pepaya Calina 3Yogyakarta (20/08) Sekarang jika kita menyusuri jalur selatan Kebumen Jawa Tengah, yang dikenal juga dengan jalu Daendles, akan banyak menjumpai pohon pepaya yang tingginya hanya 2 sampai 2,5 meter sudah berbuah. Sejauh mata memandang di kiri kanan jalan jalur selatan di wilayah Buluspesantren, Puring dan Mirit banya dijumpai kebun pepaya California. Pepaya California kini berhasil mengangkat kesejahteraan masyarakat pesisir selatan Kebumen yang dulu terkenal sebagai daerah miskin.

Pepaya California atau pepaya Calina namanya memang berbau luar negeri, tapi sejatinya merupakan pepaya varietas asli Indonesia. Pepaya jenis Calina sendiri dikembangkan peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Sriani Sujiprihati dan beberapa dosen IPB. Dari 50 jenis buah pepaya yang diseleksi, dihasilkan beberapa varietas pepaya unggulan. Salah satunya pepaya Calina atau IPB-9 yang saat ini banyak ditanam petani di kawasan Kebumen Jawa Tengah.

Rasa daging pepaya Calina cukup manis (10-11 brix) serta tidak terlalu lembek. Buah ini sangat tepat disandingkan dengan menu-menu restoran dan hotel berbintang. Aroma buah ini harum dan segar, tak seperti pepaya jenis lain. Yang terpenting, tidak mengandung pengawet seperti buah impor.

Tanah pesisir selatan Kebumen secara teknis memenuhi persyaratan untuk tanaman pepaya, baik dari sisi kondisi air maupun aspek lingkungannya. Tekstur tanah tidak terlalu lembab karena dekat pantai, tetapi air tanahnya juga tidak asin dan selalu keluar sepanjang musim jika dibor.

Pasalnya, pepaya jenis Calina yang merupakan pengembangan dari jenis California tidak cocok hidup di tanah yang lembab. Akan tetapi, jenis pepaya ini tetap butuh pengairan rutin. Keunggulan lainnya, buah ini tidak mengenal musim sehingga petani dapat terus panen. Tiap buah baru semburat warna kuning, sudah bisa dipanen.

pepaya Calina 2Di sepanjang jalur pantai selatan Kebumen (jalur Daendles) banyak lapak yang menjajakan pepaya California atau Calina ini dengan harga Rp.2.500,00 sampai dengan Rp.3.000 per kg. Hari itu saya membeli dari bu Pariyem salah satu petani dan pemilik kebun pepaya di sebelah timur Desa Mirit, Kecamatan Mirit, Kebumen. Empat buah pepaya segar hanya membayar Rp. 10.000

Bu Pariyem (52 tahun) salah satu dari puluhan petani rakyat yang membudidayakan pepaya Calina dan mendapatkan berkah kemakmuran dari pepaya. Pemilik 400 batang pepaya setiap bulan mampu menghasilkan 4 ton pepaya yang dipanen setiap 10 hari. Hasil panen dijual ke pengepul dengan harga Rp. 2.500 per kg. Harga jual pepaya calina termasuk stabil hingga saat ini. Di samping menjual ke pengepul bu Pariyem yang sudah menanam sejak setahun lalu juga menjual eceran dengan membuka lapak di pinggir jalur pantai selatan Kebumen, di sebelah timur Desa Mirit. Setiap hari paling tidak bisa menjual rata-rata Rp. 100.000, penghasilan yang tidak pernah diperoleh sebelum petani pantai selatan Kebumen berkebun pepaya.

Pepaya Calina saat ini sudah banyak yang diekspor. Sejumlah negara, seperti Singapura, Dubai, Hongkong dan Uni Emirat Arab, sangat menggemari buah manis ini. Sebab, kendati pengiriman dengan kapal memakan waktu 28 hari, pepaya ini tidak akan busuk. Saat ini sekitar 10 persen produksi pepaya petani Kebumen mampu tembus pasar ekspor. Potensi pasar lokal juga terus tumbuh.

Jika Sleman terkenal dengan buah Salak, kini Kebumen mulai terkenal dengan pepaya California atau pepaya Calina. Pepaya Calina yang sejatinya varietas asli Indonesia mulai memakmurkan masyarakat pesisir selatan Kebumen. Jika kita berjalan dari arah barat, sehabis menyantap kuliner sate Ambal maka kita akan disuguhi hidangan penutup pepaya Calina di daerah Mirit Kebumen.