00 bagi setara kelas XI dan XII. Sore itu, Sabtu 17 Maret 2012, saya melihat aktivitas pembelajaran Pendidikan Agama setara Kelas XII dan Pendidikan Jasmani setara kelas XI. Menurut pengakuan para peserta didik yang saya temui mereka secara rutin mengikuti program Paket C sejak kelas awal (setara kelas X). Seharusnyalah kondisi ini yang harus dilihat secara langsung oleh sebagian kalangan yang melekatkan stigma Paket C sebagai jalan pintas untuk mencari ijazah setara SMA.

Tidak nampak guratan wajah mereka bahwa mereka adalah siswa kelas dua setelah SMA reguler. Mereka ini adalah sekelompok manusia yang terpaksa mengikuti program Paket C karena berbagai alasan, utamanya alasan ekonomi. Ada di antara mereka yang sudah pernah menempuh pendidikan kelas X di SMA swasta, kemudian pindah ke Paket C karena tidak mampu membayar tagihan uang gedung/uang masuk. Ada di antara mereka yang sudah bekerja pada pagi hari membantu orang tua, dan siang harinya ikut Paket C.

Bahkan mereka dengan bangga menggunakan seragam SMA, walau tidak diwajibkan oleh SKB Salaman. Alasan penggunaan seragam sangat sederhana, agar membayar angkot dengan harga siswa. Di samping itu dengan menggunakan seragam sekolah ada kebanggaan pada diri mereka ketika akan berangkat dan pulang dari sekolah Paket C. Sebagian besar dari mereka berada dalam usia sekolah, sehingga wajar jika sebagian dari mereka berkeinginan menggunakan seragam sekolah sebagai layaknya siswa SMA.

Tingginya minat program Paket C di SKB Salaman tidak terlepas cerita sukses dari perangkat desa di sekitar Salaman yang pernah mengikuti program Paket C. Di antara para perangkat desa itu, ada satu orang yang saat ini menjabat Kepala Desa, dan empat orang Sekretaris Desa. Para perangkat desa ini mendapatkan pengalaman pembelajaran secara rutin, bukan secara instan langsung mengikuti UNPP. Berdasarkan pengalamannya, mereka memotivasi warganya yang mengalami kesulitan ekonomi untuk mengikuti program Paket C di SKB Salaman. Lebih baik mengikuti Paket C daripada tidak sekolah sama sekalil, begitu saran mereka seperti ditirukan oleh Subiyantoro, M.Pd., Pamong Belajar SKB Salaman.