Harapan Baru Presiden Baru

peluncuran-buku-ar-baswedanYogyakarta (20/10/2014) Anis Baswedan mengatakan bahwa kita selama ini menganggap kebiasan itu adalah kebenaran tapi kita balik dan mesti membiasakan yang benar. Revolusi mental akan berbenturan dengan kebiasaan kita selama ini. Dan kebiasaan itu belum tentu benar. Hal itu disampaikan pada Seminar Revolusi Mental di Makassar Jumat lalu (17/10/2014).

Hal yang sama terjadi pada pendidikan kesetaraan, banyak masyarakat yang menanyakan kemungkinan mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan tanpa harus mengikuti proses pendidikan kesetaraan. Mendaftar pada akhir tahun lantas mengikuti ujian pada bulan April tahun berikutnya. Dengan hanya berbekal ijazah pendidikan terakhir, bukan drop out kelas akhir.

Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh penyelenggara pendidikan kesetaraan (Paket A, Paket B dan Paket C) menjual jasa untuk mengikutsertakan masyarakat yang membutuhkan ijazah pada ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK). Sudah barang tentu dengan mengutip imbalan uang jasa atau administrasi istilah. Uang sebesar itu termasuk untuk pembuatan dokumen rapor sampai semester V, sajian penilaian hasil belajar dari proses yang tidak pernah dilakukan. Bagi masyarakat yang membutuhkan, membayar uang sebesar 2,5 juta rupiah dipandang tidak memberatkan, dibanding harus mengikuti pembelajaran selama tiga tahun.

Kejadian ini berulang setiap tahun sejak lahirnya pendidikan kesetaraan, sehingga menjadi kebiasaan. Ketika menjadi kebiasaan, masyarakat menganggap sebagai hal yang benar. Tidak sedikit kalangan yang hendak mencalonkan diri menjadi anggota dewan dan belum memiliki kualifikasi ijazah SMA menempuh cara instan memperoleh ijazah Paket C setara SMA melalui jasa penyelenggara Paket C.

Hampir tiap tahun penyelenggara Paket C yang benar-benar menyelenggarakan pendidikan kesetaraan melalui proses dan aturan yang benar, didatangi ataupun ditelepon oleh masyarakat yang berkeinginan untuk mengambil jalan pintas langsung ujian nasional pendidikan kesetaraan. Dan biasanya bertanya, “Berapa biaya yang diperlukan?”

Pertanyaan masyarakat dipicu oleh informasi yang berkembang dari mulut ke mulut, serta berbagai iklan di dunia maya, iklan radio bahkan juga pemasangan baliho ataupun pamflet di pusat-pusat keramaian publik. Biasanya di pasar tradisional atau warung yang dikunjungi oleh masyarakat menengah ke bawah.

Inilah kondisi mental bangsa kita terkait dengan pendidikan kesetaraan. Kini saatnya pemerintah baru dengan tagline Revolusi Mental. Kata Anis, juru bicara Jokowi-JK saat kampanye Pilpres, “Revolusi mental itu mengagetkan karena berkaitan dengan revolusi yang cepat dan mental yang bertahap”. Tapi boleh jadi tidak akan mengagetkan penyelenggara Paket C, jika tidak menyentuh pada dunia pendidikan kesetaraan.

Kita tunggu saja pemerintah Jokowi dengan revolusi mentalnya apakah mampu memberantas praktek tidak benar pendidikan kesetaraan, yang mendadak mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan tanpa proses pembelajaran. Semoga menteri yang ditunjuk mampu menterjemahkan revolusi mental pada pendidikan kesetaraan. Atau kembalikan saja ke ujian persamaan sehingga tidak perlu lagi ada rekayasa nilai rapor bagi yang tidak menyelenggarakan pembelajaran. [fep]

Sumber foto: http://www.tribunnews.com/regional/2014/10/17/anies-baswedan-revolusi-mental-itu-mengagetkan