PKBM Homeschooling adalah Wujud Kreativitas Membaca Peluang

Bogor (13/09/2018) Sebagian pihak masih ada yang mempertanyakan keberadaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang berlabel homeschooling atau PKBM Homeschooling. Apakah PKBM tersebut merupakan PKBM yang sesungguhnya atau hanya sekedar mensiasati agar laku di pasar. Laku di pasar karena label homeschooling sehingga mampu menggaet kalangan berpunya yang ingin mengikuti sekolahrumah dengan biaya yang lumayan. Sementara itu ada pula yang mengklaim bahwa PKBM Homeschooling merupakan bentuk sekolahrumah komunitas. Bagaimana duduk perkaranya?

Sejatinya menurut Permendikbud nomor 129 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sekolahrumah pada pasal 1 angka 7 disebutkan bahwa sekolahrumah komunitas adalah kelompok belajar berbasis gabungan sekolahrumah majemuk yang menyelenggarakan pembelajaran bersama berdasarkan silabus, fasilitas belajar, waktu pembelajaran, dan bahan ajar yang disusun bersama oleh sekolahrumah majemuk bagi anak-anak sekolahrumah, termasuk menentukan beberapa kegiatan pembelajaran yang meliputi olahraga, musik/seni, bahasa dan lainnya. Jadi prinsipnya sekolahrumah komunitas adalah gabungan dari sekolahrumah majemuk, sedangkan sekolahrumah majemuk adalah gabungan dari sekolahrumah tunggal. Sehingga sekolahrumah komunitas intinya adalah sekolahrumah tunggal juga atau adanya orang tua yang ikut bertanggung jawab melaksanakan sekolahrumah. Bukan orang tua yang menyerahkan anaknya pada lembaga atau satuan pendidikan untuk dididik.

Memperhatikan penjelasan di atas seharusnya sekolahrumah komunitas masih ada pelibatan orangtua dalam pembelajaran. Jika orang tua menyatakan pembelajaran sekolahrumah bagi anaknya namun orang tua mendaftarkan pada PKBM Homeschooling maka orang tua tersebut sebenarnya mendaftarkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran pendidikan kesetaraan. Pendidikan kesetaraan dengan layanan premium. Homeschooling yang melekat pada nama PKBM adalah branch product layanan. Hal tersebut akan semakin nyata ketika orang tua pesekolahrumah yang mendaftarkan anaknya ke PKBM Homeschooling sama sekali tidak punya keterlibatan dalam pembelajaran. Salah satu ciri sekolahrumah baik berbentuk tunggal, majemuk, maupun komunitas adalah adanya pelibatan orang tua dalam pembelajaran. Hal inilah yang sering dilupakan para penyelenggara yang mengaku sekolahrumah komunitas.

Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 pasal 6 ayat (4) dijelaskan bahwa sekolahrumah komunitas wajib memperoleh izin pendirian satuan pendidikan nonformal sebagai kelompok belajar dari dinas pendidikan kabupaten/kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan. Sementara itu pada Permendikbud Nomor 81 Tahun 2013 pasal 4 ayat (2) program yang diselenggarakan oleh kelompok belajar tidak meliputi pendidikan kesetaraan. Maka jalan yang ditempuh pada penyelenggara layanan “sekolahrumah” adalah membentuk PKBM. Hal ini tidak menyalahi peraturan perundangan yang berlaku, karena toh lembaga mengikuti ketentuan yang berlaku sebagai penyelenggara pendidikan kesetaraan.

Sebenarnya orang tua yang menitipkan anaknya pada PKBM yang menyelenggarakan layanan “sekolahrumah” ingin mencari layanan yang sesuai dengan keinginan orang tua. Banyak alasan mengapa orang tua memasukkan anaknya ke PKBM yang menyelenggarakan sekolahrumah, misalnya karena aktivitas anak sehingga tidak bisa sekolah biasa, dalam hal ini arti atau atlet. Ada juga yang memiliki keyakinan atau alasan tertentu sehingga tidak tertarik memasukkan anak ke sekolah. Pada tataran inilah orang tua akan mencari lembaga atau PKBM yang menawarkan layanan sesuai dengan kebutuhan orang tua tersebut. Jadi saya kira hal tersebut adalah kecerdikan sebagian pelaku pendidikan nonformal dalam melihat peluang pasar.

Secara normatif regulasi tidak ada aturan yang dilanggar. PKBM “Homeschooling” mendapatkan ijin operasional dan peserta didik tercatat di DAPODIK. Bahkan dalam beberapa hal prestasi belajar peserta didik dari PKBM “Homeschooling” lebih bagus, hal ini ditandai dengan bukti banyaknya lulusan Paket C yang diterima di perguruan tinggi negeri melalui jalur SBMPTN atau diterima di perguruan tinggi swasta ternama. Artinya peserta didik tidak hanya sekedar mengejar memperoleh ijazah sebagaimana kebanyakan peserta didik PKBM lainnya. Hal tersebut didukung dengan layanan pembelajaran yang intensif dengan kualitas guru (tutor) yang memadai.

Orang tua ketika memasukkan anaknya ke PKBM “Homeschooling” pun sudah diberi tahu dan bahkan kebanyakan sudah tahu bahwa kelak anaknya akan memperoleh ijazah pendidikan kesetaraan bukan ijazah SD, SMP atau SMA. Kebanyakan orang tua sudah paham, sehingga tidak ada penipuan yang terjadi. Orang tua pelaku sekolahrumah sudah menyadari bahwa anak akan mendapatkan ijazah pendidikan kesetaraan.

Bagi saya PKBM “Homeschooling” merupakan salah bentuk kreativitas dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Ada tiga hal yang mendorong kreativitas tersebut, pertama secara peraturan sekolahrumah tidak bisa berbentuk satuan pendidikan sehingga ia memerlukan payung satuan pendidikan.  Kedua, adanya kebutuhan orang tua yang tidak percaya dengan sekolah atau anak memiliki aktivitas sehingga tidak bisa sekolah, sementara hak anak untuk mendapatkan pendidikan harus tetap dilayani. [fauziep]