pertumbuhan-publikasi-per-juta-pendudukIndonesia berpotensi menduduki ranking 12, setara dengan Brazil, dengan produksi 45 ribu karya ilmiah per tahun. Namun realisasinya Indonesia menduduki peringkat 64 dengan 2 ribuatau tepatnya 1.975 publikasi karya ilmiah per tahun (Ditjen Dikti Kemdikbud, 2012).

Perbedaan mencolok antara potensi dan realisasi ini menunjukkan perlunya pembenahan. Potensi tersebut pasti dapat dicapai melalui gerakan masal penulisan karya ilmiah, dengan dukungan semua pihak terutama dari komunitas akademisi. Kemdikbud cq Ditjen Pendidikan Tinggi akan memfasilitasi gerakan massal tersebut dengan menyediakan dukungan melalui program kerjanya.

Oleh karena itulah dikeluarkan surat edaran Dirjen Dikti nomor 152/E /T/ 2012 perihal Publikasi Karya Ilmiah. Inti surat surat itu adalah mewajibkan mahasiswa mulai tahun kelulusan Agustus 2012 untuk mempublikasikan karya ilmiah di jurnal ilmiah. Surat tertanggal 27 Januari 2012 ini ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia. Seperti dimuat dalam laman www.dikti.go.id, surat yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso itu memuat tiga poin yang menjadi syarat lulus bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiahnya.

Diharapkan dengan kebijakan tersebut publikasi karya ilmiah menjadi meningkat dan bisa sejajar dengan (minimal) negara berkembang lainnya. Saat ini jumlah publikasi karya ilmiah Indonesia hanya 54 karya/juta penduduk, angka ini sangat jauh sekali dibandingkan dengan negara berkembang lainnya yang berjumlah 813 karya/juta penduduk (http://scimagojr.com/countryrank.php).

Namun demikian, pewajiban publikasi karya ilmiah tersebut tidak sebatas untuk meningkatkan angka-angka statistik semata. Tapi lebih dari itu. Bagi mahasiswa publikasi karya ilmiah diharapkan memberikan manfaat agar mampu membaca karya ilmiah dan mengenali jurnal ilmiah untuk mencari rujukan. Karena untuk menulis seseorang harus membaca terlebih dahulu. Hasil akhinya, diharapkan mahasiswa mampu menulis karya ilmiah yang analitis.

Bagi dosen, kewajiban publikasi karya ilmiah akan memudahkan tanggung jawab terhadap keaslian karya bimbingannya, di samping itu memudahkan pemenuhan angka kredit dosen yang bersangkutan. Sedangkan dari sisi perguruan tinggi akan meningkatan perannya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan menyemarakkan kehidupan kampus. Di samping itu, tingginya publikasi karya ilmiah akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi.