Grafik diksetara 0Dalam sejarah pendidikan Kesetaraan telah mengalami 3 (tiga) fase perkembangan sesuai dengan prioritas yang hendak dicapai.

  1. Periode pertama tahun 1945 hingga tahun 1990 program yang dijalankan adalah program pemberantasan buta huruf, keaksaraan fungsional, model pertama pemberantasan buta huruf dengan program Paket A.
  2. Periode kedua tahun 1991 hingga tahun 2004 yaitu pengembangan Paket A, dan Paket B dengan hasil ujian nasional pertama untuk Paket A dan Paket B setara SMP; pelaksanaan ujian nasional Paket C setara SMA/ MA; dan dicantumkannya pendidikan kesetaraan dalam Undang-undang Sisdiknas Tahun 2003. Hasilnya pendidikan kesetaraan Paket A dan Paket B menyukseskan wajar pendidikan dasar 9 tahun dan peserta ujian nasional Paket C meningkat sampai 50% serta pelatihan tutor dan master training; dan pada periode ini juga ada pengesahan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan perluasan akses lintas departemen hasilnya pengintegrasian kurikulum kecakapan hidup, pengembangan Paket B plus voucher untuk pemuda penganggur dan perjanjian kesepakatan (MoU) dengan Departemen Pertanian, Departemen Agama, Departemen Kelautan, Departemen Kehakiman dan HAM.
  3. Periode ketiga antara tahun 2005 sampai 2008 diarahkan pada pendidikan kesetaraan, dengan menyelenggarakan proses pembelajaran yang berorientasi pada pencapaian standar kompetensi lulusan (SKL) dengan tiga pendekatan yaitu: materi ajar, yang bermuatan literacy dan life skill, pengorganisasian materi secara tematik, proses pembelajaran yang bersifat induktif dan penilaian kompetensi.

Pada periode ini juga dikembangkan layanan pendidikan kesetaraan dalam bentuk diversifikasi layanan pendidikan kesetaraan

  1. Pangkalan belajar, yaitu sistem pelayanan pendidikan kesetaraan yang menghubungkan antara pangkalan (homebased) dengan daerah daerah penyangga (hinterland) pada kawasan khusus, seperti kawasan perbatasan, dan pulau kecil.
  2. Pembelajaran langsung, yaitu model layanan pembelajaran yang dilakukan secara langsung.
  3. Lumbung Sumber Daya, yang berorientasi basis komunitas.
  4. Layanan Pendidikan bergerak (mobile education service) atau Kelas Berjalan (Mobile Classroom), merupakan pelayanan pendidikan dengan sistem jemput bola (door to door) yang dilakukan oleh tutor pada peserta didik dari satu tempat ke tempat yang lain.
  5. E-Learning, yaitu pembelajaran pendidikan kesetaraan secara online (e-learning) sebagai alternatif bagi peserta didik yang relatif sulit untuk bertemu langsung

Perkembangan sasaran program kesetaraan

Perkembangan sasaran program seperti halnya kebijakan pendidikan kesetaraan dirangkum dalam tiga periode, yaitu:

  1. Periode pertama tahun 1945 hingga tahun 1990 secara rinci adalah sebagai berikut: (1) 1945-1965 program pemberantasan buta huruf, hasil/produknya adalah sebagian besar peduduk Indonesia mengetahui alfabet dan dapat menulis nama mereka sendiri dan memahami kalimat-kalimat sederhana; (2) 1966-1977, keaksaraan fungsional, hasil/produknya adalah keterampilan membaca dan menulis; dan (3) 1971-1990 yaitu model pertama pemberantasan buta huruf dengan program Paket A. Dua hasil atau produk yang dicapai adalah menurunkan jumlah buta aksara 46,49 juta pada tahun 1971 menjadi 45,76 juta tahun 1980 dan tahun 1990 menurunkan hingga 37,67 juta.
  2. Periode kedua tahun 1991 hingga tahun 2004. Sejak tahun 1991 hingga 2003 Pendidikan Kesetaraan program Paket A, Paket B, dan Paket C berperan secara signifikan, ditunjukkan bahwa pada tahun 1997 dilaksanakan Ujian Nasional, yang pertama untuk Paket A dan Paket B, kemudian pada tahun 2001 dilakukan Ujian Nasional pertama untuk program Paket C. Pada tahun 2004 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah siswa putus sekolah atau tidak melanjutkan pada rentang usia 7 s.d. 22 tahun untuk SD berjumlah 4.244.204 siswa, SMP berjumlah 3.431.523 siswa, dan SMA berjumlah 4.978.307 siswa. Lebih rinci dapat dilihat pada grafik berikut ini.
  3. Grafik diksetara 1Periode ketiga antara tahun 2005 sampai 2008.  Tahun 2006 merupakan tahun yang signifikan terhadap penerimaan masyarakat terhadap program Paket A, Paket B, dan Paket C. Hal ini ditunjukkan dengan melonjaknya peserta ujian Paket B dan Paket C yang berasal dari jalur formal karena tidak lulus UN.

Grafik diksetara 2Grafik 2 menunjukkan bahwa pada tahun 2006 terdapat 170.658 orang (55%) lulusan paket B berasal dari jalur Pendidikan Formal dan 90.591 orang (42%) lulusan paket C berasal dari Jalur

Pendidikan Formal. Kemudian pada tahun 2007 lulusan Paket B berasal dari formal meningkat menjadi 232.947 (60%) orang sedangkan lulusan Paket C meningkat menjadi 126.830 orang (43%). Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak telah tampak nyata. Didukung dengan kesempatan berupa bantuan yang diberikan Pemerintah dengan besarnya angka subsidi hendaklah tidak menjadi sia-sia.

Pendidikan kesetaraan berhasil dalam beberapa hal. Pertama, meningkatnya jumlah peserta didik dan lulusan; Kedua, meluasnya keragaman karakteristik sasaran program; Ketiga, meluasnya jang kauan akses pendidikan kesetaraan; Keempat, meningkatnya rata-rata nilai hasil ujian nasional; Kelima, bervariasinya satuan pendidikan program Paket A, Paket B, dan Paket C; Keenam, berkembangnya inovasi pendidikan kesetaraan, termasuk model jemput bola dan sekolah rumah (homeschooling) dan e-home schooling; Ketujuh meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pendidikan kesetaraan akibat keterlibatan berbagai pihak (legislatif, selebriti, tokoh agama, pegiat) dalam sosialisasi pendidikan kesetaraan.

Sejak 1 Januari 2011 pendidikan kesetaraan dikelola oleh Ditjen Pendidikan Dasar (Paket A dan Paket B) dan Ditjen Pendidikan Menengah (Paket C).

Sumber:

Direktorat Pendidikan Kesetaraan, 2010. Trend Pendidikan Kesetaraan. Jakarta: Ditjen PNFI Depdiknas