Sumber: Koran Sindo Jatim

Sumber Foto: Koran Sindo Jatim

Yogyakarta (19/04) Pengawas satuan pendidikan yang berasal dari perguruan tinggi negeri terbukti ampuh dalam mengawasi jalannya ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) Paket C agar jujur dan bermartabat. Pada pelaksanaan hari kedua UNPK (16/04) pengawas satuan pendidikan yang berasal Universitas Airlangga (Unair) mencurigai adanya praktik joki dalam pelaksanaan ujian kejar paket C di Ponpes Alya’un Najwa di Dusun Singkil, Desa Mentoro, Kecamatan Soko, Kabupaten  Tuban Jawa Timur. Sebab, pengawas menemukan kartu peserta UN kejar paket C yang beridentitas perempuan ternyata dikerjakan peserta pria.

Pengawas satuan pendidikan lalu melaporkan kejadian itu pada polisi dan Dinas Pendidikan Kabupaten Tuban. Mendapatkan laporan itu, polisi bergerak dan pada Selasa (17/04) sekitar pukul 24.00 WIB langsung menangkap 20 orang yang berperan sebagai joki. Sebagian besar pelaku joki ini adalah para santri yang pernah belajar di Ponpes Alya’un Najwa tersebut. Selain itu, polisi juga menangkap Ketua Yayasan Ponpes Alya’un Najwa berinisial IE.

Koran Sindo melaporkan, para pelaku joki dan IE diperiksa di Polres Tuban sejak subuh hingga siang kemarin. Menurut Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP Wahyu Hidayat, 20 pelaku joki UNPK Paket C itu semuanya masih anak-anak. Usianya sekitar 15-16 tahun. “Mereka diiming-imingi mendapatkan imbalan sebesar Rp10.000 oleh IE jika mau menjadi joki UN itu. Tetapi, imbalan itu belum sempat diberikan,” ujar Wahyu Hidayat, kemarin.

Setelah menjalani pemeriksaan, 20 joki hanya dijadikan saksi dan diperbolehkan pulang. Namun, mereka mendapatkan pembinaan khusus. Selain itu, mereka akan dijadikan saksi dalam kasus joki UNPK Paket C tersebut. Sedangkan, IE ditetapkan sebagai tersangka dan terhitung sejak kemarin ditahan di Polres Bojonegoro. “IE ini yang menjadi otak praktek joki UNPK Paket C tersebut,” terang Wahyu Hidayat. Selain itu, polisi mengamankan sejumlah barang bukti.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tuban, Sutrisno, mengaku terkejut dengan kejadian praktik joki UN kejar paket C di Ponpes Alya’un Najwa tersebut. “Kejadian praktik joki UN kejar paket C itu sungguh tidak kami duga,” ujarnya, kemarin. Sutrisno mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi seluruh penyelenggaraan ujian kejar paket C yang diselenggarakan oleh pondok pesantren maupun Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Tuban.

Walau sebagian pengelola Kejar Paket C merasakan pengawasan UNPK kali ini terlalu berlebihan, namun terbukti bahwa keberadaan pengawas satuan pendidikan mampu mengeliminir praktek curang dalam UNPK. Ketika kebijakan 20 paket soal diterapkan, penyelenggara Paket C akan mencari modus lain untuk mensukseskan peserta didik agar bisa lulus ujian nasional.

Seharusnya kebijakan UNPK tahun ini dijadikan titik awal perubahan menuju penyelenggaraan Kejar Paket C yang lebih berkualitas. Dan menjadikan Kejar Paket C lebih bermartabat.