Ibrahim (3)Yogyakarta (20/02) Badannya gendut, hampir 100 kg kira-kira beratnya. Usianya sekitar 12 tahun. Sejak saya naik bus ‘Maju Makmur’ jurusan Semarang dari kota Wonosobo pada malam itu (18/02),  dia teriak-teriak layaknya seorang kernet, ikut membantu kernet bus. Dari suaranya ketahuan jika masih masuk kategori usia anak-anak, remaja saja belum. Teriakannya tidak bisa menipu bahwa dia masih anak-anak, tapi nampak fasih berteriak menjalankan tugas bak kernet bus.

Selepas Kertek saya jadi tahu jika dia sebenarnya adalah anak jalanan. Bukan kernet, bukan pula anak kernet. Saya simpulkan sebagai anak jalanan karena dia tidak punya tempat tinggal yang tetap. Sehari-hari hidupnya ya di bus. Ya di jalan, sebenar-benarnya di jalanan. Karena sehari-hari berada di atas bus yang berjalan di jalanan antara Semarang-Wonosobo-Purwokerto, Purwokerto- Wonosobo-Semarang.

Namanya Mohammad Ibrahim Santosa, begitu pengakuannya. Ibra, begitu dia dipanggil, sudah menjalani hidup di atas bus selama satu setengah tahun. Tutur katanya masih polos. Walaupun dia mengaku berusia 15 tahun, tapi saya tetap yakin dari raut muka dan gaya bicaranya kalau usianya masih sekitar 12 tahun.

Ibra berasal dari Bantul. Dia menyebut kalau rumahnya dekat Makam Raja Mataram. ‘’Imogiri?’’ saya sebut nama daerah itu, dia mengangguk.

Ibrahim (7)‘’Lalu mengapa ikut bus dan cari uang seperti ini?’’ tanya saya. Karena selepas Kertek, kota kecamatan sebelah timur Wonosobo, Ibra menyerahkan selembar kertas kepada setiap penumpang. Sambil bernyanyi dengan suara yang parau. Tapi badan yang gendut dan menggemaskan justru membuat iba penumpang memberi uang. Jadi lain kata, Ibra melakukan ‘pekerjaan’ mengemis malam itu. Dengan polos dia mengatakan bahwa pengin punya uang untuk beli HP.

Ketika ditanya lebih jauh perihal keluarganya, tidak ada perasaan sedih yang menyeruak dari raut wajahnya. Dengan enteng ia menjawab ibunya tidak tahu jika ia menggelandang. Ah, kasihan kau ini Ibra. Pastilah kau ini korban dari keadaan. Namun ditanya lebih lanjut tidak ada data yang bisa diungkap kenapa ia bisa lepas dan bebas dari bimbingan kedua orangtuanya. Dan hidup di atas bus. Hidup dalam kehidupan yang keras. Menurut penuturan kernet bus, kedua orang tuanya broken home. Ah…

Ibrahim (15)Dari bus yang kursinya berisi separoh malam itu, Ibra mendapatkan ‘penghasilan’ sebesar Rp, 22.000,00 Hasil yang lumayan, karena penumpang sepi. Itu pun baru satu kali tarikan. Padahal dalam satu trip bisa paling tidak dua tiga kali ‘mengemis’. Ketika saya tanya ‘’Berapa pendapatan rata-rata tiap hari?’’. Dijawab tidak pasti. Namun katanya jika sedang mujur bisa mencapai minimal seratus ribu sehari. Wowww!?! Kalau praktek tiap hari hampir sama dengan penghasilan PNS golongan III.

Ketika saya tanya buat apa uang sebanyak itu?

Jawabannya normatif, ‘’Untuk ibu saya, saya kirimkan via pos’’.

‘’Jadi ibumu tahu donk kalau kamu kerja?’’ timpalku.

‘’Yang kirim khan pak lik (paman)’’ kata Ibra.

Jawaban yang masih meragukan bagi saya. Namun katanya dia juga sedang menabung, uang yang berhasil disisihkan dititipkan saudaranya dan jumlahnya sudah mencapai lima ratus ribu rupiah. Uang itu dikumpulkan untuk membeli hp kelak. Mudah-mudahan kau tidak dikadali atau ditipu saja ibra.

Pengakuannya, Ibra sudah lulus SD. Namun ketika saya tanya apa tidak pengin meneruskan sekolah seperti anak-anak lainnya. Jawabannya malah ngelantur kesana kemari. Intinya tidak tertarik lagi sekolah. Baginya sekolah nampaknya beban. Ibra sudah menikmati dunianya sebagai anak jalanan. Menikmati mendapatkan uang dengan cara mudah tanpa harus susah belajar.

Saya melihat keadaan yang anomali. Ketika negara sudah menetapkan ketentuan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dan memiliki berbagai sumber daya untuk melakukan itu, namun masih ada anak bangsa yang tidak tersentuh oleh kebijakan tersebut. Saya yakin masih banyak Ibra-Ibra lainnya di jalanan.

Hanya relawan dan semangat pengabdian yang bisa mengajak seorang Ibra untuk menempuh pendidikan. Namun dimasukkan ke sekolah jelas sulit, karena Ibra sudah asyik dengan dunianya. Alternatif yang bisa ditempuh adalah dengan program Kejar Paket B. Saya jadi teringat dengan program pendidikan kesetaraan (Paket B) yang menampung pemulung dan pengamen Sanggar Kegiatan Belajar Jakarta Timur. Juga pendidikan kesetaraan binaan SKB Kota Semarang.

Persoalannya, di kedua lokasi itu program pendidikan kesetaraan menampung pemulung, pengamen dan anak jalanan yang bermukim. Sementara itu banyak anak jalanan yang melakukan aktivitas bergerak, alias tidak bermukim sehingga sulit untuk diakomodasi pada satu lokasi. Karena itulah perlu adanya relawan yang bersedia melakukan sekolahrumah bagi anak-anak seperti Ibra ini. Siapa yang mau?