Harian-Jogja-Dukung-Kopassus-03Yogyakarta (09/04) Rakyat sudah tidak berdaya menghadapi premanisme di berbagai sentra kehidupan. Rakyat tidak berani membalas para preman. Terbukti hanya aparat TNI yang memiliki keberanian untuk membalas aksi-aksi para preman. Kasus penyerangan LP Cebongan membuktikan hal tersebut.

Kawasan seputar Babarsari, Seturan dan Jalan Solo selama ini sering terjadi perkelahian dan premanisme yang melibatkan sekelompok etnis tertentu. Polisi seakan tidak berdaya menghadapi hal tersebut. Pasca kasus penyerangan LP Cebongan dilaporkan warga setempat justru merasa lebih aman, karena preman tidak berkeliaran lagi. Paling tidak kasus penyerangan LP Cebongan memberikan efek kejut bagi para preman untuk tidak melakukan aksinya belakangan ini.

spanduk-dukungan-kopassus-muncul-di-soloBelakangan aksi sebelas anggota Kopassus membunuh preman di LP Cebongan justru mendapat dukungan dari masyarakat luas. Dalam sebuah komentar di detik.com seseorang dengan nama akun Kebo Cilik mengatakan “Lanjutkan! Karena Cuma Tentara yang bisa memberikan rasa nyaman pada masyarakat. Bravo Kopassus, jangan khawatir rakyat sudah bisa melihat mana yang hanya omong doang dan mana yang bisa bekerja. Negara ini membutuhkan orang yang mampu bekerja, bukan yang hanya cari sensasi, apalagi bicara masalah HAM.”

Komnas HAM sering bicara di layar kaca dan selalu memojokkan TNI dengan dalih bahwa preman itu manusia yang punya hak asasi untuk hidup. Bejo sambil nyeruput nasgitel di angkringan mengatakan “Lha kita-kita ini apaya?? Kita khan juga manusia dan punya hak asasi untuk tidak dianiaya preman secara fisik maupun batin….”. Ah seandainya bisa leluasa bicara secara bebas di televisi. Pada bagian lain banyak masyarakat yang menyatakan bahwa sebagai warga negara juga punya hak asasi manusia, yaitu hidup dengan tenang tanpa ada gangguan dari preman.

Berbagai pernyataan masyarakat di dunia maya menunjukkan betapa sebenarnya rakyat sudah tidak berdaya menghadapi preman. Bahkan sampai preman tingkat kampung sekalipun. Tidak heran jika dukungan terhadap Kopassus meluas. Bahkan fans page dukungan Kopasses di facebook mendapat respon luar biasa, hanya dalam 3 hari mampu menyedot 14 ribu fans. Di Yogyakarta dan Solo bermunculan banyak spanduk yang mendukung Kopassus, penduduk sudah tidak tahan dengan ulah para preman selama ini.

Namun apakah persoalan preman harus diatasi dengan hukum rimba? Kejahatan dilawan pula dengan kejahatan serupa. Tentu saja tidak.  Paling tidak kasus LP Cebongan akan memberikan dukungan moril kepada kepolisian untuk memberantas preman. Tidak hanya premannya, namun premanisme di segala lini kehidupan juga harus diberantas.