Hari Pemuda 84Yogyakarta (28/10) Hanya dua hari menjelang peringatan Sumpah Pemuda ke-84, bangsa Indonesia dikejutkan dengan kenyataan bahwa kepolisian Republik Indonesia berhasil menangkap 11 terorisme di empat kota. Dari berbagai pemberitaan media massa diketahui bahwa sebelas orang terduga terorisme yang ditangkap semuanya masuk dalam usia pemuda. Bahkan sejak terorisme marak di Indonesia sejak awal 2000-an, pelaku tindak pidana terorisme adalah pemuda usia dua puluhan tahun, bahkan tidak sedikit yang berusia belasan tahun dan masih duduk di bangku sekolah menengah.

Pemuda terlibat atau melibatkan diri ke dalam terorisme tidak terlepas dari ketidakpuasan terhadap sistem politik dan kondisi sosial yang ada. Rasa ketidakpuasan tersebut bisa jadi disebabkan pengaruh indoktrinasi ideologi atau paham tertentu yang menyebabkan pemuda galau dengan kenyataan yang dihadapi. Ketika indoktrinasi oleh pihak tertentu berhasil maka pemuda akan mengambil jarak dan menganggap pemerintah dan pihak asing (AS dan sekutunya) sebagai musuhnya. Dan menjadi halal baginya untuk melakukan tindakan apa pun sebagai upaya untuk mencapai tujuan perjuangannya.

Secara psikologis, dan sejarah membuktikan bahwa dalam diri pemuda sebenarnya terdapat energi perlawanan terhadap ketidakmapanan, ketidakpuasan, dan ketidaknyamanan. Pada setiap generasi, pemuda pasti memiliki perasaan ketidakmapanan, ketidakpuasan, dan ketidaknyamanan terhadap kondisi sosial, ekonomi, budaya dan bangsa yang berbeda-beda. Pada pemuda angkatan generasi sebelumnya (1928, 1945, 1966 dan 1998) memiliki kegalauan yang berbeda-beda, namun ia memiliki musuh bersama pada setiap jamannya sehingga pemuda dapat bersatu.

Ketika pemuda tidak mendapatkan musuh bersama, maka radikalisme akan sangat mudah masuk karena semangat perlawanan yang sejatinya sudah menjadi ideologi pemuda sepanjang masa. Doktrin radikal, baik paham kanan maupun kiri, akan sangat mudah merasuk ke jiwa pemuda. Terlebih jika pemuda mengalami kegalauan yang panjang.

Oleh karena itulah perlu adanya gerakan deradikalisasi di kalangan pemuda. Tanpa berusaha mengurangi atau mengekang sikap kritis dan energi perlawanan pemuda, perlu dilakukan upaya deradikalisasi. Energi perlawanan pemuda perlu disalurkan menjadi energi yang positif sehingga berguna bagi bangsa dan tanah air. Pendidikan kepramukaan, saya lebih suka menyebut dengan pendidikan kepanduan, sebenarnya bisa dijadikan sebagai salah satu pilar gerakan deradikalisasi.

Baden Powell sebagai pencetus pendidikan kepanduan menyebutkan bahwa tujuan latihan kepanduan ialah memperbaiki mutu warga negara pada generasi yang akan datang, terutama karakter dan kesehatannya, mengganti aku dengan bakti membuat anak seorang yang efisien mengabdi pada sesama manusia. Dalam negara yang merdeka orang mudah mengatakan dirinya seorang warga negara yang baik bila ia selalu taat pada undang-undang, mengerjakan pekerjaannya, dan menyatakan pilihan politiknya, olah raga dan kegiatan-kegiatan lain dan menyerahkan kepada negara untuk memikirkan masalah kesejahteraan negara. Menurut Baden Powell keadaan demikian itu adalah warga negara yang pasif, tetapi warga negara yang pasif ini tidak cukup untuk mempertahankan isi kemerdekaan, keadilan dan kehormatan di dunia. Karena itu dibutuhkan juga warga negara yang aktif.

Jika kita simak ide dasar Baden Powell di atas, maka sebenarnya pendidikan kepanduan dapat dijadikan wadah untuk menyemai mutu warga negara yang aktif, yang mampu berperan bagi bangsa dan tanah airnya. Bagi negaranya. Sudah barang tentu orang dewasa yang terlibat dalam pendidikan kepramukaan, yaitu pembina, mampu mengemas kegiatan kepramukaan menjadi menarik dan mampu mengeliminir radikalisme di kalangan pemuda.

Dalam sejarah perkembangan Gerakan Pramuka, sejak tahun 1970-an sempat menjadi gerakan yang masif. Hampir setiap sekolah pasti memiliki Gugusdepan. Namun sayang masifnya pendidikan kepramukaan tidak diikuti dengan terjaganya ideologi kepanduan Baden Powell, yaitu latihan kepramukaan menjadikan generasi pemuda sebagai warga negara yang aktif. Siap menolong siapa pun juga. Ketika hampir di setiap sekolah terdapat pendidikan kepramukaan, namun perkelahian antar pelajar masih marak terjadi, penyalahgunaan narkoba di kalangan pemuda juga semakin menjadi. Dan kini pemuda menjadi pelaku terorisme. Bisa dipastikan mereka pernah sekolah, dan bisa dipastikan pula mereka pernah mengenyam pendidikan kepramukaan. Namun pendidikan kepramukaan yang macam mana?

Karena itulah, jika kita sadar akan pentingnya pendidikan kepramukaan dalam menyemai rasa nasionalisme dan sikap siap sedia menolong siapa pun juga. Paradigma dan ideologi kepanduan-nya Baden Powell harus merasuk pada semua pembina pramuka. Gerakan Pramuka dan pendidikan kepramukaan tidak sekedar ada di setiap sekolah, namun ia harus mampu berperan dalam gerakan deradikalisasi. Yaitu dengan menciptakan kegiatan yang menarik dan memberikan pengalaman belajar yang mengesankan pada diri remaja dan pemuda, sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi oleh radikalisme.

Namun demikian, jika Gerakan Pramuka tidak mampu menyemai remaja dan pemuda dengan baik melalui berbagai kegiatan, program dan kebijakannya, bisa jadi Gerakan Pramuka justru akan menciptakan generasi muda baru yang radikal. Ketidakpuasan terhadap kebijakan dan praktek pendidikan kepramukaan justru bisa memicu munculnya radikalisme baru. Ketika radikalisme masih pada tataran pemikiran, hal tersebut masih ditolerir. Namun ketika radikalisme sudah menjadi tindakan, ini yang berbahaya.

Persoalannya, pendidikan kepramukaan akan melakukan pembiaran sehingga secara tidak disengaja ikut memicu radikalisme atau ikut terlibat dalam gerakan deradikalisasi? Jika ingin bersama masyarakat dan negara membendung radikalisasi dan terorisme, maka pendidikan kepramukaan harus menyelenggarakan kegiatan dan latihan kepanduan secara efektif dan efisien. Kegiatan dan latihan kepanduan yang memberikan makna bagi perkembangan jiwa pemuda. Tidak sekedar tepuk dan menyanyi.