100_2244Oleh Edi Basuki

Konon, di jaman ini, pendidikan karakter merupakan materi penting yang harus diberikan kepada peserta didik agar mereka siap menerima perubahan sosial tanpa meninggalkan adat istiadat dan budayanya. Sebagian pengamat sosial mengatakan, bahwa telah terjadi degradasi moral yang begitu besar. Semua lapisan masyarakat, dimana saja berada, telah terjangkiti virus perubahan akibat semakin mudahnya mengakses aneka media informasi dari mana saja, oleh siapa saja, tentang apa saja.

Inilah tanggung jawab bersama, antara pemerintah, masyarakat dan sekolah, dalam mempersiapkan generasi muda penerus bangsa. Begitu juga para pegiat pendidikan nonformal (PNF) yang sasaran didiknya lebih beragam, baik dari sisi usia, latar belakang keluarga, motivasi, nilai yang dianut dan karakter hasil pergaulan sehari-hari.

Tentulah diperlukan gaya dan cara tersendiri dari masing-masing pengelola PNF, khususnya yang menangani pendidikan kesetaraan. Dengan kata lain, bisa disebutkan disini bahwa sasaran PNF adalah masyarakat yang tidak sempat mengenyam pendidikan lewat bangku sekolah, karena ketidak berdayaan sosial, ekonomi, budaya dan geografis, orientasinya adalah kompetensi dan kecakapan hidup sebagai bekal sekeluar dari mengikuti program belajar di PKBM. Mengingat, Keikut sertaan mereka dalam program kesetaraan adalah semata-mata mendapatkan ijasah untuk meningkatkan statusnya.

Salah satunya adalah PKBM “Bina Abdi Wiyata” Surabaya. Walau sampai saat ini masih tampil sederhana, jauh dari prasyarat standar nasional pendidikan, PKBM yang dikomandani Lukas Kambali ini, sudah banyak melayani masyarakat yang tidak terlayani pendidikannya di jalur formal. Banyak lulusannya yang telah bekerja sebagai buruh pabrik, karyawan kantor swasta, anggota tentara juga sebagai pegawai negeri sipil (pamong desa atau penjaga sekolah). Ada juga yang berwirausaha di kampungnya, setelah gagal mengadu nasip di Kota Surabaya.

Artinya disini, dalam kesederhanaan dan keterbatasan sarapras pun, PKBM “Bina Abdi Wiyata”, dan PKBM yang senasib, bisa berbuat untuk kemaslahatan umat. Namun demikian, pemerintah yang membidangi PNF akan terus berupaya membina dan meningkatkan mutu PKBM sesuai standar yang ditetapkan, termasuk mendorong PKBM untuk membangun karakter peserta didik serta mengenalkan konsep kewirausahaan agar bisa hidup mandiri. Harapannya, lulusan PKBM bisa semakin berdaya saat memasuki dunia kerja, termasuk mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya, sehingga kehadirannya bermanfaat bagi sesama.

Tentu, masing-masing PKBM punya gaya dan cara untuk memintarkan dan membangun karakter peserta didiknya agar bisa memanfaatkan semua ilmu, wawasan dan pengalaman yang didapat selama belajar di PKBM.

Upaya membangun karakter yang dilakukan oleh PKBM “Bina Abdi Wiyata” Surabaya, diantaranya dengan mengadakan kegiatan outbond bersama. Kali ini lokasi yang dipilih tetap di tempat wisata telaga sarangan, Kabupaten Magetan. Menurut Lukas kambali, kegiatan semacam ini sangat bermanfaat dalam rangka penanaman kedisiplinan, tanggungjawab, kerjasama kelompok, memupuk keberanian berbicara dan kesabaran mendengarkan pendapat orang lain.

Melalui permainan yang menyenangkan, peserta didik didorong untuk berkreasi dan saling menginspirasi sesamanya. Dalam buku Creativity Games, Adi Soenarno (2006) mengatakan bahwa orang yang kreatif pasti memiliki ide baru, berani tampil beda, berani memunculkan gagasan yang belum populer, tidak takut mencoba dan tdak takut gagal.

Melalui wisata yang bermakna inilah, diharapkan peserta didik PKBM “Bina Abdi Wiyata” Surabaya bisa memiliki karakter yang tangguh, yang bisa dijadikan bekal memulai hidup bermasyarakat dengan penuh tanggung jawab. Ini terbukti, lulusan dari PKBM impinan Lukas Kambali banyak yang berhasil menemukan keberuntungannya, bahkan menemukan jodohnya.

PKBM yang lain pun tentunya juga mempunyai kiat tersendiri untuk membekali peserta didiknya sesuai pengalaman dan idealism penyelenggara. Apalagi jika peserta didiknya sudah diluar usia sekolah, maka perlakuannya pasti berbeda, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar, tidak sama dengan sekolah formal maupun peserta ddik sekolah rumah, yang saat ini sedang tumbuh subur dimana-mana.

Untuk itulah pengelola dan tutor PKBM “Bina Abdi Wiyata” Surabaya mengambil kebijakan, proses belajar harian tetap berjalan, namun banyak disisipi dengan dialog yang mendiskusikan kejadian-kejadian aktual yang dimuat di media massa, khususnya yang terkait dengan dunia kerja. Seperti maraknya pengangguran, sulitnya mencari kerja, sempitnya lowongan kerja, industri kreatif, kewiraswastaan, kemandirian, perlunya jaring kemitraan dan peristiwa tematik menarik lainnya, yang dihubungkan dengan materi pelajaran tertentu (yang sesuai), termasuk mengadakan outbond. Disini, peran tutor lebih sebagai pemicu diskusi dengan memberikan pancingan-pancingan yang mendorong peserta didik berpikir dan berani berpendapat (melakukan sesuatu).

Karena, senyatanyalah membina peserta didik di luar usia sekolah itu gampang-gampang susah, karena berkaitan dengan sikap mental. Tidak bisa hanya terpaku pada kurikulum, silabus dan RPP semata. Atas nama kesibukan pekerjaan maupun kesibukan rumah tangga, menjadi alasan yang jitu untuk tidak masuk ketika mereka diberi tugas (pekerjaan rumah).

Kalau sudah begini, maka banyak PKBM yang berprinsip peserta didik mau masuk, mau berkumpul, diajak omong-omongan dan mau mendengarkan tutor mengajar, itu sudah untung, sudah hebat. Harapannya, mereka pada hari itu bisa mendapatkan pengalaman dan informasi yang bermanfaat dari hasil berinteraksi bareng-bareng. Ya itu harapannya. Kalau mereka merasa tidak mendapat apa-apa, ya terserah semua ditanggung penumpang.

Inilah sekelumit kiprah PKBM “Bina Abdi Wiyata” Surabaya yang mempunyai gaya sendiri, berhasil mengkondisikan peserta didik diluar usia sekolah, dalam rangka menanamkan karakter yang tangguh sebagai bekal menapaki masa depannya. Mereka pun kini sedang melakukan pendataan para alumninya yang telah ‘sukses’ untuk diundang dalam gelar reuni akbar, menjalin paseduluran dalam arti luas. [ebas/humasipabi.pusat_online]

ebas-1Edi Basuki, pamong belajar BPPAUDNI Regional 2 Surabaya.