SMA Bina Putera (17)Serang, Banten (06/04) Kampung Sebe Karamat, Desa Rancasumu, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang Banten hanya 40 km dari ibukota Jakarta. Namun tingkat pendidikan masyarakat masih memprihatinkan. Pendidikan masih belum merupakan kebutuhan masyarakat. Banyak remaja putri melakukan pernikahan dini, sedangkan anak laki-laki banyak yang memilih menjadi kenek truk atau pekerjaan kasar lainnya di kota.

Karena itulah kondisi sosial ekonomi masyarakat sampai saat ini belum bisa meningkat signifikan mengimbangi kemajuan metropolis yang sangat dekat dengan kampung Sebe Karamat. Potret kondisi ekonomi masyarakat dapat dilihat ketika menyusuri jalan memasuki Sebe Karamat. Rumah reot yang terbuat dari bambu atau kayu dan tidak terawat rapi menjadi pemandangan biasa.

Banten (23)Padahal dari Cikande begitu keluar jalur Pantura menuju kampung Sebe Keramat, yang melalui jalan berlobang yang lebih mirip sungai kering, banyak ditemui pabrik juga memperkerjakan penduduk setempat.  Entah kenapa keberadaan pabrik yang banyak bertebaran belum mampu mengangkat perekonomian rakyat setempat.

Nampaknya perlu proses penyadaran dan perubahan mindset agar kehidupan masyarakat lebih baik lagi. Dan hal itu hanya bisa dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan yang memberikan multimakna, tidak sekedar transfer ilmu dan pengetahuan. Pendidikan yang tidak mencerabut peserta didik dari akar masyarakatnya, pendidikan yang mampu menyiapkan peserta didik berkompetisi menghadapi hidup dan kehidupan. Pendidikan yang mampu menyiapkan peserta didik mampu mengatasi persoalan kehidupannya.

Berangkat dari kegelisahan itulah, maka sejak sepuluh tahun yang lalu Akhmad Supriatna menggagas sekolah kampung. SMA Bina Putera, sekolah kampung itu, didirikan benar-benar di tengah kampung, tidak di pinggir jalan besar berbeda dengan sekolah lainnya yang berada di akses jalan, minimal jalan kabupaten/kecamatan. Dari jalan kecamatan masih harus masuk satu kilometer ke dalam kampung. Dan letaknya di pinggir persawahan. Sekolah kampung SMA Bina Putera kini menempati areal seluas 3,5 Ha memiliki tujuh lokal kelas lengkap dengan laboratorium IPA dan bahasa serta komputer.

20110530190633248162246Pendekatan pembelajaran lebih banyak dilakukan di lapangan, alam juga berfungsi sebagai laboratorium. Oleh karena itulah di lahan sekolah terdapat petak sawah, kebun tanaman sayuran dan hortikultura, peternakan bebek, ayam serta kambing yang dikelola siswa secara berkelompok.

Ketika banyak pihak yang berlomba mengelola pendidikan berbasis iuran, dengan tarikan uang pangkal jutaan rupiah dan uang bulanan ratusan ribu rupiah, sekolah kampung menentang arus. Bahkan iuran bulanan yang hanya sebesar Rp. 50.000 itu lebih rendah dari SMA Negeri di sekitar Sebe Karamat. Dengan demikian banyak kelompok masyarakat bawah yang mampu mengakses sekolah kampung.

200908131613311911520300Memang itulah tujuan didirikan sekolah kampung SMA Bina Taruna di Sebe Karamat, untuk membuka akses seluas-luasnya bagi kelompok masyarakat bawah agar bisa mengakses pendidikan menengah. Walaupun murah, bukan berarti sekolah kampung diselenggarakan secara kampungan, sekolah memberikan pendidikan yang berkualitas bagi siswanya.

SMA Bina Putera mulai menyelenggarakan proses kegiatan belajar mengajar pada tahun 2003/2004, dengan gedung sederhana di atas tanah yang dihibahkan oleh keluarga H. Priyono. Pada tahap awal mendapat bantuan dari komunitas Bikers Moge Bintaro, selanjutnya hingga kini mendapat bantuan dari Yayasan Baitul Maal BRI.

Dalam melaksanakan proses pembelajarannya sekolah kampung SMA Bina Putera mendasarkan pada prinsip bahwa peserta didik adalah karunia Tuhan yang terlahir cerdas, tidak ada yang bodoh. Oleh karena itu dalam pembelajaran sehari-hari guru bertindak sebagai teman dewasa yang berusaha memberikan teladan. Sekolah dijadikan sebagai tempat belajar kehidupan, hal ini ditunjukkan sekolah memiliki areal pertanian, perkebunan dan peternakan sebagai ajang berlatih siswa. Sehingga siswa tidak akan tercerabut dari tradisi dan akar budaya masyarakatnya.

Sekolah kampung SMA Bina Putera tidak menerapkan hukuman, alasannya mendidik adalah membimbing bukan menghukum. SMA Bina Putera tidak memiliki tembok pagar yang mengelilingi dan membatasi sekolah dengan lingkunan. Jadi bisa saja anak pergi membolos ke luar kampus sekolah pada jam-jam tertentu, namun hal itu tidak terjadi di sekolah ini. Anak dengan kesadaran dan enjoy mengikuti proses pembelajaran tidak ada yang berusaha membolos.

Ketika sekolah lain atau instansi pemerintah belum menerapkan presensi finger print, sejak tahun 2005 sekolah ini sudah menerapkan. Tak ketinggalan, walau pun terletak di tengah perkampungan akses internet bukan menjadi kendala.

Pembelajaran di SMA Bina Taruna hanya berlangsung 5 lima hari, tanpa menambah jam belajar setiap hari. Anak tetap masuk jam 7.00 sampai jam 12.45. Hari Sabtu merupakan hari ekstra kurikuler yang dikelola oleh siswa sendiri.

20090814171527260659284Lulusan SMA Bina Putera tidak kalah bersaing dengan SMA lainnya. Setiap tahun berhasil memasukkan lulusannya ke PTN melalui jalur undangan. Tahun 2012 lalu lima siswa berhasil menembus jalur undangan, padahal SMA Negeri sekitarnya hanya mampu memasukkan dua orang siswanya.

Pada bulan Maret 2013 ini SMA Bina Taruna sudah menutup pendaftaran siswa baru, karena jatah tiga kelas yang disediakan untuk kelas X tahun ajaran 2013/2014 sudah terpenuhi. Uniknya penerimaan siswa baru tidak melalui seleksi, apalagi dengan tawar menawar uang pangkal sebagaimana sekolah swasta lainnya. Siapa yang mendaftar duluan, itu yang diterima sampai jumlah kursi terpenuhi.

“Ciptaan Tuhan koq diseleksi?” itu yang meluncur dari Akhmad Supriatna memberi alasan mengapa tidak ada seleksi pada penerimaan siswa di sekolahnya. Lebih lanjut pria lulusan Teknologi Pertanian sebuah perguruan tinggi itu menjelaskan bahwa sangat gampang mendidik anak yang sudah diseleksi, justru tugas guru dan sekolah mendidik anak yang tidak pandai menjadi pandai.