benteng ungaranBendera perang telah berkibar. Semangat juang rakyat semesta bersama para bupati dan bangsawan panglima makin berkobar. Tidak ada pilihan lain bagi Mangkubumi dan sahabat-sahabatnya. Mereka harus mengangkat senjata melawan Belanda sambil menyatukan daerah-daerah lainnya. Kekuatan pasukan gabungan dalam setahun telah berlipat. Tahun 1746 pasukannya baru 3.000 dan tahun berikutnya 1747 menjadi 13.000 prajurit terlatih dan rakyat pejuang.

Kekuatan sebesar itu belumlah cukup. Karena, lawannya adalah ribuan tentara VOC dan ribuan lagi prajurit kabupaten-kabupaten penentangnya. Perjuangan memang tidak mudah. Ia harus mengusahakan persediaan pangan dan obat-obatan, perlengkapan perang dan pelatihan prajurit baru. Masih lagi, ia perlu menguatkan semangat prajurit yang kalah tempur, menjaga keutuhan sekutu perang, dan lain-lain. Tidak sedikit orang kepercayaannya membelot mencari selamat saat terjepit sehingga harus ditindak tegas.

Untuk berjuang tidak cukup keberanian dan ketangkasan, tetapi juga keteguhan dan kecerdasan memimpin. Lebih dari itu harus ditunjukkan pula bukti kebenaran landasan dan tujuan berjuang. Itu semua terpenuhi. Mangkubumi semakin dipercaya dan mendapatkan dukungan-dukungan baru. Kadipaten Pekalongan yang bersekutu dengan Belanda, meskipun tadinya digempur lewat perang 20 Maret 1752 akhirnya menyatakan bergabung. Pelaut-pelaut luar Jawa juga bergabung dengan damai. Kapten Juwana dari Bugis, Galengsong dari Makasar dan Kraeng Daeng dari Ternate masing-masing dengan pasukannya menyatakan bergabung.

prajurit vocBelanda geram atas jatuhnya daerah-daerah  pertahanan dan sumber pendapatan. Serangan terhadap pasukan gabungan Mangkubumi diperhebat. Namun demikian ketakutan juga setelah pasukan tentara andalannya tertumpas. Pertempuran Jenar yang terkenal sebagai pertempuran Bagawanta kocar-kacir, Majoor Clerq gugur di tangan prajurit Prawirarana. Ada yang lebih tragis dan menggentarkan. Yaitu, jatuhnya Benteng Ungaran kubu pertahanan VOC di Semarang pada tahun 1751. Mengapa? Baron van Imhoff, Gubernur Jenderal Batavia sendiri yang memimpin pertempuran di situ terluka parah.

Ada kepercayaan, barang siapa menguasai benteng Ungaran akan jaya. Entah benar atau tidak keyakinan itu. Tak lama kemudian Gubernur Jenderal Imhoff akhirnya gugur, digantikan Jacob Moesel. Hogendorff Gubernur wilayah Semarang dan pantai timu Jawa dicopot jabatannya digantikan Nicholaas Hartingh. Sudah 100 tahun VOC terus menerus mengeluarkan ongkos perang saudara Keraton Mataram. Sedangkan kemampuan VOC sendiri sesungguhnya sudah melemah. Baru nanti, resmi dibubarkan 31 Desember 1799 dan seterusnya wewenang VOC diambil alih Kerajaan Belanda.

Di Batavia Gubernur Jenderal Jacob Moesel berunding dengan para pejabatnya. Ia ingin sekali menyelesaikan kemelut Mataram yang telah berlarut-larut menyeret Belanda. Pilihannya hanya dua: perang besar-besaran menumpas Mangkubumi atau sebaliknya berdamai sekalian. Gubernur Hartingh yang fasih berbahasa Jawa dan memahami budaya Jawa memilih berhenti perang. Pendekatan militer dan adu domba untuk mendapatkan keuntungan diubah menjadi perdamaian. Karena untuk berperangpun Belanda sudah tidak kuat lagi. Belum lagi, desakan politik demokrasi Perancis yang sedang menjajah Belanda. Kolonialisme mulai kehilangan pamor dan pendukung di tanah airnya sendiri. Jacob Moesel setuju, kemudian mengutus Ibrahim orang Turki untuk memperantarai perundingan dengan Mangkubumi. Mudahkah perundingan itu dalam kenyataannya? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan