revolusi mentalYogyakarta (16/07) Revolusi mental untuk pembangunan manusia dan pembangunan sosial mencakup tiga dimensi, yaitu sehat, cerdas dan berbudi pekerti luhur. Melalui revolusi mental diharapkan mencapai manusia Indonesia yang berkepribadian. Salah satu tolok ukur untuk melihat kepribadian “asli” bangsa Indonesia adalah perilaku di jalan raya.

Pagi ini, untuk kesekian-kalinya pagi ini saya melihat pengendara motor meludah sambil berkendara. Sontak saja pengendara yang di belakang merasa jengah, dan marah-marah karena air ludahnya mengenai mukanya. Untung saja ia masih mengenakan kaca helm, namun ia menegur pengendara yang meludah itu. Anehnya, justru yang meludah malah mengambil sikap menantang dengan mata melotot seakan tidak mau disalahkan dan tidak mau kalah. Akhirnya, pengendara yang kena ludah helmnya mengalah, dan tidak menanggapi lebih lanjut untuk memperpanjang perkara. Langsung menjauh dari pengendara yang meludah.

Saya pikir, ini penyakit mental masyarakat kita. Tidak hanya pengendara motor. Pengendara mobil masih ada yang membuang sampah melalui kaca jendela. Boleh jadi sampah yang dibuang akan mengenai pengendara lainnya, pengendara motor misalnya. Jika sampah yang dibuang mengenai muka pengendara motor bisa jadi memicu gesekan emosi di jalan raya.

Jika dia mampu membeli mobil, mengapa tidak mampu membeli tempat sampah untuk ditempatkan di dalam mobil. Ini lagi-lagi masalah mental. Mental dan kepribadian bangsa yang perlu direvolusi.

Jika Jokowi nanti benar-benar menjadi Presiden, jangan hanya merevolusi mental melalui jalur pendidikan formal saja dengan merekonstruksi kurikulum sekolah. Ada mental masyarakat yang perlu direvolusi, yang tidak tersentuh oleh pendidikan formal.

Ada negara yang berhasil merevolusi mental rakyatnya menjelang perhelatan akbar, yaitu China dengan Beijingnya menjelang Olimpiade. Di Beijing dulu banyak penduduk yang meludah di sembarang tempat, perilaku itu menghilang ketika perhelatan Olimpiade digelar. Tapi apakah kita melakukan revolusi mental harus menunggu menjadi tuan rumah perhelatan akbar olahraga dunia?