Yk 4aBeberapa hari telah berlalu tanpa kejelasan. Rupanya sikap menggantung keraton diketahui pihak pemberontak. Adipati Puger yang tidak lain adalah Tumenggung Martapura kemudian mengirim surat kepada Pangeran Mangkubumi. Bunyi surat itu sangat santun, hormat namun cerdik, “Ada botoh hebat tanpa jago unggul, dinanti kehadirannya ke Dusun Sukawati.”

Sebuah undangan bermakna ganda, dianggap tawaran  bergabung atau sebaliknya tantangan perang. Sebagai seorang senapati kerajaan, Pangeran Mangkubumi memilih yang kedua. Tetapi ia tidak bisa pergi begitu saja tanpa perintah dari raja. Diam-diam  ia kumpulkan kekuatan pendukung dan secara tidak resmi berpamitan meninggalkan istana. Berada dalam rombongan itu keluarganya sendiri dan Ibundanya yaitu B.M.A. Tejawati.

Satu tindakan yang memenuhi banyak kepentingan. Secara pribadi, lolosnya dari istana sepengetahuan dan restu Sunan sehingga tidak bisa dianggap pengkhianatan terhadap raja. Sebagai pejabat istana, kepergiannya dalam rangka menunaikan tugas negara. Sunan tidak perlu membuat penugasan resmi kepada Mangkubumi. Sunan akan mendapat tekanan dari pihak yang keberatan bila Mangkubumi memimpin penumpasan pemberontak. Bagi Adipati Puger, hijrah Pangeran Mangkubumi adalah jawaban cerdas atas undangannya. Mangkubumi membuat pesangrahan di Sukawati, tidak jauh dari pusat kedudukan Tumenggung Martapura.

Yk 4bBagi Martapura, Mangkubumi adalah senapati yang akan dihadapinya sebagai lawan jika menolak bersekutu. Sebagai seorang paman, Pangeran Mangkubumi adalah harapan masa depan Mataram yang dikagumi.  Tetapi ia masih harus membuktikan sendiri ketangguhannya. Dengan gelisah Adipati Puger menanti kehadiran Mangkubumi di hadapannya.  Ia harus mencari akal agar Mangkubumi punya alasan yang bijaksana untuk menemui dirinya.

Dugaan Martapura tidak meleset. Pangeran Mangkubumi sekali lagi cerdas menangkap pesan yang dimaksudkannya. Kemenakannya datang mengunjungi Martapura yang pura-pura sakit. Mengingat dirinya adalah panglima perang, rasa hormat terhadap pamannya tetap tidak terlepaskan dari kedudukannya sebagai pemberontak. Perjumpaan tanpa banyak kata, namun penuh makna. Martapura kini merasa lega, kerinduan dan kebanggaan terhadap kemenakannya tak terkira. Mangkubumi bukanlah sekutunya. Ia benar-benar senapati tangguh Mataram yang layak menjadi lawan tanding dirinya. Sebentar lagi tinggal menguji kemampuannya.

Sampai suatu ketika para pengikutnya mendesak agar ia segera menyerang Mangkubumi sebelum kekuatannya sempurna. Lalu pertempuran-pertempuran dahsyatpun tak terhindarkan.  Akhirnya pada pertempuran terakhir yang menentukan, Adipati Puger Martapura menjadi yakin bahwa Mangkubumi memang seperti yang ia duga dan ia harapkan. Akhirnya Martapura yang membawa  1.000 pasukan menyerah kepada kemenakannya yang tinggal memiliki 100 prajurit.

Pemberontakan benar-benar padam. Pangeran Mangkubumi sekeluarga beserta Ibunda dan pasukannya kembali ke keraton. Patih Pringgalaya sangat kecewa. Apakah suasana kembali tenteram dan damai? ***

Seri Berdirinya Keraton Ngayogyakarta merupakan hasil penyusunan bahan ajar bagi anak dan remaja yang disusun oleh tim pengembang Pamong Belajar BPKB DIY. Tulisan terdiri dari 14 judul, yaitu:

  1. Pangeran Mangkubumi
  2. Geger Kartasura, Berdirinya Kraton Surakarta
  3. Panggilan Jiwa Ksatria
  4. Pertempuran Dua Panglima Besar
  5. Ontran-ontran Keraton Surakarta
  6. Titik Balik
  7. Runtuhnya Benteng VOC
  8. Kembalinya Tahta Mataram
  9. Hamemayu Hayuning Bawana
  10. Besar dari yang Kecil
  11. Membangun Peradaban Baru
  12. Yogyakarta Kotaraja
  13. Kotaraja Menyimpan Makna
  14. Selain Makna juga Kenangan