dbe2-82Jakarta (08/12) Realitas pembelajaran di kelas masih seperti masa lampau, yaitu guru masih mendominasi waktu untuk menjelaskan materi. Student active learning masih menjadi slogan. Padahal menurut kurikulum tingkat satuan pendidikan diharapkan pembelajaran berorientasi pada siswa. Guru bukan satu-satunya sumber informasi atau pengetahuan.

Oleh karena itu berkaitan dengan rencana pemerintah untuk merevisi kurikulum sekolah menjadi kurikulum 2013 yang disebut juga sebagai kurikulum abad 21, akan sia-sia jika aspek guru tidak menjadi perhatian serius. Guru sudah dituruti keinginannya untuk meningkat kesejahteraannya, dan karenanya diharapkan mampu menunjukan kinerja yang optimal sesuai harapan kurikulum. Nyatanya? Praktek mengajar guru sebagian besar masih seperti dulu.

Sebenarnya silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sudah mencantumkan proses pembelajaran yang berorientasi ke siswa, namun pada prakteknya pembelajaran masih seperti puluhan tahun yang lalu. Hal ini barangkali disebabkan karena guru dituntut atau ditarget agar siswanya berhasil mengikuti ujian nasional. Akibat dari kebijakan ujian nasional yang menerapkan opsi pilihan ganda, sehingga guru menganggap metode drill lebih tepat untuk mengejar target agar siswa dapat menguasai pengetahuan agar bisa menjawab soal ketika ujian.

Korea Selatan dan China ada ujian nasional, namun pembelajaran yang dilakukan guru tidak semata berorientasi pada target ujian nasional semata sehingga melakukan berbagai upaya misalnya drill. Atau bahkan membentuk tim sukses. Pembelajaran yang berorientasi pada siswa benar-benar dilaksanakan sehingga siswa aktif mencari tahu pengetahuan dan atau ilmu pengetahuan pada proses pembelajaran, tidak mengandalkan penjelasan dari guru semata.

Karena itu, jika pun kurikulum baru diterapkan dengan berbagai perubahan di sana sini, namun guru sebagai pendidik tidak dirubah mindsetnya, maka student active learninghanya slogan semata. Lalu ketika guru sudah disejahterakan melalui tunjangan profesi yang menggunakan uang rakyat, apa yang bisa dituntut rakyat bagi perbaikan praktek pendidikan?