Yogyakarta (05/03) Melanjutkan postingan tentang kelulusan ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) Paket C yang diduga akan terjun bebas, perlu ada strategi agar peserta didik tidak banyak yang berjatuhan pada UNPK tahun ini. Kebijakan 20 paket soal dan pelaksanaan UNPK pada hari yang sama dengan UN diduga akan menyebabkan banyak peserta ujian yang tidak lulus.
Menurut Permendikbud nomor 03 Tahun 2013 peserta UNPK dinyatakan lulus apabila memiliki rata-rata nilai akhir (NA) dari seluruh mata pelajaran yang diujikan mencapai paling rendah 5,5 (lima koma lima), dan NA setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (empat koma nol). NA diperoleh dari nilai gabungan antara nilai rata-rata derajat kompetensi (NDK) pada satuan pendidikan Program Paket C dari mata pelajaran yang diujikan secara nasional dan nilai UNPK, dengan pembobotan 40% (empat puluh persen) untuk NDK dari mata pelajaran yang diujikan secara nasional dan 60% (enam puluh persen) untuk nilai UN Pendidikan Kesetaraan.
Ketika penyelenggara Paket C mendaftarkan peserta UNPK tahun 2013 dalam daftar nominatif sementara (DNS), sekaligus diminta untuk menyerahkan nilai rata-rata laporan hasil belajar (NRLHB) semester 1 sampai dengan semester 5. Nilai rata-rata laporan hasil belajar tersebut disebut juga dengan nilai rata-rata derajat kompetensi (NDK). Biasanya penyelenggara ‘membuatkan’ NDK/NRLHB minimal 7,00 atau bahkan 7,50 dengan harapan mampu menolong NA sehingga dapat lulus UNPK. Walaupun hasil belajar nyata yang diperoleh peserta didik belum tentu seperti itu.
Disimulasikan seorang peserta didik diberikan NDK untuk mata pelajaran 7,5 kecuali mata pelajaran Matematikan dan Bahasa Inggris 7,00. Diasumsikan pada UNPK mapel Pendidikan Kewarganegaraan mendapatkan nilai 6,00 karena bisa menjawab benar soal UNPK 60% benar. Sedangkan mapel Bahasa Indonesia, Sosiologi, Ekonomi, dan Geografi masing-masing mendapatkan nilai 5,00 karena bisa menjawab benar soal UN 50% benar. Untuk mapel Bahasa Inggris dan Matematika karena tingkat kesulitan lebih tinggi mendapat nilai 2,50 (Bahasa Inggris, hanya seperempat jawaban benar) dan 2,00 (Matematika, hanya seperlima jawaban benar).
Simulasi seperti di atas dapat disajikan dalam tabel berikut ini.

Nilai UNPK 1
Hasil NA dalam tabel di atas Jika dibandingkan dengan kriteria, maka peserta didik dengan komposisi nilai seperti di atas dinyatakan lulus. Karena rata-rata nilai akhir 5,56 sudah diatas 5,50 (5,56 > 5,50) dan tidak ada NA mapel di bawah nilai 4,00.
Kita perhatikan simulasi nilai NDK dan UNPK di bawah ini.

Nilai UNPK 2
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Geografi, dan Ekonomi mendapatkan NDK 7,00; Sosiologi 7,50; Bahasa Inggris 6,50; dan Matematika 6;00 . Sementara itu nilai UNPK mapel Pendidikan Kewarganegaraan, Sosiologi dan Geografi mendapatkan nilai masing-masing 6,00. Nilai UNPK Bahasa Indonesia dan Ekonomi mendapatkan nilai 5,00. Nilai UNPK Bahasa Inggris dan Matematika masing-masing 2,50 dan 2,00.
Peserta didik dengan komposisi nilai seperti di atas dinyatakan tidak lulus, karena memiliki nilai akhir di bawah 4,00 yaitu pada mapel Matematika sebesar 3,60. Dengan NDK matematika 6,0 maka nilai UNPK Matematika paling tidak 2,70 agar dinyatakan lulus, sehingga NA Matematika sebesar 4,02 dan rata-rata NA menjadi 5,56.
Mata pelajaran yang memiliki tingkat kesulitan tinggi adalah Bahasa Inggris dan Matematika, biasanya pada kedua mapel ini jika dilakukan ujian secara jujur bisa diduga prestasi hasil belajarnya rendah.
Waktu sebulan ini seharusnya dilakukan ujicoba UNPK agar peserta didik terlatih menyelesaikan soal, dan dilatih soal-soal dari indikator yang sering keluar. Memang penyelenggaraan ujicoba atau try out bagi peserta UNPK masih sangat asing, karena tidak terbiasa. Peserta UNPK sudah terbiasa dan dimanja oleh pertolongan dan dijamin lulus.
Tahun ini ketika tidak ada lagi pertolongan, maka peserta didiklah yang bisa menolong dirinya sendiri. Karena itulah penyelenggara Paket C harus mengatur strategi agak tidak banyak terjun bebas tingkat ketidaklulusannya. Strategi yang bisa dilaksanakan adalah mengajak anak membahas soal-soal yang sering keluar berdasarkan kisi-kisi, dibahas mulai dari soal yang memiliki tingkat kesulitan rendah. Dan diikuti dengan ujicoba UNPK untuk mengukur kemampuan anak dan prediksi nilai yang diperoleh.