old-beringharjo-31aYogyakarta dulu dikenal sebagai kota sepeda disamping sebagai kota pelajar. Seiring dengan perkembangan jaman, Yogyakarta berubah menjadi kota motor. Jika doeloe jalanan Yogyakarta berdesakan sepeda, sekarang ini jalanan penuh sesak dengan sepeda motor. Hal ini ditambah dengan masih belum optimalnya transportasi publik yang nyaman. Karena itulah untuk mengurangi kepadatan kendaran bermotor di jalan-jalan kota Yogyakarta, pemerintah kota pada tahun 2008 menginisiasi gerakan Sego Segawe kependekan dari Sepeda Kanggo Sekolah lan Nyambut Gawe artinya ke sekolah dan bekerja dengan menggunakan sepeda.

Kondisi saat ini sepeda dipandang sebagai kendaraan yang tidak diperhitungkan keberadaannya. Padahal sepeda memiliki kekuatan sebagai solusi alternatif mengatasi problematika transportasi. Sungguh, sepeda merupakan moda transportasi murah, hemat, mengurangi polusi, mengurangi kemacetan, menghemat BBM, dan tentu saja bermanfaat bagi kebugaran tubuh. Apabila 10 % warga Kota Yogyakarta yang berusia 10 – 59 tahun menggunakan sepeda sebagai moda transportasi maka kurang lebih ada 36.861 (sumber : SPAN 2005) pesepeda setiap harinya lalu lalang di jalan Kota Yogyakarta. Jumlah yang luar biasa dan signifikan terhadap penghematan BBM serta mengurangi kepadatan lalu lintas.

jalur-alternatif-sepedaSementara itu dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 62 ayat 1 menjelaskan bahwa pemerintah harus memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda. Selanjutnya dalam ayat 2 disebutkan bahwa pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas. Memperhatikan aturan tersebut maka kita akan melihat di kota Yogyakarta beberapa rambu penunjuk untuk jalur pesepeda. Di samping itu di setiap simpang jalan yang terdapat lampu APILL disediakan ruang tunggu untuk pesepeda. Hal ini perlu dilakukan agar pesepeda bisa tetap mengakses jalan raya dengan aman dan nyaman. Walaupun kota Yogyakarta belum menyediakan jalur eksklusif bagi pengendara sepeda. Namun pengaturan jalur alternatif sepeda dan adanya ruang tunggu di tiap simpang jalan sudah cukup lumayan. Namun hal ini belum cukup untuk menggerakkan kesadaran masyarakat untuk kembali bersepeda.

januari-2012-033Sayang gerakan ini masih kurang mendapat sambutan yang signifikan dari masyarakat, dalam artian bersepeda sebagai kegiatan sehari-hari. Jarang sekali masyarakat yang menggunakan sepeda untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Walaupun dalam jarak yang sangat dekat sekalipun masyarakat lebih memilih sepeda motor untuk melakukan mobilitas. Hal ini dapat kita perhatikan dari sangat sepinya sepeda di jalan raya dan ruang tunggu sepeda di tiap simpang jalan di kota Yogyakarta.

ngepitAktivitas bersepeda akan sangat terasa ketika hari minggu atau hari libur lainnya, dimana masyarakat menggunakannya sebagai sarana olahraga bukan sebagai sarana mobilitas jarak dekat. Pada awal dicanangkan gerakan ini sempat menuai protes dari beberapa kalangan karena dinilai terlalu top down bukan mengarah pada kesadaran masyarakat. Akhirnya kita juga bisa melihat ketika sudah terjadi disorientasi atas sebuah gerakan maka hasilnya juga tidak optimal. Hal ini bisa dilihat menggunakan sepeda masih sebatas sebagai sarana berolahraga. Padahal sego segawe adalah ajakan untuk berangkat kerja dan sekolah menggunakan sepeda bagi yang memiliki jarak perjalanan di bawah 3 km.

Seperti juga menjadikan masyarakat beradab di jalan, apakah penyadaran untuk bersepeda juga suatu hal yang sulit untuk diwujudkan?