Dok: detik.com

Dok: detik.com

Namanya drg. Rianti Aryani, wanita asal Indonesia yang pernah bertugas di Angkatan Udara Amerika Serikat. Wanita muslim berjilbab ini setelah keluar dari dinas Angkatan Udara, ia harus bekerja di dunia sipil. Namun setelah melamar di berbagai tempat ia tidak bisa diterima karena alasan menggunakan jilbab.

Ia terdiskriminasi di negara yang mengalami islamicphobia pasca kejadian 11 September. Perjalanan kariernya menghadapi diskriminasi diceritakan oleh detik.com edisi Jumat 8 Agustus 2013.

Ia bersuamikan Richard Bennett, pria Amerika yang menjadi muslim tujuh tahun sebelum menikah dengan Rianti. Ada kutipan Rich, panggilan Richard Bennett, yang patut disimak oleh kalangan pendidikan nonformal yang sama-sama terdiskriminasi di jagat sistem pendidikan Indonesia.

“Anda selalu akan menemukan kontradiksi. Di Indonesia ada 280 juta umat Islam, tapi juga banyak korupsi, ini kontradiksi. Di Amerika juga punya masalah yang sama, ada kontradiksi itu. Masalahnya adalah hatimu, bukan masalah di mana tempatmu. Hatimu yang menentukan semua kontradiksi ini, bagaimana mau menjalani hidup berdasarkan baik atau buruknya hati ini,” kata Rich.

Dirinya dan istrinya bisa saja marah, kecewa dan mengeluh atas semua perlakuan diskriminasi ini. Alih-alih memilih kecewa dan marah, dirinya lebih memilih bersyukur, menerima dan menghadapinya.

“Mengalami diskriminasi, ada sesuatu yang salah dalam hati, marah, balas dendam, kecewa, mengeluh. Semua itu penyakit hati dan itu tidak konsisten dengan iman. Jangan lari, harus dihadapi,” tegas Rich yang lahir di Fayetville, North Caroline, 22 September 1964 ini.

Ranti menambahkan, dalam menghadapi masalah diskriminasi yang dialaminya ini, dirinya dan Rich menghadapi dengan sikap dan ahklak terbaik.

Mudah-mudahan perjalanan Rianti ini dapat menginspirasi insan pendidikan nonformal yang masih terdiskriminasi oleh politik pendidikan nasional. Memperjuangkan pendidikan nonformal yang bermartabat bukan dengan sikap kecewa dan marah. Tapi dengan berjuang dan berbuat. Jadi teringat lagi kata-kata WS Rendra:

Hidup tidak untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah hidup
Bekerja membalik tanah dan mengarungi samodra…