Yka 14aOleh karena itu, sebutan nama-nama bangunan dan lingkungan juga disesuaikan dengan letak, kegunaan dan maknanya. Bahkan jenis dan nama pohon juga ditentukan sesuai letak dan perlambangannya. Misalnya, alun-alun  selatan adalah lapangan gelora gegap-gempita latihan perang para prajurit muda. Para pemuda yang telah beranjak dewasa menunjukkan keberanian dan ketangkasan berperang. Maka pohon lambang yang ditanam adalah kweni (mangifera odoranta) dan pakel. Pohon itu menunjuk kata wani atau berani dan rokel atau banyak tingkah bermasalah.

Kweni dan pakel, meskipun beraroma harum tetapi rasanya asam-manis. Orang muda digambarkan sebagai manusia pemberani yang bermasa depan cerah. Namun, bagaimanapun juga ia masih belum matang dan sering rokel atau berkelakuan dekat masalah. Meskipun demikian, pagar yang mengurung pohon beringin kembar alun-alun selatan berbentuk busur panah. Maksudnya, para pemuda yang masih belajar dengan berbagai kekurangannya haruslah berani melesatkan jangkauan cita-cita jauh ke depan. Pemuda tidak boleh terkungkung dalam kebodohan dan harus berani bangkit dari kegagalannya. Pandangan diarahkan ke masa depan yang hendak diraih dengan perjuangan atau angesthi gegayuhan.

Yka 14bDi dalam lingkungan terdalam, paling dekat dengan tempat berdiam raja, pohon yang ditanam sudah lain lagi. Misalnya, sawo kecik dan jambu dersana. Sawo kecik maksudnya serba baik (sarwa becik). Menanam sawo kecik mengingatkan menanam kebaikan (nandur kabecikan). Jambu dersana adalah pohon istana para dewa. Lambang tumbuh, kembang serta buah pengetahuan dan kebijaksanaan. Dari bawah pohon jambu dersana mengalir air susu dan air kehidupan abadi.

Nama-nama kampung juga dimaksukan untuk mengenang orang-orang yang berjasa bagi kerajaan. Tidak hanya kalangan bangsawan, tetapi juga orang-orang kecil abdi dalem. Contoh, Kampung Kintelan, untuk mengenang sahabat bijaksana Hamengku Buwana I. Namanya Sjech Maja Agung yang sederhana, sampai meninggalnya ibarat katak kintel. Kampung Gowongan adalah tempat tinggal para abdi dalem Gowong (ahli bangunan dari kayu). Kampung Bugisan adalah lingkungan para prajurit suku Bugis Sulawesi pendukung Mangkubumi melawan VOC.

Yogyakarta Kotaraja, buku besar tentang semangat dasar, pandangan dan sikap hidup pendirinya Pangeran Mangkubumi Sultan Hamengku Buwana I. Kota monumen jasa besar rakyat kecil melawan VOC  Belanda merebut kedaulatan negeri, menyelamatkan tahta Mataram. Sang Arjuna Kartasura mewujudkan jatidiri asthabrata hamemayu hayuning bawana. Di Bhumi Ayodya tanah pusaka Mataram warisan leluhurnya.

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan