PKBM Griya MandiriYogyakarta (07/04) Sudah dua hari ini (06-07 April 2013) saya bertemu dengan tutor dan pengelola Paket C di tiga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, yaitu PKBM Griya Mandiri, PKBM Tunas Bakti, dan PKBM Karya Manunggal di Kecamatan Jetis dan Gedongtengen Yogyakarta. Walaupun pertemuan hanya diikuti 12 orang serta dilaksanakan di ruangan yang sederhana namun bersahaja, saya sangat bersemangat.

Bersemangat karena mereka, tutor dan pengelola, sangat antusias berdiskusi seputar pengelolaan dan penyelenggaraan Kejar Paket C. Saking bersemangatnya, rasa capek baru saja melakukan perjalanan dari Banten tidak terasa. Kemarin dari bandara saya langsung menuju ke PKBM Griya Mandiri, ada semangat yang memompa saya untuk melaksanakan tugas pengabdian ini. Yaitu semangat melakukan pencerahan.

Standar isi dan standar proses pendidikan kesetaraan sudah lama ditetapkan oleh pemerintah, namun demikian sampai saat ini implementasi di lapangan masih jauh dari harapan. Dalam menyelenggarakan program Paket C, kita sebenarnya tidak terlalu dituntut kualitas secara kaku, yang lebih penting adalah penyelenggaraan Paket C yang bermartabat. Penyelenggaraan Paket C yang bermartabat akan memandu kita untuk menyelenggarakan Paket C sesuai ketentuan minimal dalam standar isi dan standar proses. Jangan jauh-jauh menyimpanglah.

Karena itulah, para tutor yang mengikuti kegiatan di PKBM Griya Mandiri sangat antusias karena ingin mendapatkan informasi tentang penyelenggaraan Paket C yang benar sesuai dengan khittah-nya. Bukan hanya sekedar menyontek dari persekolahan atau pun hanya asal jalan saja. Diskusi pemetaan satuan kredit kompetensi (SKK) dan beban belajar berbasis tiga pendekatan pembelajaran yaitu tatap muka, tutorial, dan mandiri, menjadi ajang yang menarik untuk disimak oleh peserta. Pada gilirannya peserta merumuskan jadwal pembelajaran berdasarkan pemetaan SKK tersebut. Selama ini mereka belum mendapatkan pemahaman yang benar tentang hal tersebut.

Kegiatan seperti ini sebenarnya juga dilakukan oleh 49 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) penerima bantuan sosial dari Ditjen Pendidikan Menengah. Maka sudah selayaknya PKBM Griya Mandiri diberi apresiasi yang tinggi karena berhasil menyelenggarakan kegiatan dalam bentuk sederhana dan bersahaja namun secara esensial sama dengan yang dilakukan oleh mitranya yang mendapatkan bantuan yang dana yang besar.

Pada akhir kegiatan saya menyanggupi untuk secara rutin dua bulanan memberikan pencerahan kepada PKBM yang diperluas di tiga kecamatan, yaitu Jetis, Gedongtengen dan Tegalrejo. Tidak berbayar alias gratis, selama ada surat permohonan resmi ke kantor. Dengan demikian diharapkan akan tertular virus positif terhadap pemahaman penyelenggaraan Kejar Paket C di kalangan PKBM, yang berujung pada penyelenggaraan Paket C yang bermartabat.