Rekonstruksi Orientasi Pendidikan Kepramukaan

rover21Mau tidak mau dalam usaha lebih memaknai pembaharuan pendidikan kepramukaan kita harus kembali mengacu kepada ide dasar BP. Hal ini tidak akan bertentangan dengan renewing scouting. Mengapa? Karena hakekat renewing scouting adalah pembaharuan kembali, ada dua landasan yang digunakan yaitu pertama mengimplementasikan praktek pendidikan kepramukaan sesuai dengan kebutuhan pembangunan, kedua menyesuaikan praktek pendidikan kepramukaan dengan minat generasi muda melalui usaha penggalian kembali ide-ide dasar BP.

Ide dasar BP yaitu bahwa pendidikan kepramukaan adalah permainan gembira di alam terbuka, dimana anak-anak dan pemuda menerima pengalaman-pengalaman menarik, membina kesehatan, kebahagiaan, ketangkasan tangan dan sifat suka menolong, dibawah bimbingan orang dewasa dengan hubungan sebagai kakak dan adik. Dengan demikian pendidikan kepramukaan haruslah kita wujudkan sebagai outdoor activity. Maka apabila pendidikan kepramukaan ingin lebih memiliki makna kegiatan di alam terbuka haruslah diperbanyak. Dan kegiatan di alam terbuka itu tidaklah hanya sekedar berkemah dan hiking atau mencari jejak saja. Dalam bukunya Rovering to Success BP menawarkan aktivitas yang menarik di antaranya panjat tebing , bersepeda, penelusuran sungai, pantai dan kanal, penjelajahan, wisata jalan kaki, kunjungan ke tempat produksi dan bersejarah dan lain-lain.

Apabila mencermati uraian kegiatan yang dapat dilakukan oleh Pramuka menurut BP, maka akan timbul kesadaran kita bahwa betapa pendidikan kepramukaan telah mempersempit ruang geraknya sendiri. Yaitu hanya mengenal bentuk-bentuk kegiatan yang itu-itu saja (berkemah, tepuk dan menyanyi), sehingga bentuk pendidikan kepramukaan menjadi monoton. Karena itulah perlu adanya rekonstruksi orientasi pada seluruh orang dewasa (Pembina, Pelatih dan Andalan) yang terlibat dalam proses pendidikan kepramukaan. Rekonstruksi orientasi tersebut merupakan upaya memberikan pemahaman yang lebih luas terhadap apa yang dapat dilakukan dan diberikan kepada peserta didiknya sehingga pendidikan kepramukaan tetap memiliki keunggulan komparatif. Dan usaha-usaha tersebut akan bermakna apabila kita mau menggali kembali gagasan BP tentang kegiatan kepramukaan dengan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia.

Rekonstruksi orientasi ini menjadi semakin mendesak, mengingat telah terjadi kekeliruan interpretasi. Yaitu bahwa renewing scouting diartikan sebagai usaha mengeliminir paham-paham Baden Powell. Memperhatikan kondisi objektif dapat diketahui banyak Pembina Pramuka yang terjebak dengan interpretasi sempit, sehingga pendidikan kepramukaan semakin monoton. Padahal melalui penggalian gagasan BP kita akan sadar betapa gagasan-gagasan BP tentang outdoor activities justru banyak dipraktekkan oleh lembaga/organisasi bukan kepramukaan, sementara pendidikan kepramukaan masih berkutat dengan semaphore, tali temali, sandi-sandi, dan mencari jejak saja.

Usaha rekonstruksi orientasi praktek pendidikan kepramukaan, dalam rangka menegakkan gagasan renewing scouting harus tetap bertumpu pada dua hal, yaitu kegi-atan menarik sesuai dengan minat remaja dan kegiatan yang berupaya mensosialisasikan peserta didiknya kepada permasalahan dan kebutuhan bangsa dan negaranya. Utamanya dalam menghadapi pembangunan jangka panjang tahap kedua, dimana diperlukan usaha rekonstruksi orientasi pendidikan kepramukaan agar pendidikan tidak semakin jauh akar masyarakatnya. Dengan demikian niscaya pendidikan kepramukaan akan tetap diminati oleh para generasi muda. Be prepared!

2 tanggapan pada “Rekonstruksi Orientasi Pendidikan Kepramukaan”

  1. Seratan kak Kromo sae ngiras-ngirus mangayubagyo Hari Pramuka kaping 51 kita. Ing tataran kebijakan, nilai-nilai B-P sejak awal dipertahankan. Manuver-manuver Ngarso Dalem ing Kaping IX, Kak Azis, Hs. Mutahar lsp kala samanten sampun cetha wela-wela. Bungkusipun ketingalipun enggal, kados ingkang dipun kersaaken Presiden ingkang jumeneng ing satengahipun suasana politik kala samanten. Nanging sakjanipun nilai-nilai B-P tetep lan saged kaslamuraken. Trisatya, Dasadarma, metode inggih taksih konsisten kaliyan WOSM. Manawi mboten tamtu sampun dipun wedalaken saking ngriku. Prakawis ingkang umum lan radi mirisaken sapunika, kawontenan umum pelatih utawi pembina ingkang kados swargi kak Mh. Soegiarto sapunika kok dereng ketingal. Terjemahan policy ngantos operasional perlu aparatur kerja ingkang kados kak Giek ingkang kathah cacahipun.
    Nuwun kak,
    Konsultan (“kongkonan Sultan”) HB IX ingkang taksih aktif.

    1. @prijo judiono, Saya setuju Kak, persoalan pokok yg kita hadapi sekarang adalah pembina dan pelatih yang berkualitas – yang mampu menterjemahkan ide dasar BP dlm keadaan masyarakat global saat ini. Ide dasar BP yg perlu direvitalisasi adalah mendorong jiwa anak muda bangsa untuk siap sedia menolong siapa pun juga, termasuk menolong dirinya sendiri. Utk itulah pendidikan kepanduan golongan Siaga ditujukan untuk membina Siaga yang mandiri, kemudian pada golongan Penggalang mulai dilatih utk menolong sesama.

Komentar ditutup.