Spanduk Politik di Lokasi Perwimanas

Perwimanas 006 aMojoagung (23/06) Ma’arif,  lembaga pendidikan umum dan pesantren di  lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) untuk pertama kalinya menggelar Perkemahan Wirakarya Ma’arif NU secara nasional (Perwimanas). Kegiatan diikuti tidak kurang dari 2.500 orang  siswa (dari tingkat SLTP dan sebagian besar SLTA) datang dari 23 propinsi berlangsung sepekan (24 – 29 Juni 2013) di  lingkungan Pondok Pesantren Babussalam (lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren/PP  Kali Bening)  di desa Tanggulrejo, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Namun kegiatan yang di dalam bingkai organisasi kepanduan Indonesia, Gerakan Pramuka, diwarnai adanya spanduk politik di sekitar arena perkemahan.

Anggota Gerakan Pramuka, baik peserta didik, pembina maupun andalan tidak dilarang berpolitik. Namun ada etika dimana tidak menggunakan kegiatan kepramukaan menjadi media politik praktis. Hal mana diatur dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka Pasal 6 ayat (2) Gerakan Pramuka bukan organisasi sosial-politik, bukan bagian dari salah-satu organisasi  sosial-politik dan tidak menjalankan kegiatan politik praktis.

Perwimanas 007aPerkemahan Wirakarya Ma’arif NU Nasional merupakan pertemuan Pramuka pada Gugusdepan di lembaga pendidikan Ma’arif, barangkali dianggap seksi oleh partai politik terutama partai politik berbasis masa NU. Terlebih para peserta adalah para pemilih pemula sehingga dipandang menjadi sasaran empuk sosialisasi calon legislatif partai politik.

Perwimanas 002 aMengenakan seragam pramuka dalam acara politik, apalagi memasang pada spanduk sosialisasi calon legislatif partai politik sangat dilarang. Atribut kepramukaan dilarang digunakan pada kegiatan politik praktis kepartaian, dan sebaliknya atribut kepartaian dilarang digunakan pada kegiatan kepramukaan.

Menurut Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama, Zamzami, saat jumpa pers di media center kemarin sore (23/6) perkemahan ini tidak semata menanamkan nilai-nilai kepanduan kepada peserta. Yang lebih penting adalah membekali mereka terhadap wawasan keindonesiaan dan keislaman yang benar.

“Perwimanas adalah diantara ikhtiar yang dilakukan NU lewat Maarif untuk melakukan gerakan kultural sehingga para peserta tidak mudah tergoyahkan oleh sejumlah paham baru yang akan merusak keyakinan mereka,” katanya.

Sebagai kegiatan kultural dalam bingkai pendidikan kepramukaan sangat disayangkan jika dimanfaatkan oleh sebagian caleg yang menodai tujuan mulia kegiatan. Kita harus ikut menanamkan kesantuan dan etika berpolitik, dan mengajarkan kepada generasi muda untuk mentaati aturan organisasi Gerakan. Pramuka.

3 tanggapan pada “Spanduk Politik di Lokasi Perwimanas”

  1. – Jadi inget iklannya SBY, ARB dan para calon Pemimpin Daerah menjelang PEMILU dan PILKADA.
    – Pramuka kok mulai tak ramah lingkungan tuh kak, masak pohon dipaku 🙂

  2. Sudijono menyampaikan, maksud dan tujuannya adalah membentuk setiap insan pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dan memiliki kecakapan hidup sebagi kader bangsa dalam menjaga dan membangun NKRI, mengamalkan Pancasila serta melestarikan lingkungan hidup.

  3. Sehubungan Gerakan Pramuka adalah bersifat non politik, maka tidaklah layak membawa lembaga ini kedalam kancah politik maupun yang bersifat politik praktis. Meskipun setiap anggota Gerakan pramuka memiliki hak suara namun pada prakteknya Gerakan Pramuka dituntut tetap netral. Tidak memposisikan Kwartir/ Gugusdepan/ satuankarya dalam dukung-mendukung atau memihak pada salah satu peserta pemilu.

Komentar ditutup.