Rancangan Implementasi Pembelajaran Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan Berbasis Modul

Yogyakarta (07/07/2019) Pembelajaran pendidikan kesetaraan kurikulum 2013 dilaksanakan berbasis modul. Modul sebagai delivery system dapat dilakukan dengan cara belajar mandiri, karena modul disusun agar peserta didik dapat belajar mandiri. Namun demikian belajar mandiri tidak dilakukan secara penuh karena pembelajaran modul tetap memerlukan kegiatan tatap muka dan atau kegiatan tutorial. Artinya belajar mandiri menggunakan modul tidak bisa dilakukan 100% mandiri. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik menggunakan modul melalui belajar mandiri, dan hanya datang saat ujian pendidikan kesetaraan atau ujian nasional merupakan pemahaman yang salah dan tidak dibenarkan.

Modul pendidikan kesetaraan sudah disusun oleh penulis yang ditunjuk Direktorat Pembinaan PendidiKan Keaksaraan dan Kesetaraan dengan penyelia dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud. Sejak tahun 2018 sudah tersedia modul untuk Paket A setara kelas IV, Paket B setara kelas VII, dan Paket C setara kelas X. Artinya mulai tahun ajaran 2019/2020 satuan pendidikan sudah bisa mengimplementasikan K13 mulai kelas awal karena modul sudah tersedia. Modul pendidikan kesetaraan dapat diunduh di laman Rumah Belajar. Modul akan disediakan secara bertahap untuk rombongan belajar atau kelas di atasnya.

Setiap mata pelajaran pada satu tahun pelajaran tersedia sejumlah 5 (lima) modul, kecuali mata pelajaran Pendidikan  Pancasila dan Kewarganegaraan Paket B memiliki 6 (enam) modul. Kelima modul tersebut didistribusikan pada dua paket kompetensi semester. Pada paket kompetensi atau semester ganjil melaksanakan pembelajaran tiga modul dan paket kompetensi atau semester genap dua modul. Mengapa pada paket kompetensi atau semester genap diberikan beban dua modul? Karena pada semester genap satuan pendidikan (PKBM/SKB) waktu efektif belajar berkurang karena kegiatan USBN dan Ujian Nasional. PKBM/SKB biasanya tidak hanya menyelenggarakan satu jenjang program pendidikan, tapi banyak yang menyelenggarakan Paket C, Paket B dan Paket A sekaligus sehingga kegiatan ujian akhir akan menyita waktu belajar efektif kelas di bawahnya.

Gambar di bawah ini memberikan ilustrusi pelaksanaan pembelajaran berbasis modul yang dilaksanakan pada Paket C Setara SMA mulai Tingkatan 5 setara Kelas X sampai dengan Tingkatan 6 setara Kelas XII.

Gambar 1. Alokasi Pembelajaran Modul ke dalam Paket Kompetensi atau Semester dalam Satu Tahun.

Peserta didik dapat melanjutkan modul berikutnya jika sudah memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang dilakukan melalui proses penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar pendidikan kesetaraan K13 berbasis modul dilakukan melalui penilaian proses dan penilaian akhir modul. Penilaian proses terdiri dari penugasan dan atau latihan yang dapat diambil dari modul. Sedangkan penilaian akhir modul berupa ujian modul. Soal ujian modul disusun oleh tutor pengampu mata pelajaran.

Nilai yang dicantumkan dalam rapor adalah nilai modul. Nilai modul untuk kompetensi dasar pengetahuan (KD 3.x) adalah nilai gabungan dari penugasan, latihan dan ujian modul. Sedangkan nilai modul kompetensi dasar keterampilan (KD 4.x) adalah hasil rerata nilai penugasan.

Penilaian hasil belajar menggunakan basis modul, tidak perlu melakukan ujian semester. Laporan hasil belajar (buku rapor) tidak menyajikan nilai semester melainkan menyajikan nilai modul. Laporan hasil belajar (rapor) pendidikan kesetaraan kurikulum 2013 menyajikan capaian hasil belajar sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Capaian hasil belajar pengetahuan dan keterampilan disajikan setiap modul, sedangkan capaian hasil belajar sikap spiritual dan sikap sosial disajikan setiap paket kompetensi (semester). Penyajian capaian hasil belajar pengetahuan dan keterampilan khusus mata pelajaran Pemberdayaan, Keterampilan Wajib dan Keterampilan Pilihan tidak disajikan setiap modul namun setiap paket kompetensi.

Pada semester atau paket kompetensi ganjil minggu efektif yang tersedia adalah 18 minggu efektif. Minggu efekif adalah minggu pelaksanaan pembelajaran tidak termasuk libur semester, ujian dan kegiatan lainnya di luar akademik/kurikuler. Karena pada semester atau paket kompetensi ganjil terdapat 18 minggu efektif dan melaksanakan pembelajaran tiga modul, maka setiap modul memerlukan waktu belajar selama enam minggu efektif.

Gambar 2. Ilustrasi Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Modul Pola Tatap Muka dan atau Tutorial

Pelaksanaan pembelajaran tatap muka dan tutorial dilaksanakan secara terjadwal regular, sehingga peserta didik hadir di dalam kelas mengikuti pembelajaran. Pembelajaran tatap muka lebih berorientasi menyampaikan materi dengan menyesuaikan pendekatan saintifik yang menjadi ciri khas kurikulum 2013. Sedangkan pembelajaran tutorial berorientasi pada pemecahan masalah yang sulit dan atau pembahasan materi atau soal. Karena itulah pembelajaran tutorial dalam konsep pendidikan kesetaraan tetap hadir di kelas (regular maupun daring).

Misalnya mata pelajaran Bahasa Indonesia Paket C Setara SMA Tingkatan 5 Setara Kelas X memiliki bobot satuan kredit kompetensi sebesar 1 SKK, maka pelaksanaan pembelajaran tatap muka disediakan alokasi waktu 1 jam pelajaran (JPL) setiap minggu. Sehingga dalam satu paket modul tersedia alokasi waktu sebanyak 1 JPL X 6 minggu efektif, yaitu 6 JPL. Jika dalam perencanaan pembelajaran ternyata dinyatakan bahwa pembelajaran modul Bahasa Indonesia memerlukan alokasi waktu 12 JPL, maka harus ada kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara mandiri. Pemilihan kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan secara mandiri dapat dilihat dari silabus atau merubah kegiatan pembelajaran tertentu menjadi kegiatan pembelajaran mandiri dengan merubah rumusan kalimat dalam silabus yang mencirikan pembelajaran mandiri.

Pada contoh di atas pelaksanaan pembelajaran tatap muka atau tutorial tetap dilaksanakan selama enam kali pertemuan dalam satu modul walaupun dikombinasikan dengan belajar mandiri. Kombinasi belajar mandiri dapat pula mengurangi jumlah jam pertemuan dalam satu modul. Perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 3. Ilustrasi Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Modul Pola Tatap Muka dan atau Tutorial Kombinasi Belajar Mandiri

Pada Gambar 4 pembelajaran dalam satu modul dilaksanakan dalam enam kali pertemuan dan diakhiri dengan ujian modul pada minggu ketujuh. Walaupun ada belajar mandiri disebabkan kurangnya alokasi waktu, sehingga dilakukan kombinasi belajar mandiri. Pada pola kombinasi sebagaimana diilustrasikan Gambar 5 jumlah pertemuan satu modul lebih sedikit dengan melakukan kombinasi belajar mandiri bukan menambah beban belajar peserta didik di luar tatap muka atau tutorial, namun memang dirancang untuk mengurangi jumlah jam pertemuan. Pola ini sudah lebih mengandalkan modul sebagai delivery system pembelajaran, namun masih memerlukan kegiatan pertemua dalam bentuk tatap muka atau tutorial guna melakukan pemahaman dan atau pengayaan jika peserta didik kurang memahami ketika melakukan belajar mandiri.

Pola ini biasa dilakukan untuk melaksanakan pembelajaran secara bergantian. Misalnya, pada minggu pertama hari jam yang sama jadwal digunakan untuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran pada minggu kedua hari jam yang sama digunakan untuk mata pelajaran Sejarah Indonesia Paket C Tingkatan 5 Setara Kelas X. Pada minggu pertama mata pelajaran Sejarah Indonesia belajar mandiri, dan pada minggu kedua mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaran belajar mandiri. Begitu seterusnya sampai habis waktu pembelajaran satu modul dan diakhiri ujian modul.

Hal tersebut dapat dilakukan karena kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan tidak lagi mengenal ketentuan minimal prosentase pembelajaran tatap muka dan pembelajaran tutorial serta ketentuan maksimal prosentase belajar mandiri.

Selanjutnya, bagaimana belajar mandiri berbasis modul dilakukan? Pembelajaran pendidikan kesetaraan dengan menggunakan modul dapat dilakukan secara konvensional maupun dalam jaringan (daring) atau online. Belajar mandiri diawali dengan kontrak belajar dan diakhiri dengan ujian modul. Secara konvensional kontrak belajar dan ujian modul peserta didik datang secara fisik ke satuan pendidikan. Secara daring peserta didik pada kontrak belajar dan ujian modul dilakukan melalui media internet. Di antara kontrak belajar dan ujian modul  dapat dilakukan kegiatan pembelajaran tatap muka dan atau tutorial. Pembelajaran tatap muka dilakukan untuk menyampaikan materi, sedangkan pembelajaran tutorial dilakukan untuk membahas materi yang sulit atau latihan soal. Jumlah atau frekuensi pembelajaran tatap  muka dan tutorial disesuaikan dengan kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik.

