Penulisan Nilai Ijazah Pendidikan Kesetaraan Tahun Pelajaran 2019/2020

Yogyakarta (26/04/2020) Berdasarkan surat edaran Mendikbud nomor 4 Tahun 2020 ujian nasional tahun ini dibatalkan, bahkan satuan pendidikan yang belum menyelenggarakan ujian satuan pendidikan dilarang mengadakan ujian dengan cara mengumpulkan peserta didik. Termasuk SKB/PKBM tidak bisa menyelenggarakan ujian pendidikan kesetaraan dalam bentuk mengumpulkan peserta didik, kecuali dilakukan dengan cara daring atau online. Jika satuan pendidikan satuan pendidikan tidak bisa menyelenggarakan ujian secara daring, maka penentuan kelulusan menggunakan nilai rata-rata rapor.

Kondisi di atas tidak terlepas dari pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa tanggap darurat Covid-19. Kemudian bagaimana penulisan nilai pada ijazah pendidikan kesetaraan?

Peraturan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2020 digunakan sebagai acuan pengisian atau penulisan blangko ijazah, peraturan tersebut sebenarnya sudah didahului dengan Persesjen Nomor 2 Tahun 2020 tentang Spesifikasi Teknis, Bentuk, dan Tata Cara Pengisian Blangko Ijazah Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2020. Jadi Persesjen Nomor 5 ini merupakan perubahan dari Persesjen Nomor 2 yang terbit pada tanggal 5 Maret 2020 sebelum menyatakan adanya tanggap darurat wabah Covid-19 yang menyebabkan ujian nasional dibatalkan berdasarkan surat edaran nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Tanggap Darurat Penyebaran Covid-19.

Karena itu peraturan mengenai penulisan ijazah kemudian mengalami perubahan karena tidak ada ujian nasional dan boleh jadi satuan pendidikan hanya menggunakan nilai rata-rata rapor sebagai nilai kelulusan. Padahal pada Persesjen Nomor 2 Tahun 2020 ada dua kolom nilai pada halaman belakang ijazah yaitu nilai rata-rata rapor (nilai derajad kompetensi untuk pendidikan kesetaraan) dan nilai ujian pendidikan kesetaraan. Kemudian diubah hanya satu kolom yaitu nilai ujian pendidikan kesetaraan sebagaimana diatur dalam Persesjen Nomor 5 Tahun 2020.

Sebelum dijelaskan cara menuliskan nilai pada ijazah pendidikan kesetaraan, perlu disampaikan bahwa mata pelajaran yang tertulis dalam blangko halaman belakang ijazah adalah mata pelajaran struktur kurikulum lama. Bukan mata pelajaran pada kurikulum 2013, karena pada tahun pelajaran ini pendidikan kesetaraan belum meluluskan peserta didik yang menggunakan kurikulum 2013. Pendidikan kesetaraan paling cepat tahun depat baru meluluskan peserta didik yang menggunakan kurikulum 2013, karena saat ini rombongan belajar yang menggunakan kurikulum 2013 masih duduk di kelas setara V, VIII dan XI.

Cara menulis nilai pada ijazah pendidikan kesetaraan tahun ini sudah tertuang di dalam Persesjen Nomor 5 Tahun 2020 pada halaman 77 dan halaman 78. Seperti sudah disampaikan hanya terdapat satu kolom nilai pada ijazah tahun ini yaitu nilai ujian pendidikan kesetaraan.

Nilai ujian pendidikan kesetaraan merupakan kombinasi pembobotan antara rata-rata raport nilai enam semester terakhir Paket A Paket B atau Paket C, dan nilai hasil ujian pendidikan kesetaraan. Bobot nilai raport dan hasil ujian pendidikan kesetaraan ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan. (40% nilai rapor 60% nilai UPK atau 30% nilai rapor 70% nilai UPK).

Bagi satuan pendidikan yang tidak melaksanakan ujian pendidikan kesetaraan karena pandemi covid-19, maka nilai ujian pendidikan kesetaraan diperoleh dari kombinasi rata-rata nilai rapor lima semester terakhir dan nilai semester genap pada akhir tahun  pelajaran. Dengan komposisi atau bobot rata-rata nilai semester dan nilai semester 6 diserahkan kepada satuan pendidikan seperti pembobotan di atas tadi.

Ketentuan pembobotan tersebut dituangkan dalam Pedoman Operasional Standar (POS) UPK. Di samping ketentuan pembobotan POS UPK juga memuat nilai batas kelulusan. Batas nilai kelulusan tidak ada acuan secara nasional. Masih ada yang bertanya apakah ada ketentuan batas minimal lulus yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tidak ada acuan regulasi berbentuk peraturan atau surat edaran yang menentukan batas lulus minimal. Batas lulus minimal ditentukan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan kriteria ketuntasan minimal setiap mata pelajaran serta konsep penilaian hasil belajar.

Misalnya ditentukan kriteria batas lulus (1) rata-rata nilai mata pelajaran minimal 60; (2) mata pelajaran Pendidikan Agama dan PPkn minimal 70 dan (3) mata pelajaran yang nilainya di bawah 60 maksimal dua mata pelajaran. Contoh batas kelulusan tersebut dituangkan dalam POS UPK yang menjadi acuan ketika menentukan kelulusan peserta didik.

Ketentuan Pembulatan

Selanjutnya penulisan nilai mata pelajaran ijazah ditulis dalam bilangan bulat dalam skala 1-100. Karena nilai ijazah setiap mata pelajaran merupakan pembobotan maka bisa terjadi hasilnya memiliki bilangan desimal di belakang koma. Jika ada hasil bilangan desimal maka dilakukan dengan pembulatan. Contoh pembulatan sebagai berikut: 83,4 dibulatkan menjadi 83. Nilai 83,5 dibulatkan menjadi 84, dan nilai 83,6 dibulatkan menjadi 84.

Pada baris paling bawah pada nilai ijazah tercantum sel Rata-rata. Rata-rata yang dimaksud adalah rata-rata nilai akhir keseluruhan mata pelajaran. Nah pada nilai rata-rata ini bisa ditulis dengan bilangan desimal maksimal dua angka di belakang koma.

Sesuai ketentuan Persesjen Nomor 5 Tahun 2020 satuan pendidikan wajib menerbitkan surat keterangan lulus dengan mencantumkan nilai. Pertama yang perlu dipahami adalah nilai yang dicantumkan adalah sama dengan nilai yang akan ditulis di ijazah. Bukan nilai lainnya atau nilai yang berbeda. Kedua, tanggal surat keterangan lulus sama dengan tanggal pengumuman kelulusan yaitu Paket C tanggal 2 Mei 2020, Paket B tanggal 5 Juni 2020 dan Paket A tanggal 15 Juni 2020. [fauziep]

3 tanggapan pada “Penulisan Nilai Ijazah Pendidikan Kesetaraan Tahun Pelajaran 2019/2020”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.