Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas Tingkat Nasional Tahun 2016

Akronim LKNPalu (26/05/2016) Tahapan penilaian naskah dan presentasi keenambelas jenis lomba inovasi karya nyata pada Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) PAUD dan Dikmas Tingkat Nasional tahun 2016 telah diselesaikan kemarin. Penilaian naskah dan presentasi menyisakan catatan, yaitu masih banyak naskah yang diberi judul dengan menggunakan akronim. Penggunaan akronim dianggap menarik perhatian yuri, padahal ternyata tidak.

Prof Dr. Yatim Riyanto menyatakan bahwa kecenderungan akronim itu dianggap sebagai inovasi, padahal bukan. “Boleh menggunakan akronim tapi akronim yang dasarnya jelas, ada teori yang mendukung. Karya nyata inovasi bukan triar and error dalam menemukan akronim tapi lebih bagus ada teori yang mendukung,” tambah guru besar Universitas Negeri Surabaya.

“Sebagian (pada Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas Tahun 2016)  masih ada akronim yang diakal-akalin. Padahal isinya bagus, tetapi kenapa harus diakronimkan?” jelas Yatim Riyanto dengan nada balik bertanya. “Inovasi tidak harus dimunculkan istilah baru dalam (akronim) bentuk baru,” tambah guru besar yang dalam kegiatan ini bertugas sebagai yuri Tutor Paket B.

Di sisi lain Prof Dr. Yatim Riyanto menyatakan bahwa peserta luar jawa ada peningkatan yang signifikan. Hal tersebut juga diamini oleh Dr. Safuri Musa, salah satu yuri Tutor Paket C.

“Teman dari luar daerah (Jawa) sudah ada yang bagus-bagus, substansi sudah baik dan presentasi bagus hanya sayang dari segi judul sering dipaksakan (menggunakan) akronim. Misalnya menggunakan akronim metode Kapstok, memaksanakan memberikan makna yang berbeda,” jelas Dr. Safuri Musa.

“Landasan teori yang digunakan masih lemah untuk mendukung akronim. Akronim harus ada landasan teorinya,” tambah Safuri Musa yang juga pernah menjadi pamong belajar.

Yus Badudu pernah menjelaskan bahwa akronim adalah pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang sedikit banyak memenuhi kaidah fonotaktik bahasa Indonesia. Artinya pembentukan akronim sebaiknya memenuhi kaidah fonotaktik bahasa Indonesia. Jangan asal dibentuk saja.

Berikut ini sepuluh pola pembentukan akronim dalam bahasa Indonesia. Pola tersebut ialah:

  1. Pengekalan huruf pertama tiap komponen, misalnya: IPA dan ABRI;
  2. Pengekalan suku pertama dari tiap komponen, misalnya: orla = orde lama, dan orba = orde baru;
  3. Pengekalan tiga huruf pertama tiap komponen, misalnya: cerpen = cerita pendek;
  4. Pengekalan suku kata pertama komponen pertama dan suku kata terakhir komponen kedua, misalnya: balon = bakal calon;
  5. Pengekalan dua huruf pertama tiap komponen, misalnya: Fasa = Fakultas Sastra;
  6. Pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan tiga huruf pertama komponen kedua, misalnya: dubes = duta besar;
  7. Pengekalan tiga huruf pertama komponen pertama dan dua huruf pertama komponen selanjutnya, misalnya Menlu = Menteri Luar Negeri;
  8. Pengekalan tiga huruf pertama komponen pertama dan dua huruf pertama komponen kedua, misalnya Pemda = Pemerintah Daerah;
  9. Pengekalan huruf pertama tiap komponen dengan pelesapan konjungsi atau preposisi, misalnya FISIP = Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; dan
  10. Pengekalan berbagai huruf dan suku kata yang sukar dirumuskan, misalnya Pusdikif = Pusat Pendidikan Infantri.

Sebaiknya dalam membentuk akronim juga diperhatikan syarat berikut, yaitu (1) jumlah suku kata akronim jangan melebihi suku yang lazim pada kata Indonesia (2 suku kata); (2) akronim dibentuk dengan memperhatikan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan kaidah pembentukan kata Indonesia yang lazim; dan (3) karena akronim dilafalkan sebagai kata yang wajar, maka kadang-kadang akronim dapat diberi imbuhan. Contoh, tilang: menilang ditilang; PHK: di-PHK.

Namun demikian, bagi peserta Apresiasi GTK PAUD dan Dikmas Tingkat Nasional yang sudah terlanjur menggunakan akronim sebagai inovasi karya nyata atau judul naskah, tidak perlu berkecil hati. Ketika akronim tersebut memiliki landasan teori yang kuat dan atau memiliki nilai tes tertulis (psikologi) yang tinggi, Anda tetap berpeluang untuk menjadi juara. Sebaliknya, ketika juara pertama menggunakan akronim bukan karena akronimnya menjadi juara tetapi karena inovasi karya dan susbtansinya. [fauziep].

Ilustrasi foto: tidak menggambarkan penggunaan akronim yang salah.