Dok SKB Temanggung

Dok SKB Temanggung

Temanggung (08/01) Lima tahun lagi akan terjadi kondisi dimana banyak Sanggar Kegiatan Belajar tanpa pamong belajar. Hal itu bisa terjadi jika tidak segera dilakukan rekrutmen pamong belajar baru. Ironisnya, Sanggar Kegiatan Belajar akan tetap bisa melakukan penyelenggaraan satuan pendidikan nonformal walau nantinya tidak memiliki pamong belajar.

Banyak Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang saat ini hanya memiliki kurang dari lima orang pamong belajar, itupun mereka sudah mendekati masa pensiun. SKB Temanggung, contohnya saat ini hanya memiliki dua orang pamong belajar. Jika tidak ada penambahan pamong belajar baru, dalam waktu dekat SKB Temanggung terancam tidak memiliki pamong belajar.

Kondisi tersebut dialami oleh sebagian SKB yang pada era otonomi daerah tidak mampu menambah pamong belajar baru. Sementara itu banyak pamong belajar (usia muda dan potensial) yang diangkat menjelang era otonomi daerah banyak yang mutasi ke jabatan lain, sehingga yang tertinggal pamong belajar yang mendekati masa pensiun. Maka tidak lama lagi kita akan menyaksikan SKB tanpa pamong belajar.

Berbeda dengan sekolah, sekolah tanpa guru proses kegiatan belajar mengajar tidak bisa berjalan. SKB tanpa pamong belajar nampaknya akan tetap eksis, karena selama ini di tengah kekurangan tenaga pamong belajar proses kegiatan belajar mengajar satuan pendidikan nonformal di SKB diampu oleh pendidik berstatus honorer. Satuan PAUD yang diselenggarakan oleh SKB, lebih banyak merekrut pendidik PAUD dari luar daripada dilaksanakan sendiri oleh pamong belajar. Kursus keterampilan pada SKB juga banyak merekrut instruktur dari luar atau honorer. Begitu pula pada satuan pendidikan kesetaraan banyak meminta bantuan guru sekolah menjadi honorer tutor di SKB.

Keterbatasan jumlah pamong belajar kemudian memaksa mereka hanya menjadi pengelola program, bukan sebagai pendidik pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh SKB. Hal ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun, karena terbatasnya jumlah tenaga tata usaha di SKB. Sehingga ketika SKB kehabisan pamong belajar, ketiadaan pamong belajar tidak lagi menjadi masalah. Ibarat idiom anak muda, tidak ada pamong belajar di SKB: emang masalah buat lo?

Tidak ada pamong belajar di SKB Kota Tegal (Dok/Ist)

Tidak ada pamong belajar di SKB Kota Tegal (Dok/Ist)

Artinya, ketika SKB tanpa pamong belajar tidak menjadi masalah maka usaha rekrutmen pamong belajar baru tidak akan menjadi gerakan masif. Pemangku kepentingan akan tenang-tenang saja, toh aktivitas SKB akan tetap berjalan walau tanpa pamong belajar. Hal ini sudah terjadi di SKB Kota Tegal yang tidak memiliki pamong belajar, namun kegiatan pada satuan pendidikan nonformal tetap berjalan. Bahkan pendidik (tutor, instruktur dan pendidik PAUD) mendapatkan alokasi honorarium melalui APBD.

Disinilah pamong belajar perlu kembali ke jati dirinya sebagai pendidik, menciptakan ketergantungan satuan pendidikan nonformal di SKB pada pamong belajar. Ibarat sekolah kehabisan guru, maka SKB dan Dinas Pendidikan akan buru-buru mencarikan pengganti atau merekrut pamong belajar baru. Ketergantungan itu hanya bisa terjadi jika pamong belajar benar-benar menjadi pendidik.

Di lain pihak merubah fungsi SKB dari hanya sekedar unit pelaksana teknis dinas (UPTD) menjadi satuan pendidikan nonformal langsung di bawah Dinas Pendidikan kabupaten/kota. Menjadi satuan pendidikan seperti sekolah selama ini.