Bu DirjenOleh Edi Basuki

Konon, dalam sebuah pertemuan resmi, Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog, pejabat Direktorat Jenderal PAUDNI mengatakan bahwa dana pengembangan model (yang ratusan juta besarnya) itu hanya memperkaya pamong belajar saja. Sinyalemen yang cerdas dari seorang akademisi universitas ternama itu pun mendapat respon bermacam, bahkan ada yang diam saja, tidak merespon apa-apa karena memang yang dilontarkan Bu Dirjen itu ada benarnya.

Namun di sosial media, apa saja yang diposting selalu akan mendapat komentar yang beragam, termasuk sekedar mengacungkan jempol karena tidak berani berkomentar, takut terkena pasal melanggar kedisiplinan yang bisa berdampak pada stabilitas rejeki kantor.

Yang jelas sinyalemen orang nomor satu di PAUDNI ini telah bergulir dengan aneka komentar ‘gugatan’. Karena tidak semua pamong belajar setiap tahunnya mendapat surat tugas melaksanakan pengembangan model seperti yang tertera dalam tupoksinya. Contohnya, hampir semua pamong belajar di SKB yang dalam bekerjanya sering tidak sesuai dengan tupoksi, karena harus tunduk kepada kebijakan otoda,

“ Pamong belajar SKB, belum pernah ada diberi bantuan dari pusat untuk dana pengembangan model walau salah satu tugas nya mengembangkan model, tetapi kami bekerja menyesuaikan dengan tupoksi kami yang berdasarkan perda masing-masing,” Kata Lya ME. Begitu juga dengan Mulyono, pamong belajar SKB Situbondo, meminta kepada Bu dirjen agar tidak nggebyah uyah podo asine, sebab tidak semua pamong melu ngrasakne asin.

“Kasihan kawan-kawan SKB, belum apa-apa sudah diragukan kejujuran profesinya. Ssssuueeddiihh…” Kata mBakyu Yetti Pudiyantari, pamong belajar BPKB Yogyakarta, dalam postingannya.

Begitu juga, tidak semua pamong belajar di BPPAUDNI  berkesempatan menikmati anggaran model yang ratusan juta itu. Jadi, pamong belajar yang mana yang dituduh oleh Ibu Profesor ini?. Celetukan Bu Dirjen itu muncul (mungkin)  karena rasa galau melihat puluhan model yang dikembangkan pamong belajar itu, dirasa (menurut pemahamannya) kurang bermutu karena judulnya aneh-aneh dan lucu-lucu, seakan dipaksakan sehingga rasa bombastisnya itu kental sekali dan belum banyak model yang layak jual, layak terap, layak pakai, layak duplikasi dan bahkan yang lebih parah lagi model tersebut tidak layak baca oleh ‘khalayak ramai’ sebagai calon pengguna.

Sayangnya, celetukan mesra ini tidak dibarengi dengan solusi yang penuh kasih dari seorang Ibu (dirjen) kepada anaknya (bawahannya yang menjadi ujung tombak program dirjen paudini di lapangan) dalam rangka memperbaiki model yang mutunya benar-benar sesuai dengan besarnya dana yang dianggarkan, sehingga tudingan bahwa uangnya hanya memperkaya pamong belajar itu benar-benar tidak mendidik, bahkan secara tidak langsung menjadikan tim pengembang model merasa gak enak karena selalu dicurigai terlalu banyak menyunat uang model untuk keuntungan pribadi.

Alangkah bijaknya jika “dawuh” Bu dirjen itu disampaikan di depan masing-masing pamong belajar P2PAUDNI dan BPPAUDNI yang rutin menerima anggaran pengembangan model. Karena semua ini menyangkut masalah kaulitas SDM internal dari P2PAUDNI dan BPPAUDNI yang tidak selalu sama dalam memahami penggunaan dana model dan produk model yang dihasilkan.

Konon, dalam jurnalistik, salah satu sumber berita yang menarik untuk ditulis adalah ucapan seorang pejabat, tinggal kepekaan penulis dalam menerima pesan yang kemudian di angkat ke arena publik. Artinya ucapan Bu dirjen itu bisa dijadikan bahan kajian untuk melihat sampai sejauh mana kebenaran sangkaan beliau terhadap kelakuan pamong belajar dalam mempermainkan anggaran ratusan juta untuk satu judul model, sekaligus melihat seberapa kayakah pamong belajar yang selalu bergelimang model disetiap tahunnya.

Sekarang yang harus dipertanyakan adalah, pamong belajar mana yang produk modelnya hanya memperkaya diri, mengapa modelnya bisa seperti itu?, padahal dalam setiap kegiatan pengembangan model selalu ada pakar yang ditunjuk untuk mendampingi. Bahasa proyeknya sering disebut dengan konsultan akademik, konsultan teknis, kadang ditambah dengan praktisi, nara sumber teknis dan sebutan lain untuk memperkuat model (bahkan mungkin ke depan perlu juga menunjuk konsultan spiritual agar pernyataan Bu dirjen tidak muncul lagi dan tidak menjadi sorotan BPK dan KPK).

Terkait dengan barisan konsultan handal ini, ternyata juga beragam, ada professor, ada Doktor, ada dosen senior, ada praktisi, ada pensiunan pejabat yang dianggap mumpuni karena sungkan dan bermacam perangai sehingga berpengaruh pada motivasi kerjanya mendampingi tim pengembang model. Seperti postingannya sekjen IPABI, yang mengatakan bahwa gairah konsultan akademis itu beragam, ada yang melaksanakan tugasnya sesuai dengan kepakarannya, ada konsultan akademis diberbagai proyek sehingga keterlibatannya dalam penyusunan model kurang optimal, saking banyaknya yang dikonsultani, ya istilahnya kejar setoran, akademisi yang demikian inilah yang paling dicari pamong belajar karena mudah diajak main mata.

Celotehan Bu dirjen pun menyulut amarah dari seorang dosen yang pernah (mungkin sering) menjadi konsultan karena “diarani” turut memperkaya diri ketika menjadi konsultan. “Saya tidak pernah kaya selama menjadi tim akademisi pusat maupun provinsi,” Kata W. Widyawati rahayu dalam postingannya .    “Emangnya akademisi dibayar berapa sih kok bisa kaya? saya kok sebagai akademisi belum pernah? Huahahahaaa “ Kata Doktor Iis Prasetyo.

“Kalau soal tim akademisi, memang tidak semua amanah Bu … kasih masukan tidak, koreksi enggan, tapi ready for sign only. İtu juga hanya oknum, tidak semua. Karena saya masih punya akademisi handal yang tak berhitung, seperti Bu W Widyawati Rahayu, Prof. Gafur, Bu Tiwi, Pak Iis Prasetyo dan lainnya,  We proud of you all.” Kata mBak Yetti, begitu sapaan akrapnya.

Sayangnya sinyalemen dari orang nomor satu di PAUDNI ini tidak menjadi keprihatinan dari pamong belajar yang dituduh memperkaya diri dari uang model. Mereka hanya diam saja, memilih tidak berkomentar karena sudah nyaman di zona aman. Rasa kepeduliannya terhadap nasib profesi pamong belajar sudah hampir mati, sehingga pernyataan Bu dirjen yang menyakitkan itu pun dianggap sebagai nyanyian pagi yang melenakan nurani.

Edi Thole, dalam postingannya mengatakan, jika sinyalemen diungkapkan oleh Bu Dirjen ditujukan kepada pamong belajar, maka seharusnya pamong ya mesti waspada… Pertanyaannya, siapa yg memberi tanda dan memberi isyarat kalau bukan pamong sendiri? artinya, bisa jadi memang ada oknum pamong belajar yang kaya raya dari ‘nilep’ uang pengembangan model…saya tidak tahu. Apakah Anda tahu, cak Edi? kalau tahu yuk gebukin rame-rame. Waduh, kok jadinya mengarah ke anarkhis ya?.

Yang jelas, celotehan pejabat sebagai sumber berita harus diapresiasi dengan berbagai saran agar bisa dijadikan bahan pengambilan kebijakan. Tidak sekedar menyalahkan, menuduh, dan mencurigai, namun juga sebuah pembelajaran bagi kita semua insan paudni. [edibasuki/humasipabi.pusat_online]*

ebas 1*) Edi Basuki adalah pamong belajar BPPAUDNI Regional II Surabaya saat ini menjabat sebagai Humas Pengurus Pusat IPABI