Ist

Ist

Yogyakarta (27/01/2014) Presiden Susilo Bambang Yudoyono kemarin, 26 Januari 2014 di Jakarta, mencanangkan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalulintas. Gerakan ini menjadi mendesak karena setiap hari 84 nyawa melayang sia-sia di jalan raya atau rata-rata setiap jam 3 orang meninggal di jalan raya. Hal itu terjadi karena kedisiplinan berlalu-lintas yang masih rendah.

Pencanangan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalulintas juga dilakukan secara serentak di seluruh tanah air. Harapannya gerakan ini menjadi budaya keselamatan di jalan raya. Namun dikhawatirkan pencanangan yang dilaksanakan hanya akan berhenti sebatas acara protokoler. Di jalan perilaku pengendara tidak ada perubahan. Tetap saling serobot, melanggar rambu lalu lintas dan tidak disiplin di jalan.

Karena itu Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalulintas harus diimbangi dengan penegakan hukum terhadap pelanggar lalu lintas. Budaya lalu lintas tidak akan menjadi budaya dan kebutuhan jika masyarakat pengguna jalan tidak dibiasakan. Cara pembiasaan yang paling efektif, melihat kondisi saat ini, adalah dengan penegakan hukum. Memberi sanksi yang tegas kepada pelanggar lalu lintas. Di sisi lain Polisi Lalu Lintas harus kuat iman tidak tergiur dengan tawaran masyarakat untuk mengajak damai ketika terbelit kasus pelanggaran.

Penegakan hukum dianggap merupakan langkah yang tepat untuk membudayakan disiplin lalu lintas, untuk membudayakan keselamatan sebagai kebutuhan. Jika tidak diikuti dengan penegakan hukum, dikhawatirkan Gerakan Nasional Pelopor Keselamatan Berlalulintas hanya akan sebatas slogan.