Artinya belajar mandiri menggunakan modul tidaklah mungkin seratus persen mandiri atau sama sekali tidak ada pertemuan di satuan pendidikan baik konvensional maupun daring. Kontrak belajar dan ujian modul dilakukan dalam bentuk pertemuan. Belum lagi jika dilakukan kegiatan belajar tatap muka dan atau tutorial di antara kontrak belajar dan ujian modul.

Gambar 4. Ilustrasi Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Modul Pola Belajar Mandiri

Belajar mandiri pada setiap modul memerlukan kegiatan pendahuluan berupa kontrak belajar antara peserta didik dan tutor. Kegiatan kontrak belajar ini memerlukan kehadiran peserta didik di satuan pendidikan untuk menerima penjelasan dari tutor tentang apa yang harus dipelajari dan tugas atau tagihan yang harus diselesaikan. Pada gilirannya peserta didik menandatangani kontrak belajar yang berupa kesepakatan antara peserta didik dan tutor untuk belajar modul dan menyelesaikan tugas dan atau tagihan. Satuan pendidikan yang menerapkan pembelajaran daring, kontrak belajar dapat dilakukan secara daring yaitu melakukan pembicaraan daring dan peserta diminta untuk mengirim kembali form kontrak belajar melalui email.

Pada saat kontrak belajar disepakati apakah akan ada kegiatan pembelajaran tatap muka dan atau tutorial sebelum dilaksanakan ujian modul. Jika disepakati, maka ditentukan sekaligus frekuensi dan jadwalnya. Kegiatan pembelajaran dan atau tutorial antara kontrak belajar dan ujian modul bisa dilakukan satu kali, dua kali, tiga kali sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan. Pada setiap pertemuan tatap muka atau tutorial mensyaratkan peserta didik untuk membaca modul sebagai wujud pelaksanaan belajar mandiri. Artinya pertemuan tidak akan efektif jika peserta didik tidak membaca modul terlebih dahulu. Dengan demikian, sebenarnya pertemuan antara kontrak belajar dan ujian modul cenderung berbentuk tutorial karena lebih berfungsi sebagai pembahasan materi yang sulit dan latihan soal. Jika ada yang belum dipahami maka tutor dapat melakukan kegiatan pembelajaran tatap muka.

Setelah peserta didik selesai belajar mandiri maka pada waktu yang ditentukan dapat mengikuti ujian modul. Jika hasil ujian modul mencapai batas minimal ketuntasan maka peserta didik diperbolehkan melanjutkan ke modul selanjutnya. Namun jika belum memenuhi kriteria maka peserta didik melakukan remidi secara mandiri atau dibawah bimbingan tutor, dan mengikuti ujian modul ulang.

Berdasarkan uraian di atas, maka belajar mandiri berbasis modul tetap dilakukan pertemuan di kelas atau satuan pendidikan, serta dapat dilakukan pembelajaran tatap muka dan atau tutorial. Jadwal pembelajaran tatap muka dan tutorial tidak dijadwal mingguan namun menyesuaikan dengan kebutuhan. Walaupun diilustrasikan satu modul diselesaikan dalam enam minggu, namun sebenarnya penyelesaian satu modul akan bergantung pada kecepatan setiap peserta didik. Implementasi ini memerlukan kemampuan tutor mengelola dan melayani rombongan belajar karena kecepatan belajar akan tidak sama untuk setiap peserta didik. [fauziep]

7 tanggapan pada “Rancangan Implementasi Pembelajaran Kurikulum 2013 Pendidikan Kesetaraan Berbasis Modul”

  1. Mudah2n semua cita cita tercapai dgn maksimal.dan kami ucapkan trimakasih atas perhatian dan kerjasamanya semoga penddkan kesetaraan semakin berkembang begitu juga para pakar pejuang dinas pandd .

  2. Bismillah.
    Penjelasan yang sangat terperinci maa syaa Allah.

    Namun ada yang ingin saya tanyakan pak,
    nilai pengetahuan diambil dari penugasan, latihan, ujian modul dan keterampilan dari rerata penugasan, seperti yang bapak jelaskan.

    Jika nilai matematika warga belajar, diperoleh:
    Nilai penugasan : 80
    Nilai latihan : 90
    Ujian modul : 85
    Berarti didapat nilai pengetahuan ( rerata daru 80+90+85) = 85

    Maka, nilai keterampilan, diambil dari nilai penugasan di atas, maka keterampilan mendapat nilai = 80.

    Apa benar seperti itu, pak?
    Mohon penjelasannya

    Terima kasih

    1. NIlai pengetahuan dibobot, misalnya penugasan (pengetahuan) 20%, latihan 20% kemudian ujian modul 60%. Nilai akhir modul bukan rerata tapi hasil pembobotan.
      Sedangkan nilai keterampilan, jika ada lebih dari satu penugasan (keterampilan) maka dirata-rata.

Komentar ditutup.