Oleh: Agus Sadid

kalijodoPendahuluan

Gaduh rencana penetiban dan penggusuran warga di kompleks Kali Jodo telah menimbulkan tekanan fisik dan mental bagi para penghuninya. Kesalahan fungsi Kali Jodo dari jalur hijau menjadi pemukiman bahkan berkembang sebagai kegiatan ekonomi menyebabkan Pemprov DKI mengeluarkan kebijakan penertiban. Pemicu lainnya , kompleks Kali Jodo berkembang menjadi kegiatan usaha “remang-remang (café, prostitusi, premanisme, Miras dan Narkoba) semakin menguatkan Pemerintah untuk mensegerakan penertiban dan penggusuran. Warning Gubernur DKI Jakarta bahwa sebelum tanggal 28 Pebruari 2016 Kali Jodo harus steril dari kegiatan baik kependudukan, ekonomi dan jasa, membuat warga Kali Jodo semakin ketar-ketir. Padahal tidak semua warga Kali Jodo berprofesi “hitam”, dan banyak warga asli Kali Jodo yang memiliki SHM.  Kondisi psikologis warga Kali Jodo yang semakin rentan intimidasi dan kekerasan verbalistik, semakin memojokan dan melemahkan mereka. Apakah Negara hadir untuk menghilangkan hak-hak rakyat? Terlepas siapa yang benar siapa yang salah, maka saya menyajikan konsep pengentasan warga Kali Jodo yang lebih manusiawi dan berhati nurani yaitu melalui pendekatan PAUD dan DIKMAS.

Dalam prinsip HAM, bahwa setiap individu berhak memperoleh penghidupan dan kehidupan, untuk meraihnya maka setiap individu bebas menentukan dengan cara apapun sepanjang tidak melanggar hak asasi manusian lainnya. Kehadiran pemerintah seharusnya memfasilitasi rakyat sehingga mereka dapat memperoleh kehdupan dan penghidupan yang layak. Jika prinsip ini diabaikan maka pemerintah telah melanggar HAM dan dapat diajukan kepada Badan Pengadilan HAM Dunia. Konsep kehidupan dan penghidupan berkaitan dengan usaha manusia memberdayakan dirinya sendiri dengan atau tanpa bantuan pemerintah. Sebagai sebuah ekosistem hidup dan penghidupan, maka munculah hubungan simbiosis ekonomi sehingga terjalin saling ketergantungan. Hidupnya ekosistem ini telah mendorong pemerintah untuk menggelontorkan berbagai program pemberdayaan sehingga kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik. Hal yang sama terjadi di Kali Jodo, bagaimana eksosistem yang telah terbangun, interrelasi ekonomi yang telah terbentuk dan simbiosis kehidupan yang bertahun-tahun telah terjadi kini harus dikoyak, dirusak, diputus, yang justru pelaku perusak, pemutus  dan pemghancur tersebut adalah pemerintah itu sendiri. Saya tidak sedang membahas konstruk hukum atas tindakan tersebut, tetapi bagaimana menyajikan fakta bahwa pendekatan penertiban, penggusuran yang frontal, represif dan menggunakan kekuatan militer-polisi semakin melukai hati rakyat. Tidak adakah pendekatan yang lebih elegan, beradab dan edukatif?

Kali Jodo dan PAUD dan DIKMAS

Salah satu prinsip pendekatan PAUD dan DIKMAS adalah kelenturan, berbasis masyarakat, dan humanis. PAUD dan DIKMAS merupakan pendekatan yang tidak hanya menyentuh sisi ekonomi, sosial tetapi juga sisi pendidikan. Mengapa dalam kawasan Kali Jodo muncul bisnis prostitusi, Narkoba, Café jasa Mucikari bahkan penjualan manusia (trafficking), salah satu jawabannya adalah pendidikan, ketrampilan dan peradaban yang belum menyentuh mereka.  PAUD dan DIKMAS dapat menjalankan fungsi preventif dan kuratif. Fungsi preventif adalah fungsi pencegahan/ penangkalan. Datangnya para pelaku panjaja seks komersial ke wilayah Kali Jodo tentunya karena konsumen (para hidung belang) banyak mambutuhkan jasa mereka. Maka dengan pendataan yang akurat, akan diperoleh jumlah pasti, by name by address PSK tersebut, kemudian segera program-program PAUD dan DIKMAS masuk misalnya program penyuluhan, program PKM, program PKH, program Kursus Profesi (D1, D2). Melalui program-program pendidikan tersebut disisipkan muatan pembelajaran kepribadian, norma dan agama, orientasi hidup dan kehidupan dan penyiapan masa depan. Sedangkan fungsi kuratif adalah peran nyata yang dapat dimainkan oleh pemerintah melalui PAUD dan DIKMAS. Peran nyata tersebut adalah pendampingan, pengentasan dan pemandirian.

PAUD dan DIKMAS sebagai sebuah pendekatan pemberdayaan sebagaimana diintrodusir oleh W Napitupulu, jarang dikedepankan oleh pemerintah. Lebih sering adalah pendekatan Kemensos melalui program Panti, Rumah Bina Sosial, Warga Binaan, Rumah inggah, Jaring Pengaman Sosial. Pendekatan ini justru memberikan dampak traumatik dan image yang buruk bagi para  warga binaannya, karena orang yang masuk panti atau Bina Sosial pastilah merupakan manusia sampah sosial, pelaku penyakit sosial. Kondisi ini yang tetap menjadikan para alumni binaan Kemensos tetap menjadi warga kelas sosial bawah (inferior) tatkala kembali ke lingkungan masyarakat. Dalam pendekatan PAUD dan DIKMAS, terdapat proses pemanusiaan manusia yang dilakukan secara manusiawi. Apa maksudnya yaitu bahwa dalam pendekatan ini individu sebagai sasaran kegiatan diperlakukan setara dengan lainya, pengakuan atas kompetensi yang dimiliki dan pengakuan harkat martabat manusia sebagai pribadi yang mulia. Program PKM, PKH dan Kursus misalnya sebagai bagian dari sentuhan program pemberdayaan khas PAUD dan DIKMAS. bahwa penentuan jadwal belajar, program belajar, narasumber kegiatan, strategi pembelajaran semua berorientasi pada kebutuhan belajar warga belajar. Proses pembangkitan individu untuk memahami jatidirinya dilakukan melalui kegiatan dialog imajiner dan tetap menjunjung nilai harkat martabat individu tersebut.

PAUD dan DIKMAS yang selama ini akrab dengan dunia PNF adalah nyata. Pendekatan ini bukan menawarkan mimpi dan tindakan retorika. Beragamnya kebutuhan belajar, minat dan ketertarikan warga masyarakat Kali Jodo terhadap jenis pendidikan dan ketrampilan sebagai alat untuk keluar dari “Dunia Hitam” , dapat diwujudkan melalui program yang pro kepada grass roots. Ingatlah bahwa terminologi “Wong Cilik” dalam program Nawa Cita Jokowi-JK bermakna  akar rumput (grass roots). Hal ini linier dengan makna kebutuhan dasar warga belajar, pendidikan berbasis masyarakat yang merupakan “roh-nya” PAUD dan DIKMAS. Mmenguatkan fungsi pelayanan kepada akar rumput hanya dapat dilakukan melalui pendekatan PAUD dan DIKMAS karena karaktersitik program inillah yang sangat pantas dan pas dengan upaya pemerintah mengentaskan dan mengeluarkan warga Kali Jodo dari keterpurukan. Sentuhan PAUD dan DIKMAS akan merubah wajah Kali Jodo lebih “hijau”  dengan pendidkan, ketrampilan dan kemandirian warga masyarakat. Tidak mustahil wajah Kali Jodo akan seperti Doly di Surabaya atau Kramat Tunggak yang sekarang jauh lebih “hijau” dan indah.

Kesimpulan

Kali Jodo merupakan miniatur kompleksnya permasalahan sosial ekonomi, budaya, pendidikan, dan kehidupan di Indoensia. Mencerabut ekosistem yang sudah tumbuh dan berkembang  tidak bisa dilakukan melalui kekerasan. Fungsi represif hanya dilakukan pada Negara yang telah mengabaikan HAM. Sebagai Negara yang menjunjung tinggi HAM (Indonesia salah satu Negara yang ikut meratifikasi HAM) maka pendekatan kemanusiaan, pedekatan yang bersifat preventif dan kuratif menjadi langkah tepat untuk Negara dalam melakukan penertiban, penggusuran atau bahkan operasi kemanusiaan. Sebagai pemerhati pendidikan, saya hanya mengingatkan pemerintah bahwa kita masih memiliki “senjata” ampuh untuk menjaga ekosistem hidup dan penghidupan yang telah ada yaitu melalui pendekatan PAUD dan DIKMAS. sehingga tidak ada satupun yang merasa tersakiti dan menyakiti, mengalami kekerasan dan tindakan tidak berperikemanusiaan.  Mari kita terapkan pendekatan PAUD dan DIKMAS pada aspek penertiban, pemberdayaan dan pemanusiaan manusia. Semoga pemerintah mendengarkan dan mencermati tulisan saya. Trust me, Indonesia akan menjadi lebih baik jika kita semua mengedepankan pendekatan PAUD dan DIKMAS dalam setiap aksinya.

Diklat R and D 053 (2)*) Agus Sadid, M.Pd., pemerhati pendidikan dan pamong belajar SKB Sumbawa.